Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

2 September 2015

Adat Yang Tak Luntur oleh Hujan

Ketika kembali menginjakkan kaki ke tanah leluhurku di Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara, lagu lama ini kembali bersenandung di dalam hati.

O, Tano Batak
haholongakku
Sai namalungun
do au tu ho

Cukup sulit untuk kembali datang ke Padang Bolak; selain karena kesibukan pekerjaan di rantau, jalan yang jelek dan jarak tempuh yang jauh dari Jambi menjadi penghalang untuk sering-sering ke sana. Namun jangan bilang aku tidak rindu! Meskipun kampung ini jauh, tertinggal dan berudara panas, hatiku selalu merindukan bertemu kembali dengan sanak saudaraku yang hangat, yang ekspresif, meskipun tak banyak kebaikan yang bisa kusumbangkan.

Pesta pengukuhan gelar untuk dua orang sepupuku akhirnya menjadi jalan bagi aku dan suami untuk kembali ke Padang Bolak. Di sana, kami menikmati kembali kehadiran orang-orang kampung yang sederhana dan hangat, yang menyambut kami dengan gembira karena tak menyangka kami bisa memenuhi undangan mereka.

Satu hal yang mengesankan dari kunjungan singkat ini adalah adat Tapanuli yang tidak luntur oleh waktu dan hujan (kalo lekang oleh panas sudah biasa toh!). Ini beberapa foto yang menggambarkan antusiasme keluarga kami untuk terus mempertahankan adat budaya leluhur.


Tulisan di atas tikar anyaman di depan rumah menandakan adanya pesta adat.



Acara Penebalan Nama sepupuku ditandai dengan pemotongan kerbau. Karena ada dua orang yang diberi gelar adat, maka kerbau yang dipotong pun harus dua ekor.


Kedua sepupuku dan istri masing-masing, mereka pake kacamata hitam hi...hi...hi. Tapi ini bukan untuk gaya-gayaan lho! Mereka harus duduk di sana semalam suntuk plus dua siang. Jadi, kalo mereka tertidur atau terkantuk-kantuk selama prosesi tersebut, tidak ada yang tahu sebab dilindungi oleh kacamata hitam itu.



Manortor, merupakan tari adat yang ditunggu semua orang. Meski tari ini sederhana namun aturannya ketat dan filosofis. Seorang tetua kampung mengatur siapa yang boleh menari sesuai dengan posisinya dalam keluarga besar kami. Terlihat suamiku di barisan belakang, mengayapi Oppungku yang berada di barisan depan.


Nantulangku di tengah, menortor dengan penuh perasaan. Perjalanan panjang dan sulit telah dilaluinya hingga akhirnya kedua anak laki-lakinya berhasil hidup mapan.


Antrian terlalu panjang untuk menortor, aku dan iparku tidak peroleh tempat. Untungnya kami mendapat kesempatan mendampingi pasangan sepupuku menyaksikan pembantaian kerbau di halaman belakang.


Di Pesta adat ini laki-laki dan perempuan bekerja sesuai dengan posisi masing-masing. Yang perempuan menyiapkan bumbu dan bahan masakan, yang laki-laki memasak di atas tungku besar. Siapa bilang adat patriakhi selalu melemahkan posisi perempuan? Laki-laki ikut kerja juga kok!


Pada acara seperti ini seluruh keluarga besar berkumpul dan tersenyum. Oppung dan Tulangku berpose bersama.


Aku berpose bersama keluarga dari Sipirok. Oppung buyut, Oppung kandung dan Nantulangku adalah perempuan Sipirok yang dinikahi  dan dibawa ke keluarga kami di Padang Bolak.


Kunjungan singkat yang mengesankan. Aku berharap masih banyak kesempatan untuk bertemu mereka lagi. Horas!




21 Juli 2015

Telaga Itu Bernama Terusan Kamang


SEBUAH telaga di kaki Bukit Barisan menjadi tempat rehat yang lumayan menyejukkan mata, terutama oleh warga perantau yang pulang mudik. Telaga yang berlokasi di Jorong Terusan Kecamatan Magek Kabupaten Agam itu dinamai penduduk sekitar dengan Terusan Kamang.

Banyak cerita berbau mistis tentang telaga tersebut. Pada waktu-waktu tertentu, konon air telaga menyusut mendadak, terserap ke dalam sebuah gua di kaki Bukit Barisan. Pada keadaan tersebut, sebagian telaga yang biasanya tergenang air menampakkan pasir di bawahnya.  Puluhan korban jiwa telah melayang akibat terseret air pada kejadian alam tersebut.

Telaga yang luasannya sekitar 10 hektar tersebut juga merupakan sumber penghasilan tambahan bagi penduduk sekitar karena adanya ikan Rinuak atau Pantau yang dihasilkannya. Penduduk juga memperoleh penghasilan tambahan dengan mengantar pengunjung ke daratan di tengah telaga atau berkeliling di sekitar telaga dengan menggunakan sebuah rakit bambu.


Piknik bernuansa alam pedesaan tersebut terasa semakin kental dengan kehadiran puluhan kerbau yang asik merumput di padang penggembalaan yang terhampar hingga ke kaki bukit. ARD.

