Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

8 Oktober 2014

Antara Ahok dan FPI, Ku berpihak kepada yang baik



Memilih, bukan pekerjaan gampang saat ini. Informasi bersilang-silang dan sering kali kebenaran dijungkirbalikkan. Hanya yang  menyediakan waktu untuk menyimak berita, berpikir dan menganalisisnya lah yang akan peroleh hidayah. Yang tidak…, mereka akan terjebak kepada fanatisme dan kebenaran semu.

Aku berusaha tidak terjebak dalam perseteruan Gubernur Jakarta Ahok dengan Front Pembela Islam (FPI). Namun aku memikirkan mereka sangat sering akhir-akhir ini, bertanya-tanya kepada diriku sendiri dimana aku akan berpihak bila diharuskan memilih.

Ahok seorang kafir dan China, tidak asli Indonesia. Itu poin yang melemahkan dirinya. Bagi kami yang Indonesia asli, Orang China dikenal suka mementingkan diri sendiri. Semakin kaya mereka, bertambah tinggi tembok yang mengitari rumahnya dan bertambah jumlah anjing galak yang dipelihara. Tapi kok Ahok beda? Dia keras kepada semua orang yang nyeleweng dari tugas dan tanggung jawabnya. Dia bersimpati kepada masyarakat yang sering diabaikan atau dipalak oleh pegawai pemerintah. Dia tidak (belum tersangkut) korupsi. Gak banyak pejabat pemerintah daerah seperti dia saat ini.

Berbeda dengan orang-orang FPI, mereka muslim semua. Sama dengan agama yang kuanut. Pimpinan dan tokoh pentingnya keturunan Arab, juga tidak asli Indonesia. Mereka berwatak keras (sama seperti Ahok), suka melabrak karaoke, tempat judi dan tempat maksiat lainnya. Mereka juga suka malabrak siapa saja, bahkan pemerintah, jika menentang agenda mereka.

Banyak yang takut FPI kalau mereka sudah mulai berkumpul, teriak-teriak dan memukul-mukul. Disitu lah aku mulai tidak sepaham dengan tindakan mereka. FPI bukan hukum, walau mereka merasa pandangan hidup mereka paling benar. Di negara yang multi kultur dan agama, serta punya pemerintahan yang sah, menurutku FPI tidak boleh menjadi hakim untuk orang lain. Siapa yang menunjuk mereka menjalankan peran itu? Tidak ada! Apalagi jika benar mereka bisa dibayar untuk melindungi seseorang atau untuk menghujat orang lain. Hukum dan kebenaran tidak boleh diperdagangkan bukan…?

Memilih antara Ahok dan FPI, aku membayangkan diriku berada di tengah adik-adikku. Jika mereka benar, aku akan membela mereka. Namun jika mereka suka mencuri uangku, atau menekanku dengan kehendak-kehendak yang liar, apakah aku akan terus mencintai mereka?


Agama Islam mengatakan Allah menilai seseorang dari imannya. Bukan dari ras atau keunggulan pribadi seseorang. Dalam masyarakat yang majemuk, prinsip Allah itu amat relevan. Seseorang akan dinilai lebih tinggi, dihargai dan dipihaki jika ia membawa manfaat banyak bagi orang lain. Sedangkan bagi yang suka bikin rusuh, yah… ke laut aja!


6 Oktober 2014

Yang terlihat di luar, tidak sama dengan yang di dalam

SEORANG teman dekat menasehatiku, "Jangan cepat menilai dari penampilan luar seseorang. Belum tentu ia seburuk itu ..." katanya dengan setengah menggoda dan sedikit nada menghakimi. Sebelumnya ia berkata aku  terlalu cepat memutuskan ketika melihat sikap negatif seseorang.

Dia mungkin benar ..., tapi bisa juga salah. Apalagi yang kami perbincangkan saat itu tentang situasi politik akhir-akhir ini, tentang pergulatan di parlemen, arena yang tersisa untuk diperebutkan oleh partai politik di negeri kami.


