Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart
Tampilkan postingan dengan label My Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Journey. Tampilkan semua postingan

5 September 2011

Not A Nice Reunion

I have to admit that the journey to Padang during the celebration of Idul Fitri 1432 H left something unpleasant in my heart. Indeed I wore a nice dress, was surrounded by my children and relatives, but their presence could not touch my heart.

My brothers are the source of my unhappiness. For such a long time I keep fear of their chaotic lives. I often pray they would be nicer and more religious by the time passes, but one week in Padang already convince me that they don’t make any progress. 

The oldest one doesn’t do praying, the second one is even worst since he practices heretical religious sect and the youngest one doesn’t do either praying and fasting.

When I sit in the living room of my home in Purus, I failed to see my mom’s trace there. She was not there anymore. Mama would not be happy to see her sons like that, she would fight and argue with them but Papa has let his sons doing whatever they like. He has no energy anymore to fight.

The disappointment has killed all happiness that I should feel during Idul Fitri. I indeed cannot steer their lives. But… how can I keep silent to see them fall down into the steep ravine?

5 April 2011

Berkunjung Ke Taman Surga

NIAT untuk berkunjung ke masjid Kubah Emas Depok yang tersimpan sejak dua tahun lalu, akhirnya kesampaian juga. Dari Bogor, perjalanan cukup panjang untuk mencapai kawasan Parung Bingung dimana masjid itu berada. Kami harus berganti kendaraan angkutan kota berwarna biru dan hijau muda sebanyak empat kali. Pada siang menjelang zuhur tersebut, cuaca terang dan panas, lalu lintas kendaraan menghamburkan debu ke udara. Begitu turun dari angkot, dari kejauhan sudah terlihat kubah berlapis emas 2 hingga 3 milimeter itu berkilauan diterpa sinar matahari.



Masjid Kubah Emas di Depok. (foto : asnelly)
Gerbang depan yang dijaga empat sampai lima petugas keamanan, serta pagar beton yang kokoh menunjukkan bahwa kompleks masjid ini dibangun dengan perencanaan yang matang. Pandangan mata kemudian disuguhi jalan meliuk dan menurun yang kiri kanannya dipenuhi hamparan bunga hiporbia dan kamboja jepang, pohon pinang dan tanaman keras lainnya serta pohon mangga dan jambu. Pantas saja masjid yang didedikasikan oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid untuk umat Islam ini menjadi objek kunjungan yang sangat padat.  Semua sudut di kompleks ini cantik untuk dipandangi dan dijadikan background berfoto.


Selain cantik dan apik, manajemen masjid ditata rapi. Petugas kebersihan rajin berkeliling mengumpulkan sampah. Petugas penitipan sandal dan penjaga toilet juga ada. Petugas bagian informasi siap memperingatkan jika pengunjung terlanjur beralas kaki ke lokasi bebas sandal/sepatu. Di pintu masuk masjid yang berbeda antara jamaah laki dan perempuan, petugas memeriksa setiap pengunjung, memastikan tidak ada kantong plastik berisi makanan yang dibawa masuk.


Semua fasilitas di kawasan seluas 50 hektar tersebut dan masjidnya yang berukuran sekitar 60 x 120 meter tersedia gratis. Para petugas yang diberi pakaian seragam terlihat senang menyambut semua tamu. Sayangnya, pengunjung lebih tertarik berada di luar masjid untuk menyantap makanan siang mereka di gedung yang disediakan khusus untuk rehat, berbincang atau berfoto. Ketika azan Zuhur berkumandang, saf laki-laki tak penuh. Saf perempuan juga tak terlalu banyak padahal masjid tersebut mampu menampung 20.000 jamaah.

Seandainya mereka menginjakkan kaki ke dalam, akan tersuguh interior masjid yang  mahal dan luar biasa indahnya. Walau tidak setara keanggunan Masjid Nabawi Medinah, bagian dalam masjid ini patut dikagumi. Keramik lantai dan pilar terbuat dari marmar kelas satu, lampu gantung kristal seberat 8 ton didatangkan langsung dari Italia serta langit-langit berlukiskan awan biru yang seakan nyata.


Selain kubah, relief di atas imam berdiri terbuat dari emas 18 karat. Mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis prado. Seketika saya disergap rasa haru, mengagumi kerelaan seorang hamba yang menghibahkan kekayaannya untuk sebuah karya seni bernilai tinggi dalam rupa sebuah masjid. 

 
Kompleks Masjid Kubah Emas adalah sebuah taman surga di bumi Depok. Sayangnya, niat dakwah pendiri masjid nyaris kehilangan makna. Pengunjung lebih menyukai kegiatan wisata dibanding aktivitas religi di masjid itu. (infojambi.com/ASNELLY RIDHA DAULAY)

16 Maret 2011

I AM READY TO BE A RESEARCHER


I am in Cibinong West Java to prepare myself to be a researcher. I won’t tell any of my family members how lonely I am here. This LIPI building was not like I imagine before. No beautiful scenery at all. Only wet land, huge meadow and old fashioned buildings before my eyes. As a training centre, this LIPI building should give an impression of smart and dignity. Yet, I found it in misery.

