Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

15 Februari 2016

I Feel Good di Puncak Bromo


APA yang paling mempesona dari Gunung Bromo? Sulit menjawab pertanyaan tersebut karena setiap orang mungkin memiliki kesan yang berbeda tentang gunung yang berada di Kabupaten Prubolinggo Jawa Timur ini. Namun bagi saya, selain keindahan, adalah tantangannya yang membuat saya merasa bangga dan puas sempat memandangnya dari dekat.
Saat kami berangkat ke Prubolinggo dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, sudah terdengar informasi bahwa puncak Bromo ditutup sementara karena sedang erupsi. Sedikit kecewa sebenarnya namun tidak menyurutkan niat kami bertujuh. Apalagi puluhan turis asing berkulit Eropa dan Asia terlihat keluar dari pelabuhan Ketapang. Kami merasa yakin mereka menuju Bromo juga.
Dari Ketapang kami menyewa mobil. Cukup mahal. Hal ini sudah kami duga karena belum ada pelayanan transportasi massal. Serupa lokasi wisata lainnya di Indonesia, biaya transportasi merupakan komponen pengeluaran terbesar. Apalagi jarak Ketapang dan kawasan Bromo cukup jauh – sekitar 6 jam perjalanan menggunakan mobil – dan sulit.
Kami memasuki kawasan gunung berapi aktif tersebut pada tengah malam berkabut. Mobil meliuk-liuk menyusuri jalan sempit, menyusuri rumah penduduk dan kebun sayuran serta pepohonan. Malam itu belum terlalu dingin, masih bisa tertahankan dengan mengenakan jaket atau baju berlapis. Sopir mengantar kami ke sebuah penginapan ketika jam telah lewat 12 malam.
“Silahkan istirahat dulu. Nanti jam empat pagi akan saya bangunkan, lalu diantar mobil jeep ke Seruni Point,” kata penjaga penginapan. Lagi, kami mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk sewa jeep. Tepat seperti yang direncanakan, kami dibangunkan pada dinihari tersebut. Sungguh sebuah perjuangan yang berat karena kondisi badan masih lelah dan mengantuk berat. Tapi demi melihat sunrise di puncak Bromo, kami berangkat dengan terseok-seok.
Sampai di kaki Seruni Point, banyak turis telah mulai mendaki. Turis asing dan lokal dengan puluhan orang-orang dari suku asli Tengger yang menyewakan kuda berkerumun di pemberhentian terakhir mobil jeep. Saya dan suami mencoba mengelak tawaran mereka yang gigih. Mereka terus merayu, mungkin karena mendengar nafas saya yang tersengal-sengal menapaki jalan berbatu, terjal dan licin akibat guyuran hujan.
“Jauh Pak, Ibu…tidak akan kuat. Ayo saya antar,” bujuknya. Ketika tawaran itu kami abaikan, lelaki lain mendekat dan menurunkan tarifnya.
“Lima puluh ribu saja pak…. Ke atas masih jauh, tidak akan kuat,” ucapnya. Akhirnya kami pun tergoda karena mengira puncak Seruni masih jauh. Ternyata hanya berkuda satu putaran, kami harus turun. Di sanalah pemberhentian terakhir kuda. Saya dan suami hanya bisa meringis karena telah ditipu mentah-mentah, namun juga salut atas kegigihan mereka menawarkan kudanya.
Bagi saya yang tidak muda lagi, menapaki sekitar duaratus anak tangga ke puncak pengamatan Bromo di Seruni Point adalah sebuah perjalanan berat. Berlahan semangat untuk tidak mau dikalahkan oleh usia bangkit. Saya bisa! Meski dada terasa berat dan dipenuhi oleh udara dingin yang membuat saya terbatuk-batuk, keinginan untuk sampai di Seruni sebelum pendar matahari muncul, semakin menguat. Uap dingin berpacu keluar, mengepul dari mulut-mulut kami. Syukurillah, akhirnya bisa sampai di puncak bersama puluhan turis lainnya.
Momen-momen menjelang munculnya matahari berlalu dengan sepi. Sebagian berbisik-bisik dengan teman atau pasangannya, yang lain memilih diam dan mengamati dengan tenang. Ketika cahaya matahari mulai berpendar kuat, suara jepretan kamera terdengar di setiap sudut, berlomba mendapatkan latar belakang menarik dari Gunung Bromo dengan asap yang mengepul dari kawahnya.
Berlahan langit mulai terang. Kami pun menuruni Seruni menuju kuda yang menunggu di bawah. Sungguh, menunggangi kuda menuruni jalan yang sempit dan curam adalah pengalaman yang sangat menegangkan. Seakan-akan kaki kuda akan terperosok dan melempar penunggangnya ke dalam jurang. Untungnya saya berhasil mengatasi rasa takut tersebut, bahkan kemudian menikmatinya.
Meski kawasan di tanah berpasir di kaki Bromo ditutup akibat erupsi, orang-orang Tengger menjanjikan mengantar kami ke sana melewati jalan setapak. Jalan tersebut biasa dilewati mereka untuk mengambil rumput makanan kuda. Sekali-sekali kami terpaksa turun dari kuda karena jalannya terlalu licin dan berbahaya.
Begitu sampai di dataran berpasir, perasaan saya terasa meluap-luap oleh sensasi keindahan dan kemenangan. Akhirnya kami berada tidak jauh dari kaki Gunung Bromo. Meski terlarang mendaki puncaknya, kami memberanikan diri mengambil beberapa gambar di dekat Pure Luhur Poten, tempat ibadah Penganut Hindu Tengger.
Ada perasaan puas dan senang yang aneh, serta kedekatan dengan yang Maha Kuasa ketika berada di sana. Sedikit terbawa perasaan…tapi terus terang saya merasa menjadi salah satu orang terpilih ketika itu. Di usia yang tak lagi muda, saya bisa hadir di kawasan Bromo. Itu suatu pencapaian yang luar biasa. Lalu saya ingat…, bumi Allah ini sangat luas. Saat itu pun saya bermohon agar DIA memberi kami umur panjang dan rezeki cukup agar dapat mengunjungi bagian lain dari bumiNya dan merasakan keagunganNya, sebagaimana perasaan saya ketika berada di kawasan Bromo. (Asnelly Ridha Daulay)


Sorga yang Bingar di Gili Terawangan


KETIKA saya mengupdate status di facebook, “Just arrived in Lombok”, seorang teman berkomentar agar tidak melewatkan Pulau Gili Terawangan. Teman-teman lain bahkan dengan detil menyebut objek wisata yang harus saya kunjungi di Pulau Lombok dan sekitarnya. 
“Tenang, kita akan ke sana setelah acara HPN selesai,” jawab suami ketika dengan geli saya melaporkan respon teman-teman tersebut.
Jadi, hari-hari pertama di Mataram kami mengunjungi objek wisata yang dekat-dekat saja seperti Pantai Senggigi, menyapa monyet di Pusuk Pass, singgah sebentar di Pantai Aan dan tentu saja, melihat karya tangan penduduk Lombok yang terkenal; perhiasan mutiara dan tenunannya.
Fathur yang amat keranjingan fotografi mengajak ke bukit Merese yang terletak di seberang Pantai Aan. Hanya saya dan Fathur yang berangkat. Kami pun menyewa kapal untuk menyeberang.
Perjalanan ke Bukit Merese ternyata tidak mudah. Siang itu sangat panas. Hati saya langsung terhibur begitu kapal meninggalkan pantai menuju  laut biru. Tuhan telah menganugerahkan biru yang indah untuk semua laut yang mengitari Pulau Lombok. Sampai di kaki Bukit Merese, kami bertiga menapaki padang rumput tipis dan bergelombang, yang mengingatkan pada scene sebuah film Hollywood. “Seperti di film Jurrascic Park ya Ma?,” kata Fathur mengungkapkan apa yang juga ada di pikiran saya.
Fathur tak kuasa menahan gejolak hatinya untuk segera menemukan sudut terbaik pemotretan. Nyaris lupa bahwa ibunya merangkak tertatih-tatih di belakang. Sadar melenggang sendirian, dia mendekat dan bertanya apakah saya masih bisa melanjutkan pendakian? Tentu saja harus bisa! Sebagaimana Fathur, saya juga amat tertarik dengan pemandangan anyar.
Dan ketika kami membelok mengitari sebuah undukan dan sampai di sebuah dataran, dada kami terkesiap melihat pemandangan di bawah kami. Laut biru membentang hingga ke tepi langit, mengitari bukit-bukit yang lebih rendah dari Merese.