Seperti kalian tahu, negara kami kembali bergolak. Tahun 1990-an paska jatuhnya Soeharto situasi seperti ini pernah terjadi. Mereka yang mengaku dari golongan reformis mengangkat Gus Dur menjadi presiden, lalu sepakat menjatuhkannya dua tahun kemudian. Amin Rais cs lalu bersekutu menaikkan Megawati, sosok yang mati-matian mereka hindari untuk jadi presiden pada 2 tahun sebelumnya meski partainya memenangkan pemilu. Pelarian pilihan itu pun tak bertahan lama, Mega selalu dicerca sehingga ia menjadi presiden yang di cap gagal karena (dengan izin DPR kala itu) menjual aset negara penting.


Kini hal yang mirip terjadi. Rakyat memilih Jokowi sebagai presiden, unggul tipis (dan mungkin karena itu menjadi sangat menyakitkan) atas Prabowo, seorang mantan jenderal dan anak bangsa yang hidupnya selalu dinaungi keberhasilan. Jokowi tidak disukai oleh kelompok yang tak memilihnya dan pertarungan balas dendam pun berlanjut.


Maka keluarlah komentar saling tuding dan saling bela. Arena berbalas pantun yang membuat masyarakat bingung. Namun tidak bagiku yang dianugerahi Tuhan pikiran kritis dan hati yang istiqamah (Alhamdulillah...). Aku menilai seseorang dari ucapan dan perbuatannya, karena aku tak bisa membaca hati orang lain, apalagi mereka yang bicara rumit dan berputar-putar itu ada di Jakarta.


Dan inilah kesimpulanku. Aku percaya kepada sebagian dari mereka dan menolak menaruh kepercayaan kepada sisanya. Mereka yang tak kupercayai itu terlihat baik, namun ucapannya tak sesuai dengan perbuatannya. Dan itu tidak sekali terjadi, sudah berulang-ulang.


Maka jangan salahkan rakyat bila mengambil keputusan sama denganku. Karena sudah seharusnya apa yang terlihat di luar, sama dengan yang bermukim di dalam hati. Politik memiliki komitmen yang harus dijaga, bukan bermain dengan bola-bola liar yang menyuburkan prasangka dan akhirnya kebencian.


Politik bisa jadi tidak menyebalkan jika dikelola dengan elegan. Itulah hakekat yang sebagian anggota parlemen tidak tahu atau lupa mengkajinya. Atau mungkin sebagian dari mereka tidak layak untuk duduk di sana?


Yah ....mereka harus dipulangkan ke daerahnya kalau begitu. Karena kami tak berkuasa atas hal itu, biar Allah yang mengatur pemulangan mereka!

5 Oktober 2014

Ketika Hari Raya Just Like the Other Days


HARI RAYA –apakah itu Idul Fitri atau Idul Adha– tak terasa lagi indah. Indah yang sebenar-benarnya, yang menyusup hingga ke hati seperti yang kurasakan ketika masih bocah. Aku berangkat tidur pada malam dengan gema takbir sayup yang menghangatkan hati. Dan paginya dibangunkan oleh dingin dan azan milik  subuh sementara Mom di dapur memotong-motong ketupat dan menghangatkan gulai lontong. Aku pun terburu-buru ke sumur, mandi, berbedak wangi dan bersalin pakaian baru. Mom akan senang nanti melihat aku sudah bersih dan siap berangkat ke lapangan untuk shalat. Satu hal kecil dariku yang bisa membuatnya lebih bahagia hari itu.

Tapi anak-anak dan ponakanku? Mereka masih meringkuk tidur, melewatkan shalat subuh. Satu persatu mereka bangun untuk mandi kilat dan mengenakan pakaian menuju masjid. Mereka telah melewatkan hal penting; meninggalkan satu ibadah wajib untuk satu kegiatan sunat. Mereka memaknai hari raya hanya sebagai hari berkumpul keluarga, menikmati hidangan enak, peroleh uang ekstra dan baju baru.