My families do not need to know the condition here. I will not complain. They will question the resolution I have been developing to be a researcher since last year if I do that. Anyway, I knew from the beginning that the profession of researcher is not highly appreciated in my country. So, why did I still startle by situation here?

Actually, not all is distressing. At least I can tell proudly that most of my new friends here are smart and young. Though their looks are ordinary, their academic records and accomplishment are convincing. Frankly, I become nervous to be with them since I know nothing about research. But I and my colleague (Sartik) have made resolution that we must finish this training and hold a certificate in our hand. We had been agreed by Mr. Fauzi Syam to go (he is so generous by giving us an additional allowance) and some Balitbangda’ friends said good bye and prayed the best for us. Of course they don’t deserve to be disappointed.

It is my task to catch up with time and finish the study in LIPI’s training centre. There is a target for me; I have to acquire the scientific writing skill. Back home, two or more researches have been waiting for me. It’s clear I am in my way to be a researcher, except fate decides otherwise. I have to neutralize the doubt growing in my heart before it kills my will power to be a researcher.

Anyway, I and my roommate will have fun by going shopping and travelling during the weekends. Some places are already in our list. Nothing is too bad. Must be there something nice (or quite nice) about everything, it depends on the way you look it.

I think I am ready to be a researcher, a qualified one.

8 Maret 2011

SINGAPORE YANG TAK LAGI MEMPESONA

PERTAMA KALI bertandang ke Singapore, perasaan saya meluap-luap luar biasa.  Maklum, walaupun negeri itu dapat dicapai dengan 40 menit penerbangan Jambi - Batam  plus 60 menit Batam – Singapore (dengan kapal ferry), tak semua orang mampu dan berkesempatan berkunjung ke Negeri Merlion (harimau laut)  tersebut. Berhubung Singapore adalah sebuah negara asing, diperlukan paspor untuk masuk ke sana dan segepok dollar untuk membayar ferry, taksi, shopping dan ongkos bersenang-senang lainnya.  

Beruntung akhirnya saya dan keluarga dapat menginjakkan kaki ke sana beberapa tahun lalu. Hampir semua sudut kota tersebut telah kami jajaki. Mulai dari kawasan Masjid Sultan yang bernuansa Islam, arena bermain Sentosa Island, mejeng di depan patung Merlion di sekitar Fullerton Hotel hingga shopping barang branded di kawasan Orchard Road. Untuk menambah kesan petualangan dalam wisata tiga hari tersebut, Kami pun berkeliling kota menggunakan Mass rapid Transportation (MRT) dan bus kota yang mulus dan tak pernah terjebak macet.

Pesona Singapore mulai memudar pada kunjungan kedua dan berikutnya. Singapore tak ‘seheboh’ dulu lagi. Keindahan kota yang didirikan Sir Stamford Raffles tersebut tak lagi mempesona. Kembali saya dipertemukan dengan wajah kota yang rapi dan bersih, transportasi yang lancar dan shopping mall yang mewah. Pada Sabtu sore itu, saya tak menjumpai atraksi kebudayaan Asia (timur) yang anggun, atau keramahan dan anggukan persahabatan dari warga lokal. 

Imej bahwa Singapore adalah kota yang ‘snob’ alias sombong, dibenarkan oleh warganya sendiri. Dua sopir taksi yang mengantar kami ke tujuan berbeda di Singapore mengungkapkan betapa mereka sebenarnya bukan bagian dari kemewahan kota itu.

Mohammad, seorang sopir taksi keturunan Arab mengaku tak begitu mengenal kawasan perbelanjaan walaupun dia lahir dan tinggal di Singapore. “Itu kan untuk orang kaya. Kalau saya tak pernah belanja di Orchard,” ucapnya.

Ongkos taksi cukup murah di Singapore. Sewa taksi dari Harbour Front ke Orchard Road sekitar 8 dollar atau Rp56 ribu. Tarif tersebut terhitung rendah jika dibandingkan dengan tarif taksi di Jakarta dimana jarak tempuh 15 menit bisa dikenai biaya Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu.

Namun tak seperti dulu, sopir taksi di Singapore sekarang kurang jujur. Tak jarang penumpang dikenai biaya tambahan di luar yang tertera di argo. Dengan alasan ‘ charge for peak time’ , mereka meminta tambahan beberapa dollar lagi.

Lim, sopir taksi lain juga mengakui beratnya tinggal di Singapore. “Saya bekerja sekitar 14 jam sehari. Kalau tidak, mana mungkin bisa membayar sewa flat, “ kata laki-laki yang berusia sekitar 50 tahun tersebut. 

Biaya berobat juga tidak murah di Singapore. Benar pemerintah menjanjikan potongan biaya untuk warganegaranya, namun tetap saja tak terjangkau. “ Saya pernah berobat karena sakit kepala yang tak sembuh-sembuh. Awalnya cuma dikenai biaya 80 dollar. Kemudian saya disuruh cek ulang beberapa kali. Mereka perkirakan total biayanya 4 ribu dollar. Lebih baik tidak usah saja,” cerita Lim. Dia malah memuji pelayanan kesehatan umum di Indonesia. “Di Indonesia bisa gratis. Di sini katanya diskon, tapi bayarnya tetap tinggi!”