“Mama, inilah keindahan absolut itu,” ucap Fathur nyaris berdesah. Saya pun mengangguk. Teramat indah…indahnya nyungsep ke hati  karena tersaji khusus untuk kami berdua.
Fathur meninggalkan saya di puncak bukit Merese, ditemani kerbau-kerbau yang sedang merumput. Dia dan si pemandu menuju cerukan di bawah, meloncat dari satu batu karang ke batu berikut untuk mengambil gambar-gambar menarik. Sendiri di puncak Merese, saya sempat berpikir alangkah ramainya wisatawan asing yang akan datang jika infrastruktur ke sini dilengkapi. Dengan kondisi jalan yang buruk dan sempit saja, puluhan bule bersepeda motor mau datang, apalagi kalau ada kereta gantung atau kapal pesiar? Tapi, mungkin baik juga jika Merese dan bukit-bukit lainnya dijadikan sebagai lokasi wisata eksklusif, agar alamnya terawat dan tidak berisik
Selesai acara puncak HPN di Pantai Kuta yang dihadiri Presiden Jokowi, kami bertujuh pun berangkat ke Pulau Gili Terawangan. Dari Pelabuhan Bangsal, di tengah hujan rintik kami naik perahu yang dipadati bule dan penduduk lokal serta bertumpuk-tumpuk sayur-sayuran. Wahhh, terjepit seperti pengungsi yang tersingkir dari negerinya. Ini liburan atau penyiksaan sih? Tapi para bule yang duduk di anjungan kapal terlihat santai-santai saja, tak terganggu oleh pemandangan dunia ketiga di hadapan mereka. Bagi mereka mungkin keindahan alam Indonesia plus orang-orangnya yang bersahaja adalah satu paket yang saling melengkapi.
Sore itu Pulau Gili ramai, kegirangan terlihat di wajah-wajah yang melintas. Pulau itu bak sebuah desa yang penduduknya saling mengenal walau pada kenyataannya hampir tiap hari para turis datang dan pergi. Meski tingkah turis asing bikin risih, wisatawan muslim dan muslimah yang berjilbab seperti saya cukup banyak mengunjungi pulau ini. Dan di sini mudah mendapatkan makanan halal. Penduduk lokal Gili sebagian besar muslim, cara  berpakaian dan berbicara mereka pun sopan.
Gili Terawangan di waktu malam sepenuhnya menjadi kampung orang asing. Di sepanjang jalan yang mengitari pulau, berbaris kafe, pub, restoran atau Misbar Movie (dengan barisan bed/tempat tidur kecil untuk bersantai). Jalanan ramai oleh pejalan kaki,  kereta kuda model tempo dulu dan sepeda kayuh. Sampai saat itu, saya belum melihat istimewanya pulau ini. Lalu mengapa banyak teman merekomendasikannya? Apakah karena banyak bulenya? Hmm, bagi saya melihat orang kulit putih bukan lagi suatu pemandangan yang menarik. Saya agaknya harus menunggu besok untuk peroleh jawabannya.
Tuntas subuh, saya sendirian ke tepi pantai. Para karyawan kafe sedang bersih-bersih. Pagi itu pantai yang berjarak dua ratus meter dari penginapan lengang. Hanya beberapa turis Asia dan remaja lokal. Bule mungkin masih teler di kamar masing-masing.
Sunrise will be coming soon. Saya datang tepat waktu. Saat penghuni pulau ini tengah terlelap, dan kapal-kapal yang ditambat berayun lembut digoyang angin laut, kemunculan matahari pertama seperti hadiah bagi para pecinta subuh. Saya adalah sedikit orang yang menerima hadiah itu di Pulau Gili Terawangan.
Sebelum sarapan, saya dan suami mengelilingi pulau bersepeda. Udara segar dan birunya laut mengalir beriringan dengan kayuhan sepeda kami. Cucuran keringat terasa seperti cipratan air yang menyegarkan dan menggerakkan otot yang melempem akibat kemalasan berolahraga selama ini.
Pengalaman paling menarik di Gili tentu saja mengintip terumbu karang biru di dasar laut. Begitu boat sampai di Gili Mano, Fathur langsung menyebur disusul yang lain.  “Ayo..turun!” ajak suami dari laut. Sejenak saya ragu. Maakk, saya tidak bisa berenang! Saya melirik pelampung yang sudah dikenakan sejak kapal meninggalkan pantai. Saya akan menyesal jika tidak mencoba.
Saya pun turun ke laut. Ternyata tak ada yang perlu ditakutkan. Tubuh saya beradaptasi dengan cepat. Di kejauhan Fathur dan anggota rombongan lain asik snorkeling dan berfoto dengan latar terumbu biru yang indah. Luar biasa.

Kami kembali ke darat satu jam kemudian dengan perasaan puas dan bersepakat akan  mengulang kembali petualangan di dasar laut. Nusantara kita toh tidak kekurangan laut-laut indah untuk diselami.// Asnelly Ridha Daulay.

2 September 2015

Adat Yang Tak Luntur oleh Hujan

Ketika kembali menginjakkan kaki ke tanah leluhurku di Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara, lagu lama ini kembali bersenandung di dalam hati.

O, Tano Batak
haholongakku
Sai namalungun
do au tu ho

Cukup sulit untuk kembali datang ke Padang Bolak; selain karena kesibukan pekerjaan di rantau, jalan yang jelek dan jarak tempuh yang jauh dari Jambi menjadi penghalang untuk sering-sering ke sana. Namun jangan bilang aku tidak rindu! Meskipun kampung ini jauh, tertinggal dan berudara panas, hatiku selalu merindukan bertemu kembali dengan sanak saudaraku yang hangat, yang ekspresif, meskipun tak banyak kebaikan yang bisa kusumbangkan.

Pesta pengukuhan gelar untuk dua orang sepupuku akhirnya menjadi jalan bagi aku dan suami untuk kembali ke Padang Bolak. Di sana, kami menikmati kembali kehadiran orang-orang kampung yang sederhana dan hangat, yang menyambut kami dengan gembira karena tak menyangka kami bisa memenuhi undangan mereka.

Satu hal yang mengesankan dari kunjungan singkat ini adalah adat Tapanuli yang tidak luntur oleh waktu dan hujan (kalo lekang oleh panas sudah biasa toh!). Ini beberapa foto yang menggambarkan antusiasme keluarga kami untuk terus mempertahankan adat budaya leluhur.


Tulisan di atas tikar anyaman di depan rumah menandakan adanya pesta adat.



Acara Penebalan Nama sepupuku ditandai dengan pemotongan kerbau. Karena ada dua orang yang diberi gelar adat, maka kerbau yang dipotong pun harus dua ekor.


Kedua sepupuku dan istri masing-masing, mereka pake kacamata hitam hi...hi...hi. Tapi ini bukan untuk gaya-gayaan lho! Mereka harus duduk di sana semalam suntuk plus dua siang. Jadi, kalo mereka tertidur atau terkantuk-kantuk selama prosesi tersebut, tidak ada yang tahu sebab dilindungi oleh kacamata hitam itu.



Manortor, merupakan tari adat yang ditunggu semua orang. Meski tari ini sederhana namun aturannya ketat dan filosofis. Seorang tetua kampung mengatur siapa yang boleh menari sesuai dengan posisinya dalam keluarga besar kami. Terlihat suamiku di barisan belakang, mengayapi Oppungku yang berada di barisan depan.


