Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart
Tampilkan postingan dengan label JAMBI-QU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAMBI-QU. Tampilkan semua postingan

19 Oktober 2011

Jalan “Budaya dan Olahraga” H. Agus Salim


Satu lagi kawasan yang cukup hijau di Kota Jambi dan karenanya menjadi indah dipandang mata adalah kawasan sepanjang jalan H. Agus Salim di Kota Baru. Di sini terdapat monumen sederhana yang mungkin dimaksudkan sebagai penanda bahwa kawasan tersebut adalah pusat pemerintahan Walikota Jambi. Monumen tersebut dikenal sebagai mini Monas-nya Jambi.

Ruas jalannya cukup panjang hingga mencapai Simpang Kebun Handil dan apik ditumbuhi pohon tua. Trotoar di jalan ini juga lebar dan kondisinya masih bagus. Pada akhir pekan sering diselenggarakan pertunjukan band anak muda dan road race. Tak heran bila di sini banyak terpasang umbul-umbul dari sponsor penyelenggara acara tersebut.

Selain merupakan kawasan perkantoran, di sini terdapat dua gedung besar yang menjadi pusat aktivitas olahraga dan seni. Gedung Olah Raga (GOR) Kota Baru merupakan sasana bagi generasi muda Jambi berlatih olah raga beladiri, atletik atau sekedar belajar mengendari motor dan mobil. Sebenarnya tempat ini cukup potensial untuk dikembangkan menjadi pusat hiburan masyarakat yang murah, namun karena tak diurus dengan baik, penampilan gedung ini malah memprihatinkan.

Satu lagi gedung yang terlunta-lunta adalah GOS Kotabaru. Semestinya gedung ini dimanfaatkan untuk kegiatan berkesenian namun entah mengapa tempat itu menjadi begitu senyap, nyaris tanpa kegiatan. Padahal tak jauh di sampingnya berdiri Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, tempat dibuat dan diluncurkannya kebijakan pembangunan di bidang kebudayaan dan wisata.

Mungkin karena kurangnya dukungan pemerintah untuk menghidupkan kawasan itu, keindahan dan keteduhan jalan Agus Salim tak termanfaatkan dengan sempurna. Seandainya di lokasi terbuka yang terdapat di kawasan itu ditampilkan atraksi budaya Jambi; tari japin, pencak silat, rebana dll, seperti atraksi budaya China yang sering ditampilkan di Orchard Road Singapura, Jalan Agus Salim bisa menjadi pusat hiburan sekaligus menanamkan kecintaan masyarakatnya terhadap budaya Melayu.