Dibanding Negara ASEAN lainnya, kehidupan religius di Singapore nyaris tak terasa. Menurut Mohammad, kini tak ada lagi tuan guru yang kharismatis. Dia dan keluarganya tidak memperoleh bimbingan agama dari ulama. Keluarga yang menginginkan pendidikan Islam untuk anak-anaknya, biasanya datang  ke madrasah. “Selain ilmu agama, anak-anak madrasah harus belajar ilmu umum dan ketrampilan. Sekolah madrasah sekarang berat,” ucap laki-laki berkacamata ini. Akibatnya sekolah agama pun kurang diminati dan jumlahnya menyusut. Sekarang terdapat  tiga madrasah yang masih bertahan.

Sebagai kota wisata, Singapore hanya manis untuk belanja dan untuk orang sangat kaya. Ketika saya sejenak berdiri di Orchard Road, mengamati manusia bersileweran dengan tas tentengan berlogo terkenal, hati saya pun bertanya-tanya. Berapakah penghasilan orang-orang ini satu bulannya? Berapa banyak uang yang baru saja mereka habiskan? Jika melihat ke wajah pelancong yang sebagian sangat khas Indonesia, namun dengan penampilan penuh gaya serta kulit pucat mulus, saya pun berguman pada diri sendiri; alangkah kontrasnya penampilan mereka dengan sebahagian besar penduduk Indonesia. 

Pertanyaan demi pertanyaan itu membuat saya tak tahan berlama-lama di Orchard Road. Singapore membuat saya gelisah. Mendadak saya ingin segera kembali ke rumah, ke lingkungan saya yang sederhana dan  nyaman. Ke negeri saya Jambi. 

19 September 2010

MAKAN ‘BELADASAN’ DI PANTAI PADANG



Siapa pun yang belum pernah ke pantai Padang Sumatera Barat, tentu tidak akan dapat merasakan suasana deburan ombak kencang yang menghantam bebatuan dan jerit kegirangan anak-anak yang tengah berkejar-kejaran dan bermain bola pantai. Ini hanyalah salah satu yang dapat diperoleh dengan berwisata ke Pantai Padang. Tentu masih ada yang lain.


Disamping ingin merasakan suasana pantai termasuk saat-saat matahari merunduk ke peraduannya, para pengunjung yang berdatangan dari luar daerah tidak akan melewatkan kesempatan untuk mencicipi hidangan seafood yang banyak di jual di kawasan pantai tersebut.


Pantai Padang saat ini menjadi daya tarik wisata utama bagi ibukota Provinsi Sumatera Barat. Melihat kondisi saat ini, sulit untuk mempercayai bahwa beberapa tahun lalu kondisi Pantai Padang sangat memprihatinkan. Rumah-rumah reot berdiri rapat, ribuan penduduk kawasan kumuh tak sudi untuk pindah walau dijanjikan kompensasi tanah dan uang yang layak, sampah berserakan, terkadang juga kotoran manusia di atas pasir pantai. Belum lagi para peminta-minta yang ngotot minta diberi sedekah serta para penjual makanan yang berlomba pasang harga tinggi padahal sarana yang disediakan hanya berupa meja tua atau kursi kayu reot.


Kemudian, gempa yang susul menyusul dan isu tsunami secara ajaib merubah wajah pantai Padang. Para penduduk dengan suka rela bersedia dipindahkan ke pemukiman lain yang lebih aman. Pemerintah Kota Padang di bawah managemen Walikota Padang Fauzi Bahar pun memulai proyek pembangunan dam dan pelebaran jalan. Sampah-sampah dibersihkan. Para penjual makanan membenahi diri mereka dengan menyediakan tempat berjualan yang lumayan rapi, payung pantai berwarna warni serta bangku dan kursi yang cukup nyaman untuk bersantai sambil mencicipi hidangan.


Di sini hampir semua jajanan khas pantai tersedia. Sebut saja sate, pisang bakar, jagung bakar, rujak dan hidangan seafood. Di pagi hari, para penjual tangkapan hasil laut ikut meramaikan kawasan ini. Beragam ikan segar, cumi-cumi dan kepiting dijajakan, tentu saja dengan harga yang cukup miring dan belum disiram dengan formalin. Dan dalam suasana lebaran, ketika perut banyak dijejali makanan berdaging dan bersantan, keinginan untuk makan dengan menu seafood adalah pilihan yang tepat dan perangsang selera makan yang luar biasa.


Jadilah kami siang itu, di hari ke-empat setelah lebaran makan ‘beladasan’ di Pantai Padang. Ditiup angin pantai yang sepoi-sepoi, kami berpacu melahap ikan kakap bakar, udang goreng, gulai ikan dan cumi-cumi bakar. Semua hidangan ladas dalam sekejab. Harga yang kami bayar untuk semua hidangan tersebut juga tidak terlalu mahal, belum menembus nilai dua ratus ribu rupiah.


Makan di pantai Padang dalam suasana lebaran menjelma menjadi reuni keluarga yang mengesankan.