Nantulangku di tengah, menortor dengan penuh perasaan. Perjalanan panjang dan sulit telah dilaluinya hingga akhirnya kedua anak laki-lakinya berhasil hidup mapan.


Antrian terlalu panjang untuk menortor, aku dan iparku tidak peroleh tempat. Untungnya kami mendapat kesempatan mendampingi pasangan sepupuku menyaksikan pembantaian kerbau di halaman belakang.


Di Pesta adat ini laki-laki dan perempuan bekerja sesuai dengan posisi masing-masing. Yang perempuan menyiapkan bumbu dan bahan masakan, yang laki-laki memasak di atas tungku besar. Siapa bilang adat patriakhi selalu melemahkan posisi perempuan? Laki-laki ikut kerja juga kok!


Pada acara seperti ini seluruh keluarga besar berkumpul dan tersenyum. Oppung dan Tulangku berpose bersama.


Aku berpose bersama keluarga dari Sipirok. Oppung buyut, Oppung kandung dan Nantulangku adalah perempuan Sipirok yang dinikahi  dan dibawa ke keluarga kami di Padang Bolak.


Kunjungan singkat yang mengesankan. Aku berharap masih banyak kesempatan untuk bertemu mereka lagi. Horas!




21 Juli 2015

Telaga Itu Bernama Terusan Kamang


SEBUAH telaga di kaki Bukit Barisan menjadi tempat rehat yang lumayan menyejukkan mata, terutama oleh warga perantau yang pulang mudik. Telaga yang berlokasi di Jorong Terusan Kecamatan Magek Kabupaten Agam itu dinamai penduduk sekitar dengan Terusan Kamang.

Banyak cerita berbau mistis tentang telaga tersebut. Pada waktu-waktu tertentu, konon air telaga menyusut mendadak, terserap ke dalam sebuah gua di kaki Bukit Barisan. Pada keadaan tersebut, sebagian telaga yang biasanya tergenang air menampakkan pasir di bawahnya.  Puluhan korban jiwa telah melayang akibat terseret air pada kejadian alam tersebut.

Telaga yang luasannya sekitar 10 hektar tersebut juga merupakan sumber penghasilan tambahan bagi penduduk sekitar karena adanya ikan Rinuak atau Pantau yang dihasilkannya. Penduduk juga memperoleh penghasilan tambahan dengan mengantar pengunjung ke daratan di tengah telaga atau berkeliling di sekitar telaga dengan menggunakan sebuah rakit bambu.


Piknik bernuansa alam pedesaan tersebut terasa semakin kental dengan kehadiran puluhan kerbau yang asik merumput di padang penggembalaan yang terhampar hingga ke kaki bukit. ARD.

29 Oktober 2014

Jangan Merasa Hebat Di Media Sosial

Hidup terasa sepi bila tak berinteraksi dengan media sosial. Banyak orang merasa kosong kalau tidak mengupdate foto atau pendapatnya setiap hari, bahkan setiap jam. Sebagian mengupdate statusnya berdasarkan informasi atau pemikiran terbaru yang muncul di benaknya, namun lebih banyak lagi yang sebenarnya tidak punya kebaruan untuk dimunculkan. Hanya kepingin saja agar orang lain lebih tahu tentang dirinya.

Keinginan berlebihan untuk mengaktualisasi diri seringkali menjebak seseorang kepada dosa. Tanpa sadar pengguna media sosial telah berlaku riya, menginformasi hal-hal bagus tentang diri dan keluarganya untuk mendapatkan tanggapan pujian atau setidaknya acungan jempol. Yang lebih tidak bertanggungjawab, karena tak punya hal menarik tentang dirinya untuk diceritakan, lalu mencari cara lain untuk mengisi wajah media sosialnya, misalnya dengan memposting gambar jelek. Kalau gambarnya lucu atau inspiratif sih tidak apa-apa, bisa menambah banyak teman. Anehnya, ada yang menjadi kecanduan memposting gambar jelek dan porno (hasil editan lagi!), tulisan menghina dan mendikreditkan orang lain, bahkan menulis pendapat pribadi yang sifatnya memfitnah dan tidak logis.

Media sosial yang semula dimaksudkan untuk memperbanyak teman akhirnya menjadi arena saling balas kemarahan dan kekasaran serta pamer diri sendiri. Jumlah teman dan kontak bisa saja bertambah tapi deretan ‘musuh’ diantara teman-teman itu, pasti barisannya makin panjang. Hal inilah yang sering tidak disadari oleh pengguna media sosial yang suka memposting ini dan itu.

Jadi… bila sekarang tanggapan atau gambar apapun yang diposting di media sosial bisa dibawa ke ranah hukum, menurut saya itu bagus sekali. Seseorang harus bijaksana mengekspresikan dirinya. Ucapan atau ejekan yang akan membuat orang lain sakit hati dan terhina seharusnya dihindarkan, juga pendapat yang dangkal dan sekterian yang sebenarnya justru menunjukkan kekerdilan diri sendiri.

Dan yang menyulitkan tapi sering dianggap tidak penting adalah bagaimana caranya meminta maaf kepada orang-orang yang dilukai oleh media kita? Ketika menemui korban secara langsung jadi sulit akibat jarak yang jauh terbentang, apakah permintaan maaf di wall (facebook, bbm, dll) bisa menjadi jembatan permintaan maaf? Saya rasa tidak.

Tuhan tidak mengampuni dosa manusia terhadap manusia lain sebelum yang dilukai bersedia memaafkannya. 

Kalau memajang permintaan maaf lahir dan batin di wall kita bisa menjadi penghapus dosa, wuih alangkah mudahnya penghapusan dosa itu! Sama artinya dengan maling yang menguras benda berharga di sebuah rumah, lalu esoknya mengirim surat permintaan maaf dan bilang ia menyesali perbuatannya. Tidak segampang itu kan?

Karenanya jangan merasa hebat ketika memposting sesuatu. Mediamu menunjukkan siapa dirimu.

19 Oktober 2014

Belajar Kerendahan Hati Dari Jokowi

SIKAP rendah hati diajarkan semua agama. Tapi tidak mudah untuk mempraktikkannya karena godaan ego yang selalu ingin memproklamirkan kehebatan diri. Apalagi orang yang rendah hati sering dipandang sebelah mata, disalahtafsirkan sebagai ekspresi rendah diri dan tidak mampu berbuat apa-apa. Rendah hati itu tidak keren.

Dari sekian banyak puja puji untuk Jokowi, bagi saya kerendahan hatinya jauh lebih memikat. Banyak orang yang lebih pintar dari Jokowi. Yang lebih ganteng…hmm lebih banyak lagi (meski seraya berseloroh Jokowi bilang dirinya tak berbeda jauh ganteng dari artis sinetron Dude Herlino). Ia juga tidak  modis. Tapi soal kerendahan hati, dia amat menonjol.

Tanpa merasa capek, dia mendatangi tokoh bangsa satu persatu. Ia mencium tangan mereka, memeluk, memijat kaki dan mengambilkan kursi untuk mereka dengan spontan. Wajar jika tokoh gaek seperti KH. Hashim Muzadi dan Buya Ma’arif mengungkapkan rasa sayang dan dukungan kepadanya. Jokowi juga tidak keberatan mendatangi dan menyalami lawan politik atau orang-orang yang mencibir, menghina dan mengkritiknya. Semuanya dihadapi dengan ketenangan yang akan sulit  dilakukan oleh orang yang tidak memiliki karakter rendah hati.

Karena itu banyak orang Indonesia  dan dunia yang memperhatikan dan menaruh harapan kepadanya. A new hope – kata mereka. Dia menjadi teman orang miskin dan rakyat jelata dan mulai besok kewenangannya untuk membantu mereka-mereka yang terpinggirkan ini akan semakin besar. 