“Tanggo Rajo” Ancol

Salah satu tempat favorit warga Kota Jambi adalah kawasan Ancol. Kawasan ini terletak di daerah aliran Sungai Batanghari tepatnya di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi. Yang menambah cantik lokasi ini adalah adanya rumah pesanggrahan Tanggo Rajo yang eksotis. Dari lokasi ini kita dapat melihat sisi keindahan Kota Jambi dimana pohon-pohon tua masih kokoh berdiri, seolah-olah mereka menjadi saksi bisu perkembangan Kota Jambi khususnya kawasan Ancol. Pohon-pohon ini menambah asrinya kawasan ini.
Duduk di tempat pengunjung yang dibuat permanen memberikan kesan tersendiri. Kawasan ini mulai terjaga kebersihannya, jalannya mulus dan bagus, fasilitas taman dan tempat duduk terjaga dengan baik dan rapi. Di bagian bawah, tepatnya di pinggir Sungai Batanghari, terdapat tempat duduk yang tak kalah nyamannya. Seolah-olah seperti stadion terbuka yang menyajikan indahnya pemandangan Sungai Batanghari dengan latar belakang perkampungan Seberang kota Jambi.
Disini kita dapat melihat keindahan Sungai Batanghari yang banyak dilalui oleh ketek maupun boat angkutan penumpang. Sesekali penambang ketek menawarkan jasanya dengan ramah kepada pengunjung untuk melihat Kota Seberang.
Kawasan ini bertambah ramai pada sore dan malam hari. Di sepanjang pinggir jalan dapat kita jumpai pedagang makanan dan minuman seperti jagung bakar aneka rasa, sate, nasi goreng, siomay, es tebu, dan lain-lain. Banyaknya pengunjung yang datang ke Ancol menumbuhkan peluang usaha bagi pedagang makanan dan minuman yang tentunya dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.
Walaupun kawasan Ancol berdampingan dengan kompleks Mall namun para pedagang kecil ini tetap optimis bahwa Ancol adalah salah satu pilihan rekreasi keluarga yang murah untuk melepaskan penat. Murah karena untuk memasuki kawasan ini tidak dipungut biaya masuk alias gratis. Pedagang mengakui banyak sekali pengunjung yang datang ke Ancol pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya. Terkadang pada hari Kemerdekaan RI atau Hari Ulang Tahun Provinsi Jambi diadakan lomba Perahu Naga.
Pada senja hari yang cerah kita dapat melihat rona kuning kemerahan matahari yang tenggelam (sunset) di Sungai Batanghari. Perlahan-lahan semburat cahaya matahari tenggelam seolah-olah menyambut datangnya malam hari yang indah di Kota Jambi. Pada malam hari Ancolpun disulap seperti Kota Batam. Tampak lampu-lampu menghiasi Seberang Kota Jambi. Duduk santai bersama keluarga di akhir pekan sambil menikmati jagung bakar dan es tebu merupakan pilihan makanan dan minuman andalan kawasan ini.
Sayangnya, ketika kita melihat dari dekat Sungai Batanghari yang terkenal dengan julukan “Naga dari Selatan”, naga ini seolah-olah tercemar keberadaannya dikarenakan sampah/limbah yang dibuang ke sungai. Sampah plastik, kayu, botol, limbah jagung banyak mengapung di tepi sungai. Seandainya saja ada petugas kebersihan yang khusus mengangkut sampah-sampah yang mengapung di pinggir sungai maka “Sang Naga” akan tampak semakin indah.
Terkadang aroma tak sedap tercium yang mungkin berasal dari pembuangan limbah pasar, Mall atau hotel yang dibuang ke sungai. Sebaiknya pemerintah memperhatikan dan menindak pemilik Mall atau hotel yang masih membuang limbahnya ke sungai Batanghari. Karena jika hal ini terus dibiarkan bukan tak mungkin 2 tahun kedepan Sungai Batanghari tercemar, airnya menjadi hitam, berbau dan menjadi genangan sampah.
Pengelolaan parkir untuk kendaraan bermotor yang sering mengambil badan jalan perlu dikritisi karena mengakibatkan kemacetan. Pada malam Minggu sering dijumpai klub-klub motor berkumpul mencari hiburan di kawasan ini. Satu hal lagi yang dikeluhkan orang tua yang membawa anak-anaknya adalah tidak tersedianya fasilitas dan arena bermain untuk anak-anak. Apalagi dekatnya dengan jalan raya menimbulkan rasa was-was akan keselamatan anak-anak tersebut. (Weni)

18 Oktober 2011

Sepanjang Jalan Kenangan A. Yani


Kompleks Kantor Gubernur Jambi di Jalan A. Yani Telanaipura adalah alun-alunnya Kota Jambi. Di sanalah berbagai aktivitas warga pada akhir pekan seperti jalan santai, senam massal atau bersepeda ria diselenggarakan . Selain memiliki lapangan luas, deretan pepohonan di sepanjang Jalan Yani benar-benar indah dan menentramkan jiwa.