29 Oktober 2014

Jangan Merasa Hebat Di Media Sosial

Hidup terasa sepi bila tak berinteraksi dengan media sosial. Banyak orang merasa kosong kalau tidak mengupdate foto atau pendapatnya setiap hari, bahkan setiap jam. Sebagian mengupdate statusnya berdasarkan informasi atau pemikiran terbaru yang muncul di benaknya, namun lebih banyak lagi yang sebenarnya tidak punya kebaruan untuk dimunculkan. Hanya kepingin saja agar orang lain lebih tahu tentang dirinya.

Keinginan berlebihan untuk mengaktualisasi diri seringkali menjebak seseorang kepada dosa. Tanpa sadar pengguna media sosial telah berlaku riya, menginformasi hal-hal bagus tentang diri dan keluarganya untuk mendapatkan tanggapan pujian atau setidaknya acungan jempol. Yang lebih tidak bertanggungjawab, karena tak punya hal menarik tentang dirinya untuk diceritakan, lalu mencari cara lain untuk mengisi wajah media sosialnya, misalnya dengan memposting gambar jelek. Kalau gambarnya lucu atau inspiratif sih tidak apa-apa, bisa menambah banyak teman. Anehnya, ada yang menjadi kecanduan memposting gambar jelek dan porno (hasil editan lagi!), tulisan menghina dan mendikreditkan orang lain, bahkan menulis pendapat pribadi yang sifatnya memfitnah dan tidak logis.

Media sosial yang semula dimaksudkan untuk memperbanyak teman akhirnya menjadi arena saling balas kemarahan dan kekasaran serta pamer diri sendiri. Jumlah teman dan kontak bisa saja bertambah tapi deretan ‘musuh’ diantara teman-teman itu, pasti barisannya makin panjang. Hal inilah yang sering tidak disadari oleh pengguna media sosial yang suka memposting ini dan itu.

Jadi… bila sekarang tanggapan atau gambar apapun yang diposting di media sosial bisa dibawa ke ranah hukum, menurut saya itu bagus sekali. Seseorang harus bijaksana mengekspresikan dirinya. Ucapan atau ejekan yang akan membuat orang lain sakit hati dan terhina seharusnya dihindarkan, juga pendapat yang dangkal dan sekterian yang sebenarnya justru menunjukkan kekerdilan diri sendiri.

Dan yang menyulitkan tapi sering dianggap tidak penting adalah bagaimana caranya meminta maaf kepada orang-orang yang dilukai oleh media kita? Ketika menemui korban secara langsung jadi sulit akibat jarak yang jauh terbentang, apakah permintaan maaf di wall (facebook, bbm, dll) bisa menjadi jembatan permintaan maaf? Saya rasa tidak.

Tuhan tidak mengampuni dosa manusia terhadap manusia lain sebelum yang dilukai bersedia memaafkannya. 

Kalau memajang permintaan maaf lahir dan batin di wall kita bisa menjadi penghapus dosa, wuih alangkah mudahnya penghapusan dosa itu! Sama artinya dengan maling yang menguras benda berharga di sebuah rumah, lalu esoknya mengirim surat permintaan maaf dan bilang ia menyesali perbuatannya. Tidak segampang itu kan?

Karenanya jangan merasa hebat ketika memposting sesuatu. Mediamu menunjukkan siapa dirimu.

19 Oktober 2014

Belajar Kerendahan Hati Dari Jokowi

SIKAP rendah hati diajarkan semua agama. Tapi tidak mudah untuk mempraktikkannya karena godaan ego yang selalu ingin memproklamirkan kehebatan diri. Apalagi orang yang rendah hati sering dipandang sebelah mata, disalahtafsirkan sebagai ekspresi rendah diri dan tidak mampu berbuat apa-apa. Rendah hati itu tidak keren.

Dari sekian banyak puja puji untuk Jokowi, bagi saya kerendahan hatinya jauh lebih memikat. Banyak orang yang lebih pintar dari Jokowi. Yang lebih ganteng…hmm lebih banyak lagi (meski seraya berseloroh Jokowi bilang dirinya tak berbeda jauh ganteng dari artis sinetron Dude Herlino). Ia juga tidak  modis. Tapi soal kerendahan hati, dia amat menonjol.

Tanpa merasa capek, dia mendatangi tokoh bangsa satu persatu. Ia mencium tangan mereka, memeluk, memijat kaki dan mengambilkan kursi untuk mereka dengan spontan. Wajar jika tokoh gaek seperti KH. Hashim Muzadi dan Buya Ma’arif mengungkapkan rasa sayang dan dukungan kepadanya. Jokowi juga tidak keberatan mendatangi dan menyalami lawan politik atau orang-orang yang mencibir, menghina dan mengkritiknya. Semuanya dihadapi dengan ketenangan yang akan sulit  dilakukan oleh orang yang tidak memiliki karakter rendah hati.

Karena itu banyak orang Indonesia  dan dunia yang memperhatikan dan menaruh harapan kepadanya. A new hope – kata mereka. Dia menjadi teman orang miskin dan rakyat jelata dan mulai besok kewenangannya untuk membantu mereka-mereka yang terpinggirkan ini akan semakin besar. 