Apakah sulit menjadi sederhana dan rendah hati? Tidak juga. Bahkan gaya itu jauh lebih pas bagi orang-orang yang penghasilannya tidak banyak. Seperti saya ini! Gaya seperti itu mengurangi beban psikis karena dipaksa ego harus tampil hebat di hadapan orang lain, padahal uang tidak cukup atau prestasi biasa-biasa saja. Bagi mereka yang hidup berlimpah, mungkin akan sedikit sulit tapi kini tidak lagi, ...karena sudah ada contoh bagus di depan mata.

Meski kita masih menunggu apa yang akan dilakukannya untuk mengurangi permasalahan negara ini, setidaknya kita telah menggenggam satu teladan baik darinya. Rendah hati.

                                                             ** V **


11 Oktober 2014

Kemenangan Malala Tidak Disambut Gembira?


Penetapan Malala Yousafzai, 17 tahun, sebagai pemenang Nobel Perdamaian Tahun 2014 -bersama seorang nenek asal India Kailash Satyarthi, 60 tahun- terkesan kurang disambut antusias oleh komunitas negara-negara muslim. Saat Presiden Amerika Serikat dan tokoh Eropa menyampaikan selamat kepada gadis yang selalu mengenakan selendang penutup kepala tersebut, pemimpin negara-negara muslim diam-diam saja. Meski Pemerintah Pakistan lewat Perdana Menterinya Nawaz Syarif menyampaikan kegembiraannya atas penghargaan paling top dunia untuk warganya yang ditembak milisi Al Qoida pada 2012 lalu, masyarakat pakistan sendiri memberi  penilaian kurang simpatik. Sebagian menganggap kemenangan Malala merupakan propaganda negatif negara barat terhadap ketidakberpihakan Islam untuk pendidikan perempuan. Sehingga tidak ada yang perlu dibanggakan dari anugerah tersebut.

Bagi saya, sikap yang mengkerdilkan sebuah kemenangan besar terasa menyedihkan. Jelas Islam tidak begitu. Islam lahir mencerahkan peradaban. Surah pertama yang diturunkan kepada Yang Mulia Nabi Muhammad Salollohi Alaihi Wassalam memerintahkan sang nabi untuk membaca (Iqra!). Bukan perintah berperang atau siasat dari Tuhan untuk menaklukkan kaum kafir. Sejak saat itu, nabi menyeru umatnya untuk banyak membaca, terutama kitab suci Al-Quran dengan janji reward Allah berupa pahala berlipat-lipat.

Lalu mengapa kemenangan Malala dalam memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak dianggap tidak penting? Apakah karena dia perempuan? Salah jika Islam dianggap meremehkan kesempatan perempuan peroleh pendidikan. Buktinya diantara istri nabi, Siti Asyiah radiallahu anhu dan Zaynab binti Jahsh radiallahu anhu merupakan wanita intelektual di zamannya. Mereka ikut merawikan hadis dan aktif mendidik perempuan agar beradab benar.

Kemenangan Malala sesungguhnya adalah pengakuan dunia terhadap semangat umat Islam untuk memperjuangkan nilai-nilai yang dianggap benar dan dibenarkan oleh agamanya. Jika kebetulan kebenaran itu sama dengan keyakinan yang dimiliki oleh dunia barat, maka hal itu tidak seharusnya membuat kita mengecilkan perjuangan Malala.

Kemenangan Malala sekali lagi menunjukkan bahwa nilai Islam (khususnya pendidikan) adalah nilai universal. Islam tidak menginginkan anak-anaknya bodoh meski sekelompok kecil yang berpaham keras dan radikal, menginginkan perempuan tetap berada di rumah dan beradaptasi dengan ruang sempit yang disediakan untuknya. Mayoritas masyarakat Islam menginginkan jalan tengah, pengaturan yang tidak memberatkan namun juga tidak terlalu menggampangkan segala sesuatu. Menyekap perempuan di rumahnya bukan bagian dari jalan tengah itu. Jika kita malu atau emoh mengakui perjuangan Malala, sama artinya kita membenarkan pandangan Barat yang salah tentang Islam.

Ataukah Malala dianggap tidak mewakili muslim karena konon paham keagamaannya yang Ahmadyah? Olala…kalau begitu kita kembali terjebak kepada perpecahan yang membuat  musuh bertepuk tangan.  Saya menjadi ingat seruan seorang tokoh agama Indonesia, agar umat melihat kesamaan diantara kita dan tidak terlalu meributkan perbedaan. Kesamaan akan membuat kita lebih kompak dan mudah menjalin kerjasama. Namun jika selalu bertumpu kepada perbedaan, sampai kapan pun kita tidak bisa jalan bersama.



Apa tidak capek berkonflik terus…? Dan mungkin kita harus rajin-rajin bertanya kepada diri sendiri apakah kualitas keimanan kita sudah berada pada level yang mumpuni sehingga (dirimu) kompeten menilai keimanan orang lain.

--^^--

8 Oktober 2014

Antara Ahok dan FPI, Ku berpihak kepada yang baik



Memilih, bukan pekerjaan gampang saat ini. Informasi bersilang-silang dan sering kali kebenaran dijungkirbalikkan. Hanya yang  menyediakan waktu untuk menyimak berita, berpikir dan menganalisisnya lah yang akan peroleh hidayah. Yang tidak…, mereka akan terjebak kepada fanatisme dan kebenaran semu.

Aku berusaha tidak terjebak dalam perseteruan Gubernur Jakarta Ahok dengan Front Pembela Islam (FPI). Namun aku memikirkan mereka sangat sering akhir-akhir ini, bertanya-tanya kepada diriku sendiri dimana aku akan berpihak bila diharuskan memilih.

Ahok seorang kafir dan China, tidak asli Indonesia. Itu poin yang melemahkan dirinya. Bagi kami yang Indonesia asli, Orang China dikenal suka mementingkan diri sendiri. Semakin kaya mereka, bertambah tinggi tembok yang mengitari rumahnya dan bertambah jumlah anjing galak yang dipelihara. Tapi kok Ahok beda? Dia keras kepada semua orang yang nyeleweng dari tugas dan tanggung jawabnya. Dia bersimpati kepada masyarakat yang sering diabaikan atau dipalak oleh pegawai pemerintah. Dia tidak (belum tersangkut) korupsi. Gak banyak pejabat pemerintah daerah seperti dia saat ini.

Berbeda dengan orang-orang FPI, mereka muslim semua. Sama dengan agama yang kuanut. Pimpinan dan tokoh pentingnya keturunan Arab, juga tidak asli Indonesia. Mereka berwatak keras (sama seperti Ahok), suka melabrak karaoke, tempat judi dan tempat maksiat lainnya. Mereka juga suka malabrak siapa saja, bahkan pemerintah, jika menentang agenda mereka.

Banyak yang takut FPI kalau mereka sudah mulai berkumpul, teriak-teriak dan memukul-mukul. Disitu lah aku mulai tidak sepaham dengan tindakan mereka. FPI bukan hukum, walau mereka merasa pandangan hidup mereka paling benar. Di negara yang multi kultur dan agama, serta punya pemerintahan yang sah, menurutku FPI tidak boleh menjadi hakim untuk orang lain. Siapa yang menunjuk mereka menjalankan peran itu? Tidak ada! Apalagi jika benar mereka bisa dibayar untuk melindungi seseorang atau untuk menghujat orang lain. Hukum dan kebenaran tidak boleh diperdagangkan bukan…?

Memilih antara Ahok dan FPI, aku membayangkan diriku berada di tengah adik-adikku. Jika mereka benar, aku akan membela mereka. Namun jika mereka suka mencuri uangku, atau menekanku dengan kehendak-kehendak yang liar, apakah aku akan terus mencintai mereka?


Agama Islam mengatakan Allah menilai seseorang dari imannya. Bukan dari ras atau keunggulan pribadi seseorang. Dalam masyarakat yang majemuk, prinsip Allah itu amat relevan. Seseorang akan dinilai lebih tinggi, dihargai dan dipihaki jika ia membawa manfaat banyak bagi orang lain. Sedangkan bagi yang suka bikin rusuh, yah… ke laut aja!


