Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

19 Oktober 2010

TUKANG PIJAT KU, DI MANAKAH DIKAU…?


Penyakit pegal linu menyerang hampir semua orang, dimulai dari kelas pekerja fisik hingga pekerja otak alias kantoran. Orang dewasa, anak-anak, bahkan bayi yang baru berumur beberapa bulan, juga butuh pijatan. Ketika jamu pegal linu tidak mampu mengurangi rasa pegal-pegal di badan, tidak ada alternatif lain selain menyerahkan raga ini ke tukang pijat. Saya menyukai tukang pijat tradisional.


Namun mencari tukang pijat yang cocok, bukanlah urusan sepele. Jalannya panjang dan berliku-liku, bahkan diantara sesama pasien pun terjadi saling rebut tukang pijat. Di rumah tukang pijat top, biasanya terdapat antrian 3 hingga 5 orang. Mereka datang ke tukang pijat yang sama dengan alasan ‘pegangan’ tukang pijat tersebut mengena dengan bagian tubuh yang pegal-pegal.


Sebagian pasien ingin dipijat di rumah mereka sendiri. Alasannya; ingin lebih nyaman dan tidak terburu-buru. Namun pilihan ini sering berbuntut kecewa. Seorang tukang pijat yang diorder untuk datang ke rumah pada jam 4 sore, ternyata hingga beberapa jam kemudian tidak muncul juga. Ternyata dia sedang memijat tetangga sebelah yang kebetulan melihatnya lewat dan langsung menyeretnya ke dalam rumah.


Tukang pijat pun sering ingkar janji dan malu-malu menyebut tarif. Sering lewat telpon dia menyanggupi untuk datang namun ditunggu dan ditunggu, tidak muncul. Ternyata dia pergi memijat ke tempat lain. “Iyalah, yang jemput dia kan pakai mobil. Bayarannya pasti lebih besar. Kita-kita yang walaupun tinggal dekatan rumah, tahu diri saja,” ucap seorang ibu yang kesal karena persoalan layanan tukang pijat ini.


Banyak tukang pijat ‘panggilan’ memang tidak menyebut tarif resmi atas jasanya. Katanya takut kualat kalau mematok harga. Kepandaian memijat merupakan berkah tuhan, jadi masalah tarif tidak boleh disebut-sebut.


Tapi tukang pijat juga manusia. Kalau ada yang membayar lebih mahal, kecendrungan tukang pijat untuk melayani panggilan pasien gedongan tersebut akan lebih kuat ketimbang menyambangi pasien lain yang walaupun masih sekampung namun bayarannya ‘standar’.


Tukang pijat menjadi semakin langka, juga karena faktor tidak ada regenerasi yang mulus. Tidak semua tukang pijat mewariskan ilmunya kepada keturunannya. Begitu juga tidak semua keturunan tukang pijat mau melanjutkan profesi orangtua atau kakek neneknya. Padahal penghasilan tukang pijat lumayan lho. Jika satu orang yang dipijat memberi upah Rp.25 ribu, 5 orang pasien sudah mendatangkan uang Rp 125 ribu per hari. Modalnya hanyalah minyak kelapa, balsem atau minyak kayu putih. Kalau dipanggil ke rumah bayarannya pun lebih besar, berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu, plus buah tangan yang lain seperti kue atau kain sarung.


Jadi, meskipun pijat refleksi bertabur di mana-mana, tukang pijat tradisional tetap sangat dibutuhkan. Sayang, tak banyak yang tertarik jadi tukang pijat ini. Gak keren kali ya?

13 Oktober 2010

Every One will love Balitbangda

Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Jambi merupakan salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkup Pemerintah Provinsi Jambi yang masih eksis pasca penerapan PP No. 41 tahun 2007. Harapan tentu saja sangat besar, yaitu agar badan yang saat ini dipimpin oleh Fauzi Syam S.H., M.H. ini mampu melakukan penyusunan kebijakan dan melaksanakan kebijakan daerah di bidang penelitian dan pengembangan daerah, sesuai dengan tugas utamanya yang telah diatur dalam Peraturan Gubernur No. 31 tahun 2008.