Apakah sulit menjadi sederhana dan rendah hati? Tidak juga. Bahkan gaya itu jauh lebih pas bagi orang-orang yang penghasilannya tidak banyak. Seperti saya ini! Gaya seperti itu mengurangi beban psikis karena dipaksa ego harus tampil hebat di hadapan orang lain, padahal uang tidak cukup atau prestasi biasa-biasa saja. Bagi mereka yang hidup berlimpah, mungkin akan sedikit sulit tapi kini tidak lagi, ...karena sudah ada contoh bagus di depan mata.

Meski kita masih menunggu apa yang akan dilakukannya untuk mengurangi permasalahan negara ini, setidaknya kita telah menggenggam satu teladan baik darinya. Rendah hati.

                                                             ** V **


11 Oktober 2014

Kemenangan Malala Tidak Disambut Gembira?


Penetapan Malala Yousafzai, 17 tahun, sebagai pemenang Nobel Perdamaian Tahun 2014 -bersama seorang nenek asal India Kailash Satyarthi, 60 tahun- terkesan kurang disambut antusias oleh komunitas negara-negara muslim. Saat Presiden Amerika Serikat dan tokoh Eropa menyampaikan selamat kepada gadis yang selalu mengenakan selendang penutup kepala tersebut, pemimpin negara-negara muslim diam-diam saja. Meski Pemerintah Pakistan lewat Perdana Menterinya Nawaz Syarif menyampaikan kegembiraannya atas penghargaan paling top dunia untuk warganya yang ditembak milisi Al Qoida pada 2012 lalu, masyarakat pakistan sendiri memberi  penilaian kurang simpatik. Sebagian menganggap kemenangan Malala merupakan propaganda negatif negara barat terhadap ketidakberpihakan Islam untuk pendidikan perempuan. Sehingga tidak ada yang perlu dibanggakan dari anugerah tersebut.

Bagi saya, sikap yang mengkerdilkan sebuah kemenangan besar terasa menyedihkan. Jelas Islam tidak begitu. Islam lahir mencerahkan peradaban. Surah pertama yang diturunkan kepada Yang Mulia Nabi Muhammad Salollohi Alaihi Wassalam memerintahkan sang nabi untuk membaca (Iqra!). Bukan perintah berperang atau siasat dari Tuhan untuk menaklukkan kaum kafir. Sejak saat itu, nabi menyeru umatnya untuk banyak membaca, terutama kitab suci Al-Quran dengan janji reward Allah berupa pahala berlipat-lipat.

Lalu mengapa kemenangan Malala dalam memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak dianggap tidak penting? Apakah karena dia perempuan? Salah jika Islam dianggap meremehkan kesempatan perempuan peroleh pendidikan. Buktinya diantara istri nabi, Siti Asyiah radiallahu anhu dan Zaynab binti Jahsh radiallahu anhu merupakan wanita intelektual di zamannya. Mereka ikut merawikan hadis dan aktif mendidik perempuan agar beradab benar.

Kemenangan Malala sesungguhnya adalah pengakuan dunia terhadap semangat umat Islam untuk memperjuangkan nilai-nilai yang dianggap benar dan dibenarkan oleh agamanya. Jika kebetulan kebenaran itu sama dengan keyakinan yang dimiliki oleh dunia barat, maka hal itu tidak seharusnya membuat kita mengecilkan perjuangan Malala.

Kemenangan Malala sekali lagi menunjukkan bahwa nilai Islam (khususnya pendidikan) adalah nilai universal. Islam tidak menginginkan anak-anaknya bodoh meski sekelompok kecil yang berpaham keras dan radikal, menginginkan perempuan tetap berada di rumah dan beradaptasi dengan ruang sempit yang disediakan untuknya. Mayoritas masyarakat Islam menginginkan jalan tengah, pengaturan yang tidak memberatkan namun juga tidak terlalu menggampangkan segala sesuatu. Menyekap perempuan di rumahnya bukan bagian dari jalan tengah itu. Jika kita malu atau emoh mengakui perjuangan Malala, sama artinya kita membenarkan pandangan Barat yang salah tentang Islam.

Ataukah Malala dianggap tidak mewakili muslim karena konon paham keagamaannya yang Ahmadyah? Olala…kalau begitu kita kembali terjebak kepada perpecahan yang membuat  musuh bertepuk tangan.  Saya menjadi ingat seruan seorang tokoh agama Indonesia, agar umat melihat kesamaan diantara kita dan tidak terlalu meributkan perbedaan. Kesamaan akan membuat kita lebih kompak dan mudah menjalin kerjasama. Namun jika selalu bertumpu kepada perbedaan, sampai kapan pun kita tidak bisa jalan bersama.



Apa tidak capek berkonflik terus…? Dan mungkin kita harus rajin-rajin bertanya kepada diri sendiri apakah kualitas keimanan kita sudah berada pada level yang mumpuni sehingga (dirimu) kompeten menilai keimanan orang lain.

--^^--