Welcome to my blog. Most of writings/articles here are about my beloved Jambi. Your comments are awaited.
Mengenai Saya
- Asnelly RD
- Jambi, Jambi, Indonesia
- wonderful life starts from a wonderful heart
27 September 2011
5 September 2011
Not A Nice Reunion
5 April 2011
Berkunjung Ke Taman Surga
Masjid Kubah Emas di Depok. (foto : asnelly) |
16 Maret 2011
I AM READY TO BE A RESEARCHER
My families do not need to know the condition here. I will not complain. They will question the resolution I have been developing to be a researcher since last year if I do that. Anyway, I knew from the beginning that the profession of researcher is not highly appreciated in my country. So, why did I still startle by situation here?
Actually, not all is distressing. At least I can tell proudly that most of my new friends here are smart and young. Though their looks are ordinary, their academic records and accomplishment are convincing. Frankly, I become nervous to be with them since I know nothing about research. But I and my colleague (Sartik) have made resolution that we must finish this training and hold a certificate in our hand. We had been agreed by Mr. Fauzi Syam to go (he is so generous by giving us an additional allowance) and some Balitbangda’ friends said good bye and prayed the best for us. Of course they don’t deserve to be disappointed.
It is my task to catch up with time and finish the study in LIPI’s training centre. There is a target for me; I have to acquire the scientific writing skill. Back home, two or more researches have been waiting for me. It’s clear I am in my way to be a researcher, except fate decides otherwise. I have to neutralize the doubt growing in my heart before it kills my will power to be a researcher.
Anyway, I and my roommate will have fun by going shopping and travelling during the weekends. Some places are already in our list. Nothing is too bad. Must be there something nice (or quite nice) about everything, it depends on the way you look it.
I think I am ready to be a researcher, a qualified one.
8 Maret 2011
SINGAPORE YANG TAK LAGI MEMPESONA
Pesona Singapore mulai memudar pada kunjungan kedua dan berikutnya. Singapore tak ‘seheboh’ dulu lagi. Keindahan kota yang didirikan Sir Stamford Raffles tersebut tak lagi mempesona. Kembali saya dipertemukan dengan wajah kota yang rapi dan bersih, transportasi yang lancar dan shopping mall yang mewah. Pada Sabtu sore itu, saya tak menjumpai atraksi kebudayaan Asia (timur) yang anggun, atau keramahan dan anggukan persahabatan dari warga lokal.
Imej bahwa Singapore adalah kota yang ‘snob’ alias sombong, dibenarkan oleh warganya sendiri. Dua sopir taksi yang mengantar kami ke tujuan berbeda di Singapore mengungkapkan betapa mereka sebenarnya bukan bagian dari kemewahan kota itu.
Mohammad, seorang sopir taksi keturunan Arab mengaku tak begitu mengenal kawasan perbelanjaan walaupun dia lahir dan tinggal di Singapore. “Itu kan untuk orang kaya. Kalau saya tak pernah belanja di Orchard,” ucapnya.
Ongkos taksi cukup murah di Singapore. Sewa taksi dari Harbour Front ke Orchard Road sekitar 8 dollar atau Rp56 ribu. Tarif tersebut terhitung rendah jika dibandingkan dengan tarif taksi di Jakarta dimana jarak tempuh 15 menit bisa dikenai biaya Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu.
Namun tak seperti dulu, sopir taksi di Singapore sekarang kurang jujur. Tak jarang penumpang dikenai biaya tambahan di luar yang tertera di argo. Dengan alasan ‘ charge for peak time’ , mereka meminta tambahan beberapa dollar lagi.
Lim, sopir taksi lain juga mengakui beratnya tinggal di Singapore. “Saya bekerja sekitar 14 jam sehari. Kalau tidak, mana mungkin bisa membayar sewa flat, “ kata laki-laki yang berusia sekitar 50 tahun tersebut.
Biaya berobat juga tidak murah di Singapore. Benar pemerintah menjanjikan potongan biaya untuk warganegaranya, namun tetap saja tak terjangkau. “ Saya pernah berobat karena sakit kepala yang tak sembuh-sembuh. Awalnya cuma dikenai biaya 80 dollar. Kemudian saya disuruh cek ulang beberapa kali. Mereka perkirakan total biayanya 4 ribu dollar. Lebih baik tidak usah saja,” cerita Lim. Dia malah memuji pelayanan kesehatan umum di Indonesia. “Di Indonesia bisa gratis. Di sini katanya diskon, tapi bayarnya tetap tinggi!”