Jalan Yani ditata sebagaimana jalan utama di kota-kota besar dunia, semisal jalan-jalan di negara terdekat Singapura. Menyusuri jalan ini dengan berjalan kaki, di bawah keteduhan pepohonan tua, serta diterangi lampu jalan yang berlekuk dan berhias gaya asli Jambi, tiba-tiba kita disuguhi pemandangan “istana” gubernur Jambi yang elegan dengan warna off whitenya yang muncul di ujung rimbunan dedaunan. Sungguh sebuah keindahan yang mahal di tengah kota yang terus berpacu dengan kegiatan bisnis dan seringkali akhirnya harus mengabaikan harmonisasi dengan alam.

Terlihat bahwa bagian kota yang satu ini terus dijaga, pohonnya disiram dan dirawat secara teratur dan trotoar jalannya cukup bagus walau ada yang pecah di beberapa bagian. Pemandangan di sini sangat kontras dengan bagian kota yang lain, yang tak punya trotoar dan pepohononannya ditebang karena mengganggu aktivitas perdagangan.

Meski tak terlalu menambah nilai kecantikan spot ini, keberadaan gedung perkantoran dengan halaman yang luas serta taman yang terawat membuat kawasan Yani semakin berwibawa. Dari sinilah sebagian besar kebijakan pembangunan negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dibuat dan diluncurkan.

Sayangnya, kehadiran pedagang bergerobak dan remaja yang ugal-ugalan dengan kendaraan bermotor di sore dan malam hari cukup merusak mata dan mengganggu aktivitas mereka yang ingin menyusuri jalan kenangan ini. Seandainya kawasan ini dapat menjadi kawasan bebas kendaraan bermotor, setidaknya pada hari Sabtu dan Minggu, ini dapat mengurangi sembrawutnya lalu lintas di Kota Jambi, sekaligus mendukung kampanye go green pemerintah.

17 Oktober 2011

An Open Letter. “You broke our heart!”

You are never aware the pain you left in our heart. Even though we elaborate it one by one and with tear, you may not care. Because in your mind, we are only tool that you use when you need it, we are only an ATM machine where you come to withdraw some money. Since we mean objects, you never pay respect to us.

Now you bother us again with your perverted religion practice and sue the inheritance of our late mom while our father is still alive. Why is your heart so cold and no kindness at all in it? Who did tell you that you still have a right in the family's inheritance by looking at the fact that you are not a moslem anymore?

My brother, once you were the most handsome one in the family and made our parent so happy. You could reduce our suffer by listening to your heart. For the sake of our relation in the past and your sons who are still our concern, don't be so cruel to us. Please leave us alone and get someone else you can rely on. For the sake of our papa who ever treated your family very well and without any complaint, let him enjoy his elderly life in calmness, entertained by the beautiful Qielah.

For such a long time we accepted you as you were, we aplogized your sculduggery and deceit . It was our mistake to cover all of your bad behaviours, but Allah know that we did that in hope someday you will grow up and become a responsible man. But you walk away and away from us. We are sorry to say this but you have to be out from our circle now.

My brother, take this concequency bravely. Please be sportive! Don't be coward. Your god (perhaps) is willing to help you.

16 Oktober 2011

Speak Right to His Heart

It's not easy to deal with a teenager. And now i face that, it's my dear Fathur, the source of my concerns. He always tries his best to forget, ignore, even argue my order. Even though his IQ is high, it seems that it is quite difficult for him to understand my words. Is that because of the nature of rebellion in himself or because I fail to speak right to his heart?

Every time I ask him to do pray or to study, he says 'yes' first but forget it one minute after that. I do not want to quarrel with him; the last one was very hot and I promised not to have another one anymore. Anyway, he is so nice when we are talking about other matters such as football or people in our family. I do not want to lose the nice figure of him because of the difference between us.

I notice that he becomes so antipathy once we start talking about religion practice or school. Perhaps he sees them as burdens in his youthful life. He doesn't understand yet that not all in this world is pleasant and easy. Some contain of human tasks. You have to do that in order to be a better and responsible human. Every time I remind him about this, it seems I have put something heavy on his shoulder. Who can teach me how to speak so he is not antipathy anymore to the subjects i put forward?