Dua tahun telah berlalu sejak pemberlakukan PP No. 41 tahun 2007 tersebut. Sebagaimana SKPD lain yang masih berkutat untuk keluar dari problem besar mereka; rendahnya kualitas sumber daya pegawai, minimnya program kerja yang benar-benar menyentuh kepentingan masyarakat serta penyelesaian administrasi keuangan yang sering berujung pada temuan bahkan kasus korupsi dan lain-lain, Balitbangda pun menghadapi persoalan yang kurang lebih sama. Akan tetapi beban instansi ini bertambah berat dengan adanya pencitraan negatif tentang dirinya; banyak orang mengatakan bahwa Balitbangda Provinsi Jambi adalah instansi para pejabat dan pegawai buangan.


Citra negatif ini muncul dan pasti ada alasannya. Namun tulisan ini tidak akan membahas hal tersebut. Yang lebih penting adalah bagaimana membangkitkan Balitbangda dari keterpurukannya dan segera menjadi instansi Pemerintah Provinsi Jambi yang didengar hasil penelitian/kajiannya, menjadi faktor penentu apakah sebuah kebijakan perlu dilanjutkan atau tidak, atau apakah sebuah program pembangunan dapat mulai dilaksanakan atau perlu disempurnakan dulu sebelum diluncurkan oleh sebuah SKPD.


Guna meraih pencapaian tersebut, tentu saja perlu kerja keras. Sebenarnya kinerja Balitbangda selama ini tidaklah buruk-buruk amat. Beberapa hasil penelitiannya cukup mendapat respon seperti kajian tentang uji kelayakan program ikan patin, kajian tentang kinerja penyuluh atau kajian tentang pola penggaduhan sapi. Walau tidak diserap seratus persen, kajian tentang pola penggaduhan sapi, oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dijadikan bahan untuk menyusun pola gaduhan ternak pemerintah yang lebih menguntungkan masyarakat. Dan saat ini pola gaduhan tersebut telah disahkan dalam bentuk Peraturan Gubernur No 7 tahun 2010 tentang pola gaduhan ternak pemerintah daerah .


Jika Balitbangda ingin membenahi dirinya, ada beberapa hal yang mendesak untuk dilakukan dalam waktu dekat ini. Yang pertama adalah perlunya penyusunan database tentang judul dan hasil penelitian yang telah dilaksanakan sejak berdirinya Balitbangda atau setidaknya sejak lima tahun terakhir. Jika data utama ini tidak ada, orang-orang bisa jadi meragukan bahwa selama ini Balitbangda tidak mengerjakan apa-apa. Namun jika database ini dipunyai oleh Balitbangda, sangat banyak pihak yang tertolong; para mahasiswa, para peneliti, pejabat pemerintah ataupun warga masyarakat lainnya yang ingin mendapatkan informasi berkaitan dengan penelitian tersebut.


Walaupun hasil penelitian cukup banyak, itu bukan patokan bahwa nama Balitbangda akan berkibar. Perlu dibentuk sebuah tim untuk mengkaji kembali tentang hasil peneltian tersebut. Salah satu yang perlu dikaji adalah apakah penelitian/kajian tersebut mendapat respon SKPD dan masyarakat. Tidak usah takut bila respon tersebut bersifat negatif atau kecaman. Respon negatif dapat berfungsi sebagai vitamin yang dapat membangkitkan gairah para peneliti dan para pejabat yang kebijakannya diteliti atau dikaji. Sepanjang pimpinan Balitbangda dapat mengelola ‘konflik’ tersebut dengan baik, endingnya akan berbuah manis untuk kepentingan masyarakat Jambi.


Yang juga cukup penting diperhatikan, sudahkan Balitbangda atau para penelitinya mempublikasikan penelitian atau kajian mereka dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat? Jangan-jangan para peneliti Jambi hanya memfokuskan perhatiannya pada publikasi di jurnal ilmiah, padahal peran media massa sangat besar untuk menyampaikan pesan penelitian tersebut kepada pejabat pemerintah atau masyarakat. Perlu diketahui bahwa selama ini pihak media kesulitan mendapatkan narasumber yang tepat untuk menanggapi top news saat itu. Jika saja kebutuhan pihak media untuk mendapatkan narasumber yang kompeten dipertemukan dengan keinginan Balitbangda untuk mempublikasikan hasil penelitiannya dan didengar oleh decision makers di Provinsi Jambi atau masyarakat, ini akan menjadi blessing in disguise (berkah tersembunyi) bagi penguatan peran Balitbangda di masa datang.