Hari raya membebaskan mereka untuk berbuat yang agama kami tidak menghendakinya. Aku melihat ketidakberdayaan dan mungkin pembolehan atas tingkah laku mereka.

Oh sudahlah…nanti sadar sendiri. Tidak perlu ribut-ribut…ini hari raya, kata orangtua yang satu kepada yang lainnya. Hari raya jangan diusik dengan peringatan tentang tata tertib agama. Ooh begitukah???

Aku menjadi bertanya…, dimana kah kini berada pendidikan komunal, saling ingat dan memperingatkan di tengah kaum kerabat? Kenapa kami para orangtua tidak mampu lagi menegakkan dasar agama itu diantara kami?

Aku melihat kesombongan dan sifat pamer lebih berkuasa dibanding kerendahan hati. Mobil dan gadget baru, promosi jabatan, prestasi sekolah anak-anak….semua hal berlomba diungkapkan. Apakah ini tidak melelahkan? Bukankah semua itu diperoleh dengan cara keras dan penuh perjuangan…mengapa tak dibiarkan keberhasilan-keberhasilan itu menyelinap dengan damai ke semua hati dalam keluarga tanpa perlu banyak berkoar-koar….

Kalau begitu hari raya menjadi tak beda dengan hari-hari lain. Untuk apa kita berkumpul ketika ada hati yang diam-diam gelisah, terpinggirkan atau tidak setuju dengan ke-riya-an itu? Kenapa tak biarkan tawa renyah kita berderai dan kisi-kisi hati yang pernah diobrak-abrik kemarahan bertaut kembali? Semua itu bisa pulih bila kita mau berendah hati. Pada hari besar ini seharusnya anak-anak kita belajar tentang ketulusan antar saudara, bukan sebuah persaingan berkosmetika silaturahim, yang menempatkan seseorang lebih tinggi diantara saudaranya yang lain.

Hari raya seharusnya lebih khusu’…. Tapi aku tak menemukannya lagi. Ia sama dengan hari-hari lain. 

18 Juni 2014

Ketika Jalan Itu Berakhir


Aku bertanya siapakah dirimu?
Seorang dengan kopiah di kepala atau laki-laki berkaos tembaga?

Engkau ada di setiap detik berlalu
Mataku gelap mendaki pikiran yang berkabut
Gundah namun  aku harus terus melangkah

Sebab engkau darah dan nafasku
Hatiku merintih melihatmu merayap dan mengikis sebutir remah ditatap seribu mata
Tidak Nak, aku tak sanggup!

Akankah panas bara  merentang selalu di bawah kakiku?
Dan terik raja merebus keringat di sela rambutmu?
Asaku berpacu menatap dirimu berbaju sutra dan tertawa mutiara
Sungguh ku tak kan minta lainnya

Menatap ke ujung jalan itu, hatiku berbisik lirih
Desau cemara  tak kan bisa menghalau kumbang-kumbang
Sebelum kulihat dirimu tersenyum
Dan kopiah taqwa di kepalamu

(Untuk anakku fathur)

17 Juni 2014

KUTAHU TAK SELAMANYA MENCINTAIMU

Ada kala lidahmu menggores hatiku
Aku menangis seperti seonggok kain di kamar berdebu
Menunggu pagi dan kelabu berganti 
membawa suka cita  burung dan kuncup bunga

Mulialah mereka yang dapat terus mencinta
Menunggu, membelai, menatap bangga
Menaruh diri  di punggung kekasihnya
Aku kira engkau mengharapku begitu 

Tapi bisakah...?

Nalarku sangat lantang bersuara
Seperti petir yang tak sanggup membakar putri malu
Ia hanya bisa menggores kulitmu
Ia bicara mengikuti kebenarannya
Ruhku kelu karena hatiku seiya dengannya

Sukar mencintaimu selamanya!
Tapi maukah kau menerima diriku begitu saja?
Toh kita baik-baik saja kukira
Karena kuyakin cintamu juga begitu

Dan kita tak mahir mencinta meski  ribuan purnama mengajarinya

Bukankah begitu sayangku?
Juni 2014