Dibanding Negara ASEAN lainnya, kehidupan religius di Singapore nyaris tak terasa. Menurut Mohammad, kini tak ada lagi tuan guru yang kharismatis. Dia dan keluarganya tidak memperoleh bimbingan agama dari ulama. Keluarga yang menginginkan pendidikan Islam untuk anak-anaknya, biasanya datang ke madrasah. “Selain ilmu agama, anak-anak madrasah harus belajar ilmu umum dan ketrampilan. Sekolah madrasah sekarang berat,” ucap laki-laki berkacamata ini. Akibatnya sekolah agama pun kurang diminati dan jumlahnya menyusut. Sekarang terdapat tiga madrasah yang masih bertahan.
Sebagai kota wisata, Singapore hanya manis untuk belanja dan untuk orang sangat kaya. Ketika saya sejenak berdiri di Orchard Road, mengamati manusia bersileweran dengan tas tentengan berlogo terkenal, hati saya pun bertanya-tanya. Berapakah penghasilan orang-orang ini satu bulannya? Berapa banyak uang yang baru saja mereka habiskan? Jika melihat ke wajah pelancong yang sebagian sangat khas Indonesia, namun dengan penampilan penuh gaya serta kulit pucat mulus, saya pun berguman pada diri sendiri; alangkah kontrasnya penampilan mereka dengan sebahagian besar penduduk Indonesia.
Pertanyaan demi pertanyaan itu membuat saya tak tahan berlama-lama di Orchard Road. Singapore membuat saya gelisah. Mendadak saya ingin segera kembali ke rumah, ke lingkungan saya yang sederhana dan nyaman. Ke negeri saya Jambi.
19 September 2010
MAKAN ‘BELADASAN’ DI PANTAI PADANG
Siapa pun yang belum pernah ke pantai Padang Sumatera Barat, tentu tidak akan dapat merasakan suasana deburan ombak kencang yang menghantam bebatuan dan jerit kegirangan anak-anak yang tengah berkejar-kejaran dan bermain bola pantai. Ini hanyalah salah satu yang dapat diperoleh dengan berwisata ke Pantai Padang. Tentu masih ada yang lain.
Disamping ingin merasakan suasana pantai termasuk saat-saat matahari merunduk ke peraduannya, para pengunjung yang berdatangan dari luar daerah tidak akan melewatkan kesempatan untuk mencicipi hidangan seafood yang banyak di jual di kawasan pantai tersebut.
Pantai Padang saat ini menjadi daya tarik wisata utama bagi ibukota Provinsi Sumatera Barat. Melihat kondisi saat ini, sulit untuk mempercayai bahwa beberapa tahun lalu kondisi Pantai Padang sangat memprihatinkan. Rumah-rumah reot berdiri rapat, ribuan penduduk kawasan kumuh tak sudi untuk pindah walau dijanjikan kompensasi tanah dan uang yang layak, sampah berserakan, terkadang juga kotoran manusia di atas pasir pantai. Belum lagi para peminta-minta yang ngotot minta diberi sedekah serta para penjual makanan yang berlomba pasang harga tinggi padahal sarana yang disediakan hanya berupa meja tua atau kursi kayu reot.
Kemudian, gempa yang susul menyusul dan isu tsunami secara ajaib merubah wajah pantai
Di sini hampir semua jajanan khas pantai tersedia. Sebut saja sate, pisang bakar, jagung bakar, rujak dan hidangan seafood. Di pagi hari, para penjual tangkapan hasil laut ikut meramaikan kawasan ini. Beragam ikan segar, cumi-cumi dan kepiting dijajakan, tentu saja dengan harga yang cukup miring dan belum disiram dengan formalin. Dan dalam suasana lebaran, ketika perut banyak dijejali makanan berdaging dan bersantan, keinginan untuk makan dengan menu seafood adalah pilihan yang tepat dan perangsang selera makan yang luar biasa.
Jadilah kami siang itu, di hari ke-empat setelah lebaran makan ‘beladasan’ di Pantai
Makan di pantai