Penguatan peran Balitbangda tidak akan terwujud jika kurang mendapat dukungan dari Gubernur, Kepala Bappeda atau pimpinan SKPD lainnya. Selama ini cukup kental penolakan atau kekhawatiran terhadap hasil kajian yang menyangkut kebijakan pembangunan daerah. Sesungguhnya tidak perlu khawatir jika semua sama-sama menyadari bahwa kajian tersebut bertujuan untuk mendukung kegiatan pemerintah agar lebih baik, efisien dan fokus untuk kepentingan masyarakat. Selama penelitian dilakukan dengan metode dan pengambilan kesimpulan yang benar, apalagi ditambah dengan penyampaian (komunikasi) yang tidak menghakimi, maka Insya Allah, everyone will love Balitbangda. (Ir. Asnelly Ridha Daulay, M. Nat Res Ecs/ Kandidat Peneliti pada Balitbangda Provinsi Jambi).

30 September 2010

Terima Kasih and Good Bye ….

Beberapa hari lagi aku akan meninggalkan kantor yang menjadi sawahku sejak delapan tahun terakhir. Tak seorang pun yang dapat menahanku lebih lama. Aku siap memulai hariku di Balitbangda, di tempat aku akan menjadi seorang peneliti; peneliti apa saja, termasuk peneliti tingkah laku manusia.


Rumah lamaku ini menyimpan banyak kenangan. Ketika datang, aku masihlah seorang perempuan muda berputra dua dengan wajah polos dan jernih. Aku diabaikan. I am nothing, sampai terbukti bahwa diriku lebih dari sekedar nothing. Delapan tahun kemudian, inilah aku; perempuan matang, dengan kerutan halus di dahi serta banyak goresan di hati.


Bagi rekan-rekanku di sini mungkin juga aku tlah meninggalkan luka yang tak dapat diungkapkannya kepadaku. Aku merasa, banyak yang kecewa karena tidak ikut dalam ’perjalanananku’. Sebagian lagi kecewa karena aku tidak membawa mereka ke posisi yang lebih baik. Yang lain, tergores pedih karena kata-kataku. Tapi,… aku bisa membela diri kan…? Aku hanyalah pejabat dengan level rendah. Dayaku tidak sebesar harapan mereka walau bisik-bisik mengatakan, aku orang kedua di dinas ini. Bullshit, … sebutan itu membuatku menjadi bulan-bulanan dan tanpa sadar telah membulatkan tekadku untuk keluar dari sini.


Banyak hal manis yang aku teguk dari kantor ini. Cita-citaku untuk menjadi seorang yang dapat diandalkan tlah terwujud. Targetku untuk sekolah lagi dengan beasiswa terlaksana, bahkan sekolah ke luar negeri. Keinginanku untuk memiliki sedikit harta dari jerih payahku sendiri, terkabul. Niatku untuk bertamu ke Masjid Haram terlaksana. Sebagai seorang wanita di usia 40-an, aku bangga pada pencapaianku.


Semoga, hari-hariku di Balitbangda menjadi lebih baik. Di sana tidak perlu banyak bicara tentang diriku. Aku tidak mau menjadi orang munfik. Cukuplah Allah yang tahu rahasia hatiku. Jika pun aku populer nantinya, itu karena mereka membaca bukuku yang masuk list best seller, atau karena aku menjadi pembicara tamu yang keren.


Diriku harus berbeda dan menjadi lebih baik. Posisi apapun untukku, tidak boleh dari hasil minta-minta. Aku bercita-cita menjadi 100% diriku, karena jika tidak, aku tidak mungkin mukhlis 100% seperti diharapkanNYA.


Allah, mohon dengarlah aku?

Kantorku,.... terima kasih. Good bye!

26 September 2010

MY GARDEN

A conventional look, (still) I love my garden very much

AWAS, …BAHAYA OVERFISHING DI DANAU SIPIN!

Ingin ikan tawar segar dan murah? Silakan datang ke tepian Danau Sipin di Buluran, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Di sini, dari pukul tujuh pagi hingga pukul lima petang, deretan kios ikan yang umumnya ditunggui perempuan setengah baya siap menjajakan ikan yang anda cari; ikan lambak, bujuk, lele, nila, baung, patin, hingga ikan yang makin langka saat ini seperti toman dan lais.