6 Oktober 2014

Yang terlihat di luar, tidak sama dengan yang di dalam

SEORANG teman dekat menasehatiku, "Jangan cepat menilai dari penampilan luar seseorang. Belum tentu ia seburuk itu ..." katanya dengan setengah menggoda dan sedikit nada menghakimi. Sebelumnya ia berkata aku  terlalu cepat memutuskan ketika melihat sikap negatif seseorang.

Dia mungkin benar ..., tapi bisa juga salah. Apalagi yang kami perbincangkan saat itu tentang situasi politik akhir-akhir ini, tentang pergulatan di parlemen, arena yang tersisa untuk diperebutkan oleh partai politik di negeri kami.


Seperti kalian tahu, negara kami kembali bergolak. Tahun 1990-an paska jatuhnya Soeharto situasi seperti ini pernah terjadi. Mereka yang mengaku dari golongan reformis mengangkat Gus Dur menjadi presiden, lalu sepakat menjatuhkannya dua tahun kemudian. Amin Rais cs lalu bersekutu menaikkan Megawati, sosok yang mati-matian mereka hindari untuk jadi presiden pada 2 tahun sebelumnya meski partainya memenangkan pemilu. Pelarian pilihan itu pun tak bertahan lama, Mega selalu dicerca sehingga ia menjadi presiden yang di cap gagal karena (dengan izin DPR kala itu) menjual aset negara penting.


Kini hal yang mirip terjadi. Rakyat memilih Jokowi sebagai presiden, unggul tipis (dan mungkin karena itu menjadi sangat menyakitkan) atas Prabowo, seorang mantan jenderal dan anak bangsa yang hidupnya selalu dinaungi keberhasilan. Jokowi tidak disukai oleh kelompok yang tak memilihnya dan pertarungan balas dendam pun berlanjut.


Maka keluarlah komentar saling tuding dan saling bela. Arena berbalas pantun yang membuat masyarakat bingung. Namun tidak bagiku yang dianugerahi Tuhan pikiran kritis dan hati yang istiqamah (Alhamdulillah...). Aku menilai seseorang dari ucapan dan perbuatannya, karena aku tak bisa membaca hati orang lain, apalagi mereka yang bicara rumit dan berputar-putar itu ada di Jakarta.


Dan inilah kesimpulanku. Aku percaya kepada sebagian dari mereka dan menolak menaruh kepercayaan kepada sisanya. Mereka yang tak kupercayai itu terlihat baik, namun ucapannya tak sesuai dengan perbuatannya. Dan itu tidak sekali terjadi, sudah berulang-ulang.


Maka jangan salahkan rakyat bila mengambil keputusan sama denganku. Karena sudah seharusnya apa yang terlihat di luar, sama dengan yang bermukim di dalam hati. Politik memiliki komitmen yang harus dijaga, bukan bermain dengan bola-bola liar yang menyuburkan prasangka dan akhirnya kebencian.


Politik bisa jadi tidak menyebalkan jika dikelola dengan elegan. Itulah hakekat yang sebagian anggota parlemen tidak tahu atau lupa mengkajinya. Atau mungkin sebagian dari mereka tidak layak untuk duduk di sana?


Yah ....mereka harus dipulangkan ke daerahnya kalau begitu. Karena kami tak berkuasa atas hal itu, biar Allah yang mengatur pemulangan mereka!

5 Oktober 2014

Ketika Hari Raya Just Like the Other Days


HARI RAYA –apakah itu Idul Fitri atau Idul Adha– tak terasa lagi indah. Indah yang sebenar-benarnya, yang menyusup hingga ke hati seperti yang kurasakan ketika masih bocah. Aku berangkat tidur pada malam dengan gema takbir sayup yang menghangatkan hati. Dan paginya dibangunkan oleh dingin dan azan milik  subuh sementara Mom di dapur memotong-motong ketupat dan menghangatkan gulai lontong. Aku pun terburu-buru ke sumur, mandi, berbedak wangi dan bersalin pakaian baru. Mom akan senang nanti melihat aku sudah bersih dan siap berangkat ke lapangan untuk shalat. Satu hal kecil dariku yang bisa membuatnya lebih bahagia hari itu.

Tapi anak-anak dan ponakanku? Mereka masih meringkuk tidur, melewatkan shalat subuh. Satu persatu mereka bangun untuk mandi kilat dan mengenakan pakaian menuju masjid. Mereka telah melewatkan hal penting; meninggalkan satu ibadah wajib untuk satu kegiatan sunat. Mereka memaknai hari raya hanya sebagai hari berkumpul keluarga, menikmati hidangan enak, peroleh uang ekstra dan baju baru.

Hari raya membebaskan mereka untuk berbuat yang agama kami tidak menghendakinya. Aku melihat ketidakberdayaan dan mungkin pembolehan atas tingkah laku mereka.

Oh sudahlah…nanti sadar sendiri. Tidak perlu ribut-ribut…ini hari raya, kata orangtua yang satu kepada yang lainnya. Hari raya jangan diusik dengan peringatan tentang tata tertib agama. Ooh begitukah???

Aku menjadi bertanya…, dimana kah kini berada pendidikan komunal, saling ingat dan memperingatkan di tengah kaum kerabat? Kenapa kami para orangtua tidak mampu lagi menegakkan dasar agama itu diantara kami?

Aku melihat kesombongan dan sifat pamer lebih berkuasa dibanding kerendahan hati. Mobil dan gadget baru, promosi jabatan, prestasi sekolah anak-anak….semua hal berlomba diungkapkan. Apakah ini tidak melelahkan? Bukankah semua itu diperoleh dengan cara keras dan penuh perjuangan…mengapa tak dibiarkan keberhasilan-keberhasilan itu menyelinap dengan damai ke semua hati dalam keluarga tanpa perlu banyak berkoar-koar….

Kalau begitu hari raya menjadi tak beda dengan hari-hari lain. Untuk apa kita berkumpul ketika ada hati yang diam-diam gelisah, terpinggirkan atau tidak setuju dengan ke-riya-an itu? Kenapa tak biarkan tawa renyah kita berderai dan kisi-kisi hati yang pernah diobrak-abrik kemarahan bertaut kembali? Semua itu bisa pulih bila kita mau berendah hati. Pada hari besar ini seharusnya anak-anak kita belajar tentang ketulusan antar saudara, bukan sebuah persaingan berkosmetika silaturahim, yang menempatkan seseorang lebih tinggi diantara saudaranya yang lain.

Hari raya seharusnya lebih khusu’…. Tapi aku tak menemukannya lagi. Ia sama dengan hari-hari lain. 

18 Juni 2014

Ketika Jalan Itu Berakhir


Aku bertanya siapakah dirimu?
Seorang dengan kopiah di kepala atau laki-laki berkaos tembaga?

Engkau ada di setiap detik berlalu
Mataku gelap mendaki pikiran yang berkabut
Gundah namun  aku harus terus melangkah

Sebab engkau darah dan nafasku
Hatiku merintih melihatmu merayap dan mengikis sebutir remah ditatap seribu mata
Tidak Nak, aku tak sanggup!

Akankah panas bara  merentang selalu di bawah kakiku?
Dan terik raja merebus keringat di sela rambutmu?
Asaku berpacu menatap dirimu berbaju sutra dan tertawa mutiara
Sungguh ku tak kan minta lainnya

Menatap ke ujung jalan itu, hatiku berbisik lirih
Desau cemara  tak kan bisa menghalau kumbang-kumbang
Sebelum kulihat dirimu tersenyum
Dan kopiah taqwa di kepalamu

(Untuk anakku fathur)

17 Juni 2014

KUTAHU TAK SELAMANYA MENCINTAIMU

Ada kala lidahmu menggores hatiku
Aku menangis seperti seonggok kain di kamar berdebu
Menunggu pagi dan kelabu berganti 
membawa suka cita  burung dan kuncup bunga

Mulialah mereka yang dapat terus mencinta
Menunggu, membelai, menatap bangga
Menaruh diri  di punggung kekasihnya
Aku kira engkau mengharapku begitu 

Tapi bisakah...?

Nalarku sangat lantang bersuara
Seperti petir yang tak sanggup membakar putri malu
Ia hanya bisa menggores kulitmu
Ia bicara mengikuti kebenarannya
Ruhku kelu karena hatiku seiya dengannya

Sukar mencintaimu selamanya!
Tapi maukah kau menerima diriku begitu saja?
Toh kita baik-baik saja kukira
Karena kuyakin cintamu juga begitu

Dan kita tak mahir mencinta meski  ribuan purnama mengajarinya

Bukankah begitu sayangku?
Juni 2014

15 Mei 2014

PELANGGARAN ETIKA MORAL PADA PERBURUAN DAN PERDAGANGAN SATWA LIAR


I. PENDAHULUAN
Konservasi hutan dan sumber daya yang ada di dalamnya saat ini lebih banyak terfokus kepada kepentingan untuk menyelamatkan kayu dan tanah hutan, yang dibanyak daerah telah berubah fungsi menjadi lahan perkebunan dan pertanian. Meskipun kayu bernilai penting namun nilai manfaatnya hanya sekitar 5% dari total nilai hutan. Manfaat terbesar atau 95% justru  terletak pada sumberdaya non kayu, seperti tanaman obat-obatan dan satwa-satwanya.Berdasarkan gambaran tersebut sudah selayaknya kelestarian sumber daya genetik di hutan, termasuk satwa liar harus memperoleh perhatian yang serius.
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mengalami laju kehilangan satwa liar tertinggi, di antaranya 140 jenis burung, 77 jenis mamalia, 21 jenis reptil, 65 jenis ikan tawar, dan 281 jenis tumbuhan (www.wwf.or.id, 2014). Satwa yang kondisinya paling mengkhawatirkan adalah orang utan sehingga diperkirakan akan punah pada tahun 2020 jika perburuan liar masih terus berlanjut.
Penjualan satwa liar tidak saja dilakukan dengan cara konvensional yaitu di pasar hewan, juga ditawarkan secara online dan memiliki peminat yang luas baik untuk kepentingan pengobatan, keindahan dan prestise. Satwa langka ditawarkan dengan harga bervariasi, misalnya Kukang ditawarkan seharga Rp200 ribu/ekor, Siamang Rp3 juta/ekor, Elang Jawa Rp 2.000.000,- hingga Rp5 juta/ekor, dan Nuri Kepala Hitam seharga Rp1 juta/ekor  (www.antaranews.com, 2014).
Fenomena penjualan satwa liar yang berpotensi merusak lingkungan tersebut mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang mengharamkan penjualan/perdagangan satwa liar. Fatwa tersebut diumumkan pada 4 Maret 2014 dan berlaku efektif sejak tanggal 22 Januari 2014.
Alasan dikeluarkan fatwa tersebut menurut Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni'am Sholeh karena dalam perspektif Islam, dimensi kemanusiaan, lingkungan, dan sosial memiliki relasi ketuhanan, termasuk di dalamnya menjamin keberlangsungan hidup satwa terancam punah (www.bbc.co.uk, 2014). Fatwa tersebut menegaskan perburuan dan perdagangan hewan langka dikategorikan sebagai "berdosa dan tidak bermoral."
Provinsi Jambi merupakan wilayah yang menjadi perburuan satwa liar. Di daerah ini terdapat empat taman nasional; Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Taman Nasional Bukit Duabelas dan Taman Nasional Berbak, serta kawasan hutan lindung lainnya yang banyak dihuni oleh satwa endemik dan terancam punah.  Sulitnya mengendalikan kasus perburuan illegal dan perdagangannya karena wilayah yang luas dan keterbatasan aparat untuk melakukan pengawasan.
Makalah ini berupaya untuk mengungkapkan permasalahan perburuan dan perdagangan satwa liar serta bentuk-bentuk pelanggaran etika dan moral pada kejadian tersebut. Salah satu pertanyaan yang ingin dijawab, apakah kemiskinan dapat dijadikan justifikasi terhadap perburuan dan perdagangan satwa liar tersebut.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perlindungan Terhadap Satwa Liar
Perlindungan terhadap satwa yang hidup di alam bebas telah diatur pemerintah dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam UU tersebut, satwa  liar didefenisikan sebagai semua binatang yang hidup di darat, dan atau di air, dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.
Pada Pasal 21 ayat (2) dinyatakan dengan tegas larangan untuk : (a). menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (b). menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;  (c). mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (d). memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (e). mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dillindungi. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut, menurut  Pasal 40 ayat (2) UU ini dapat dikenai hukuman maksimal 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Namun pemanfaatan satwa liar bukannya tidak boleh karena pemerintah memberikan izin untuk kegiatan-kegiatan seperti: pengkajian, penelitian dan pengembangan; penangkaran; perburuan; perdagangan;  peragaan; pertukaran;   pemeliharaan untuk kesenangan (Pasal 36 ayat (1) yang dilakukan secara terbatas dan diaturan oleh peraturan pemerintah. Selain Undang-Undang No. 5 tahun 1990, aturan lain yang melindungi satwa liar tercantum dalam  Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar dan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
Selain peraturan di atas, negara-negara di dunia secara teratur melaksanakan pertemuan setiap 2,5 tahun dan menghasilkan konvensi untuk melindungi satwa liar, mencegah perburuan dan perdagangannya. Konvensi tersebut diformalkan dalam bentuk Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Empat hal pokok yang menjadi dasar terbentuknya konvensi CITES  menurut www.ksda-bali. go.id (2011)
a. Perlunya perlindungan jangka panjang terhadap tumbuhan dan satwa liar bagi manusia;
b. Meningkatnya nilai sumber tumbuhan dan satwa liar bagi manusia;
c. Peran dari masyarakat dan negara dalam usaha perlindungan tumbuhan dan satwa liar sangat tinggi;
d. Munculnya urgensi  kerjasama internasional untuk melindungi jenis-jenis tersebut dari over eksploitasi melalui kontrol perdagangan internasional.
Mekanisme pengendalian perdagangan spesies yang terancam punah yang digunakan oleh CITES berdasarkan mekanisme regulasi appendiks.  Daftar satwa yang dilindungi berdasarkan appendix sebagai berikut:

Tabel 1.
Jenis Appendix dan daftar satwa dilindungi di Indonesia
JENIS APPENDIX
KATEGORI
JUMLAH YANG DILINDUNGI
CONTOH SATWA YANG DILINDUNGI

Appendix I

seluruh spesies satwa liar yang terancam punah akibat segala bentuk perdagangan internasional/komersial. Izin hanya untuk penelitian dan penangkaran.

Dunia: sekitar 800 spesies
Indonesia :
mamalia 37 jenis, Aves 15 jenis, Reptil 9 jenis, Pisces 2 jenis, total 63 jenis satwa

semua jenis penyu, jalak bali,
komodo, orang utan, babirusa, harimau, beruang madu, badak jawa, tuntong, arwana kalimantan.

Appendix II

spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin akan terancam punah apabila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan

Dunia: sekitar 32.500 spesies. Indonesia : mamalia 96 jenis, Aves 239 jenis, Reptil 27 jenisdll. Total 546 jenis satwa

trenggiling, serigala, merak hijau, gelatik, beo, beberapa jenis kura-kura, ular pitas, beberapa ular kobra, dll

Appendix III

spesies satwa liar yang telah dilindungi di suatu negara dan memberikan pilihan bagi negara-negara anggota CITES bila suatu saat akan dimasukkan ke Appendix II atau Appendix I

Dunia: sekitar 300 spesies.
Indonesia : tidak ada spesies yang masuk dalam Appendix III.