Bagi Halimah, 52 tahun, Danau Sipin adalah berkah. Lebih dari 10 tahun dia berjualan ikan danau di kios kayu sederhana dan sempit, yang dibangun di pinggir jalan Buluran tersebut. Modal usahanya hanyalah uang ratusan ribu rupiah untuk menampung ikan yang ditangkap oleh nelayan setempat. Hasilnya digunakannya untuk menghidupi keluarganya hingga ke tujuh anaknya merangkak dewasa seperti saat ini.


“Tiap pagi mulai jam enam, saya sudah ada di sini, menunggu nelayan mengantarkan ikan,” jelas perempuan berkulit hitam manis ini. Ikan yang ditampung dan dijualnya tidak sama setiap hari, tergantung tangkapan hari itu. Kalau lagi musim ikan, hampir semua jenis ikan danau tersedia, namun pada saat banjir atau air danau dangkal, pernah dia tidak berjualan. “Ikannya tidak ada,” jelas Halimah yang bersuamikan seorang petani kebun karet ini.


Danau Sipin memiliki luas sekitar 42 ha dan saat ini merupakan lokasi pengembangan budidaya ikan keramba di Kota Jambi. Ikan yang dibudidayakan adalah ikan nila, ikan mas, dan patin Jambi. Tidak semua ikan yang dijual di Buluran merupakan ikan ‘asli’ danau tersebut, namun sebagian merupakan ikan yang ‘lolos’ dari keramba tersebut, lalu hidup liar di danau beberapa waktu dan kemudian ditangkap oleh nelayan setempat.


Dari sekian jenis ikan danau yang dijual Halimah, ikan yang tergolong mahal harganya adalah ikan lais, baung, toman dan jenggot. Harganya kadang melampai Rp30 ribuan per kilogram. Walaupun cukup mahal, pembelinya selalu ada karena ikan tersebut termasuk ikan kesukaan masyarakat Melayu Jambi. “Ikan jenis tersebut kadang tidak sempat lagi dijajakan karena sudah dipesan dan tinggal menunggu dijemput pembelinya,” terang Halimah yang mengaku penghasilannya tidak menentu dari jual beli ikan ini.


Ikan yang paling murah, tentu saja ikan lambak, icon ikan Danau Sipin. Begitu murahnya, harganya sekilonya hanya Rp.10 ribu, bahkan kadang diobral hanya Rp 7 ribu atau Rp5 ribu. Nampaknya nelayan setempat tidak mau melewatkan ikan lambak yang masuk ke jaring mereka, walaupun ikan yang terjaring tergolong anak ikan atau jumlah yang ditangkap sudah banyak.


Bicara mengenai untung yang diperoleh, Halimah pun menjawab diplomatis. “Semua kan tergantung musim. Kalau banyak ikan, yo banyak untungnyo. Kalau lagi sepi, yo itulah baru rezekinyo,” ucapnya sambil mengutarakan rasa syukurnya karena pelebaran jalan Buluran satu tahun terakhir telah membawa konsumen yang lebih banyak lagi.


Rata-rata pedagang ikan dan nelayan di kawasan tersebut tidak memiliki wawasan yang cukup tentang bagaimana menjaga kelestarian Danau Sipin. Belum terbersit di pikiran mereka bahwa ketidaklestarian alam dan prilaku overfishing (penangkapan ikan secara berlebihan), suatu saat nanti dapat memangkas habis rezeki mereka. Fenomena makin langkanya beberapa jenis ikan seperti ikan toman, dan ikan jenggot nampaknya belum menggugah hati mereka.


Sampai kapankah mereka dapat meraup rezki dari kemurahan alam tersebut? Jika penduduk sekitar Danau Sipin kurang peduli terhadap kelestarian sumber daya ikan di Danau Sipin, bisa-bisa beberapa tahun mendatang para penikmat ikan lambak atau baung,- jenis ikan yang saat ini relatif mudah didapat-, tak akan menemukan ikan itu lagi di kawasan tersebut, menyusul ikan toman yang kini sudah pergi entah kemana. (Asnelly Ridha Daulay)