Sumber: www.ksda-bali. go.id (2011)

Menurut International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dalam  Pardosi (2010), terdapat beberapa kategori konservasi satwa liar:
1.   Punah (Extinct; EX)
Suatu takson dinyatakan punah apabila survei secara terus menerus pada habitat yang diketahui pada rentang waktu tertentu gagal untuk menemukan satu individu. Survei dilakukan sesuai dengan siklus kehidupan dari spesies yang dipelajari.
2.   Punah di alam liar (Extinct in the wild; EW)
Suatu takson dinyatakan punah di alam liar ketika takson tersebut diketahui hanya bisa ditemui di penangkaran tertentu.
3.   Kritis atau sangat terancam punah (Critically endangered; CR)
Suatu takson dinyatakan kritis atau sangat terancam akan kepunahan apabila memenuhi salah satu kriteria A sampai E untuk sangat terancam punah sehingga dianggap sedang menghadapi risiko tinggi kepunahan di alam liar.
4.   Terancam (Endangered; EN)
Suatu takson dinyatakan genting ketika dinyatakan memenuhi salah satu kriteria A sampai E untuk keadaan genting, sehingga dianggap sedang menghadapi risiko tinggi kepunahan di alam liar.
5.   Rentan (Vulnerable; VU)
Suatu takson dinyatakan rentan ketika data-data mengindikasikan kesesuaian dengan salah satu kriteria A sampai E untuk rentan atau rawan, sehingga dianggap sedang menghadapi risiko tinggi kepunahan di alam liar.
6.   Hampir Terancam (Near Threatened; NT)
Suatu takson dinyatakan mendekati terancam punah apabila dalam evaluasi tidak memenuhi kategori kritis, genting, atau rentan pada saat ini tetapi mendekati kualifikasi atau dinilai akan memenuhi kategori terancam punah dalam waktu dekat.

2.1. Konsep Etika Dan Moral
            Etika dan moral merupakan pembeda antara masyarakat yang beradab dengan yang kurang/tidak beradab. Permasalahan etika muncul ketika keinginan suatu pihak untuk mencapai tujuannya, menyebabkan pihak lain menderita atau terhalang mencapai tujuannya.
Ada banyak sekali teori etika yang dikemukakan para ahli atau filsuf (Kartodiharjo, tanpa tahun),  diantara yang dominan adalah:
A.    Egoisme
Terdapat dua pengertian mengenai egoisme yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (selfish) tanpa memperhitungkan akibat perbuatannya pada orang lain, sedangkan egoisme etis menjelaskan tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self interest), namun sebatas hal tersebut tidak mengganggu kepentingan orang lain.
B.    Utilitarianisme
Menurut teori ini suatu tindakan dikatakan benar apabila membawa manfaat bagi sebanyak-banyaknya anggota masyarakat. Disini ada anggapan kuat bahwa setiap orang sama pentingnya.
C.    Deontologi
Suatu perbuatan tidak bisa dikatakan baik hanya karena hasilnya baik.hal ini, kewajiban moral bersifat mutlak, tanpa ada pengecualian apapun dan tanpa dikaitkan dengan keinginan dan tujuan apapun.
 D.     Teori Hak
Pada teori ini, suatu tindakan dianggap benar bila sesuai dengan hak asasi manusia (HAM), yang bersumber pada hak hukum (legal rights), hak moral dan kemanusiaan (moral, human rights) dan hak kontraktual (contractual rights).
E.      Teori Keutamaan (Virtue Theory) 
Faham ini menekankan pada sikap atau tekad seorang manusia menjadi manusia utama dan bukan sebagai manusia hina. Contoh sifat keutamaan, antara lain: kebijaksanaan, keadilan dan kerendahan hati.
F.      Etika Teonom
Pada teori ini sifat manusia dikaitkan dengan hubungan dan kehendak Tuhan sesuai dengan tuntunan kitab suci.

2.3. Masalah Etika Moral Pada Perburuan dan Perdagangan Satwa Liar
Maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar sangat terkait kepada lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Hal ini diungkapkan Wildlife Conservation Society (WCS) dalam Pardosi (2010).  Salah satu contoh lemahnya penegakan hukum adalah kasus pidana pembunuhan orangutan dilindungi di  Pengadilan Negeri Tenggarong beberapa tahun lalu. Tersangka hanya dijatuhi hukuman penjara masing-masing selama 8 (delapan) bulan dan denda sebesar Rp. 30.000.000,00 (tiga puluh juta) meskipun bukti di persidangan menunjukkan adanya kejahatan terorganisir dalam perburuan orang utan tersebut. Banyak pihak mengharapkan hakim memberikan hukuman yang lebih berat sekaligus merupakan kampanye terhadap perlindungan dan penyelamatan satwa liar. (irfan dkk, tanpa tahun).
Pemerintah telah menyiapkan lembaga yang bertugas melindungi hutan dan biodiversitas di dalamnya yaitu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) namun lembaga ini belum mampu memberikan perindungan yang optimal. Menurut Irfan dkk ( tanpa tahun), hal ini disebabkan kurangnya personil serta fasilitas yang dimiliki, yang secara langsung mempengaruhi proses tata cara dalam pelaksanaan upaya perlindungan hutan dan satwa yang dilindungi.
Lemahnya penegakan hukum dan keterbatasan lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk melindungi satwa liar tersebut diperparah lagi dengan kuatnya keinginan manusia untuk mengoleksi dan menikmati produk olahan satwa liar guna kesenangan pribadi. Jika masyarakat menghentikan permintaan atas satwa liar tersebut maka otomatis perdagangan satwa liar tidak marak seperti saat ini. (www.wwf.or.id. 2012).

Tabel 2.
Jenis dan Harga Menu Olahan Monyet Ekor Panjang Di Jakarta

No
Jenis Olahan
Harga (Rp)

1
Sate monyet

40.000 – 100.000 per porsi

2
Abon (biawak)

25.000 – 50.000 per bungkus

3
Otak monyet

300.000 – 500.000


Kontribusi perdagangan spesies langka di beberapa negara tidak dapat dikatakan sedikit, terutama dalam menyediakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan lokal (Soehartono dan Ani, 2003). Hal ini terutama terlihat pada daerah pinggiran hutan yang masyarakatnya hidup dalam kemiskinan dan tingginya angka pengangguran.


  
Tabel 3.
Perdagangan Bagian Tubuh Penyu di Teluk Penyu Cilacap
pada Februari-April 2005

No
Jenis Barang
Harga (Rp
Jumlah
Asal
1
Opsetan
35.000-1.500.000
175
Situbondo & lokal
2
Pipa Rokok
7.000
20
Situbondo
3
Cincin 
3.500 -5.000
300
Lokal & Situbondo
4
Gelang
7.000 - 10.000
65
Lokal & Situbondo
5
Minyak bulus 
15.000 -50.000
500
Lokal
6
Dendeng 
4000
25
Lokal
7
Daging matang 
1000
20
Lokal
8
Telur
2000
400
Lokal
9
Tukik kering
35.000 - 50.000
5
Situbondo
10
Penyu hidup
35.000-100.000
1
Lokal

Sumber: www.profauna.net

            Indonesia merupakan daerah penyuplai dan pasar yang menarik dalam menjajakan satwa liar karena hutan tropis  yang dimiliki sangat luas dan mengandung keragaman biodiversitas yang sangat kaya. Mudahnya akses ke luar negeri semakin memperburuk kondisi satwa liar ini di habitat aslinya.



Tabel 4.
Fakta-fakta tentang Perdagangan Satwa Liar di Indonesia Tahun 2009
No
Jenis Fakta
Keterangan
1
Propinsi paling banyak memperdagangkan satwa dilindungi
Jawa Timur, Sumsel dan Bali
2
Kota paling banyak memperdagangkan satwa dilindungi
Pasar Burung Depok di Kota Solo, Ambarawa. , Surabaya, Semarang dan Jakarta
3
jalur penyelundupan satwa langka ke luar negeri
Bandara Soekarno Hatta, Bandara Ngurah Rai Bali dan Kepulauan Talaud di Sulawesi
4
Perdagangan satwa di Pasar Burung
Dari 70 pasar burung di 58 kota, 14 pasar memperdagangkan burung nuri dan kakatua, 21 pasar memperdagangkan primata, 11 pasar memperdagangkan mamalia dan 13 pasar memperdagangkan raptor (burung pemangsa) dan 11 pasar memperdagangkan jenis burung berkicau yang dilindungi.

Sumber: www.iwf.or.id (2014)

III. DISKUSI DAN PEMBAHASAN
            Penciptaan langit dan bumi serta terjadnya siang malam menurut Al Quran merupakan fenomena yang seharusnya dipelajari manusia agar dia dapat mengenal dirinya, mengenal adanya yang Maha Pengatur dan akhirnya beriman dan bertaqwa kepada yang Maha Mengatur tersebut. Meskipun bumi dan isinya diciptakan untk kesejahteraan manusia (antropocentris), tidak berarti manusia dapat menggunakannya dengan sesuka hati karena semua perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan ke hadapan Tuhan yang Maha Mengatur alam semesta. Apalagi menurut Quran Surah Ar-Ruum 41, banyak kerusakan di bumi disebabkan oleh ulah manusia.
            Pada konsep pembangunan berkelanjutan, semua kegiatan pembangunan termasuk aktivitas masyarakat yang hidup di zaman sekarang harus mempertimbangkan generasi yang akan datang. Generasi mendatang tidak akan bisa bertahan hidup jika lingkungan telah rusak atau kitayang hidup di zaman ini akan dikutuk karena mewarisi alam yang tercemar dan daya dukungnya amat rendah.
Melihat kepada kasus perburuan dan perdagangan liar, banyak sekali prinsip etika yang telah dilanggar. Manusia menjadi begitu egois dan gila kehidupan hedonis (kehidupan yang mengagungkan kemewahan hidup di dunia). Maraknya perdagangan di internet dan pasar satwa menunjukkan hal tersebut (www.antaranews.com).  Hanya dengan alasan fashion dan prestise, ribuan ular, harimau, atau buaya dibunuh untuk dijadikan jeket, sepatu, tas, ikat pinggang dan barang mewah lainnya.
Pelanggaran etika dan moral juga terjadi di lingkungan penegakan hukum dan pejabat pemerintah. Hukuman maksimal 5 tahun dan denda yang bisa mencapai 100.000.000,- terhadap pelaku perburuan dan perdagangan liar, ternyata bisa ditawar dan dinegoisasikan. Tak heran bila hukuman yang diberikan seringkali merupakan hukuman minimal sehingga tidak memberi efek jera kepada pelakunya. (Irfan dkk, tanpa tahun).
Di kalangan masyarakat bawah, kemiskinan menjadi alasan utama mereka melakukan perburuan satwa liar. Mereka tanpa sadar menjadi perpanjangan tangan orang-orang kaya dan pedagang yang serakah sementara imbalan yang mereka peroleh tidak sebanyak keuntungan yang mereka berikan kepada para pelaku utama tersebut.
Menurut Kartodiharjo (2013), Undang-undang menyangkut hutan seringkali tidak mempertimbangkan permasalahan mendasar yang terjadi di hutan dan kawasan sekitarnya. Salah satu permasalahan mendasar yang tak tersentuh pemerintah itu adalah kemiskinan masyarakat. Menurut ajaran Islam, kemiskinan akan mendekatkan seseorang kepada kekafiran. Dalam arti yang lebih luas, kemiskinan akan mendorong seseorang untuk berbuat kejahatan.
Siapa yang bertanggung jawab terhadapnya maraknya perburuan dan perdagangan liar ini? Yang pertamakali tentu saja pemerintah karena negara memiliki perangkat negara, dana dan wewenang untuk mengendalikan semua tindakan negatif yang merugikan warga negara lain dan lingkungan. Jika ada aparat negara yang bermain-main dalam menegakkan hukum dan melindungi alam, maka seharusnya dihukum berat karena telah menyalahi sumpahnya sebagai pegawai negara.
Namun masyarakat juga tidak terlepas dari kesalahan. Ketidakmampuan mereka menahan hawa nafsu dan berpikir lebih bijaksana dalam memperlakukan alam, telah menyebabkan kerusakan yang parah di lingkungan hutan. Nafsu ingin menguasai alam (antropecentris) ini harus dikendalikan oleh diri mereka sendiri dan peraturan perundang-undangan yang ada.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
            Pelanggaran etika dan moral dalam kasus perburuan dan perdagangansatwa liar terjadi di semua level mulai dari tatanan kenegaraan hingga masyarakat bawah. Di tataran lebih tinggi melibatkan pejabat penegak hukum yang korup dan pegawai pemerintah yang semangatnya lemah dalam melaksanakan tugasnya mengawasi lingkungan.
Pelanggaran etika moral di tingkat masyarakat terjadi di level tinggi atau masyarakat kelas atas terlihat dengan adanya permintaan yang tinggi terhadap satwa liar, baik untuk kepentingan fashion, prestise, kesehatan dan makanan serta alasan-alasan lain yang mereka pandang baik. Sedangkan masyarakat bawah melihat peluang berburu hewan liar sebagai tambahan pendapatan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.



4.2. Saran
Guna mengatasi permasalahan perburuan dan perdagangan satwa liar, dapat disarankan sebagai berikut:
1. meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlindungan lingkungan termasuk biodiversitas yang ada di dalamnya untuk generasi yang ada sekarang dan yang akan datang.
2. meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pedesaan dan kawasan sekitar hutan sehingga kemiskinan tidak lagi menjadi alasan mereka melakukan perburuan dan perdagangan satwa liar.
3. memperbaiki perangkat hukum yang ada saat ini sehingga menutup celah terjadinya transaksi hukum.
4. memberi hukuman berat kepada pejabat negara yang melakukan kecurangan atau menggunakan jabatannya untuk memuluskan tindakan perburuan dan perdagangan satwa liar.
5. menutup izin pasar hewan dan kelompok-kelompok berkedok pecinta lingkungan yang merupakan organisasi tersembunyi perdagangan satwa liar.




DAFTAR PUSTAKA

CITES, Konvensi Internasional Perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar, diunduh tanggal 9 September 2011 tersedia pada http://www.ksda-bali.go.id/?p=314
Haryadi K. tanpa tahun. Pengantar Analisis Kebijakan Publik Pengelolaan Sumber daya Alam; Narasi-Aktor-Politik Jaringan. Unpublished book.
http//www.iwf.or.id, diakses tanggal 8 Mei 2014
http://www.profauna.net, diakses tanggal 8 Mei 2014
Irfan M, Hamongpranoto S dan Prija D. tanpa tahun. Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pembunuhan Satwa Orang Utan Yang Dilindungi Menurut Undang-undang no. 5 tahun 1990 di Wilayah Ijin Usaha Perkebunan Kelapa Sawit; Studi Kasus di Wilayah Hukum Kabupaten Kutai Kartanegara. Universitas Brawijaya Malang.
Kartodiharjo H (Ed). 2013. Kembali ke Jalan yang Lurus. Yogyakarta: Forci Development bekerjasama dengan Tanah Air Beta.
Menyelamatkan yang Tersisa dari Perdagangan Ilegal Satwa Liar. 2012. Diunduh tanggal  29 April 2014, tersedia pada http://www.wwf.or.id.
MUI: Perdagangan satwa langka 'haram', diunduh tanggal  29 April 2014, tersedia pada  www.bbc.co.uk.
Pardosi EE. 2010. Nilai Ekonomi Perdagangan Satwa Liar. http. repository.usu.ac.id , diakses tanggal 29 April 2014.
Perdagangan satwa secara online makin memprihatinkan, diunduh tanggal  29 April 2014, tersedia pada www.antaranews.com.
Setneg RI. UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jakarta: Setneg RI.

 Soehartono T dan Ani M. 2003. Pelaksanaan Konvensi CITES di Indonesia. Jakarta: Japan International Cooperation Agency.