That is not my intention to make his life difficult. I love him dearly. I pray that he can balance his life well, enjoy it as well as accept the task with pleasant and sincere heart. If i should change the way i speak, please tell me how? My dear, please open your heart so i can speak right to it.

13 Oktober 2011

Long lasting Foolishness


Please do not think that research conducted by a PhD (Doctor) or a Professor must be execellent! At least in Jambi, there is no big difference between research conducted by a low level researcher and that of Doctor or Professor, especially ones funded by Balitbangda.

Like the researches exposed today, I can not see/ hear something new or interesting. They only produced summaries and recommendations that are already public commons. In another sentence, without those reasearches every one is familiar enough with such kind of information and recommendation.

I am wondering now, do they realize that they are cheating the community by producing such kind of research? That (perhaps) would be not a big deal if the research is just their own initiatives or self-funded. Yet in this case, the provincial government gave fund to that research in hope they will produce useful solution for the problems in this developed province. What they gave today was so disappointing as well as humiliating their professions as either lecturer or researcher.

I can not forgive them money hungry. They have been betraying their profession just for the sake of material things. Physically They are not poor. Their hearts are!

So... I got nothing from today seminar. I even can not ask, the time was out ( or it was purposely designed so no one had chance to ask/clarify the methodolgy of research). I was pity of my boss who looked satisfied since the Sekda was willing to come and gave speech. The finalization of research project satisfies her so much but she does not consider the outcome of that researches

How pity you are my Jambi... Again your smart children cheat and do foolishness. I hope I am wrong; but I sense that this mass duping will last long. No indication yet this will end soon.

10 Oktober 2011

A Loser or A True Rebellion


If you never feel that your luckiness has been ended, please read what i share about that. 

Right now I am in that feeling. The situation, the people and even the things around me are not supported to work well and to reach things I fight for. The people make me sick. No ethics and good values hold by this community, so not suprising the fair play is far away from their points of view. I am tested and I feel I will not be able to pass it.

It' difficult, very exhausted indeed, to get a little appreciation here. Just a few people see me as a human, there are more people see me as one whom can be used to finish their work, to increase their good reputation or to enrich their selves. Without shyness they use me!

The only friend I have now is the man who married me. He accompanies me these last 15 years but he also can't help. His recommendation was ignored. I am wondering how could they dismiss his recommendation after what he did and fought for Jambi?

Once I intended to do fasting everyday so desires in my self will die slowly. My life would be easier if I don't have any target or ambition. Without desire in my heart, of course I don't need to compete anymore. I will satisfy with all I get, despite no energy left to fight, the things or status also have been destined to be mine.

I have prayed every day, almost every night, not complain whatsoever happened. Everything is already in its place, isn't it? Once I ever lived in glory and now the time to live in modesty is coming..., i should take it sincerely. But how difficult it is to set that concept into my mind. Is that because i am a true rebellion? Or I am actually only a big loser?

30 September 2011

SIAPA MAU JADI PENELITI?

PROFESI peneliti masih kalah pamor dibanding profesi lainnya di Indonesia. Alasannya cukup benderang; tantangan pekerjaan yang tak ringan, memerlukan pemikiran yang luas dan objektif, seringkali menuntut perjalanan ke lapangan yang cukup berat sedangkan penghasilannya tak sebesar profesi lain yang berbasiskan intelegensi. Hal lain yang membuat citranya turun adalah fakta hasil penelitian sering diabaikan alias tak digunakan atau tersimpan menjadi seonggok dokumen lapuk dan tak up to date lagi.
Meski kurang populer, segelintir orang masih menekuni kegiatan kepenelitian dengan dedikasi yang patut dipuji. Mereka adalah para guru, dosen dan fungsional peneliti yang bekerja di lembaga litbang milik daerah.
Pada Simposium Nasional Hasil Penelitian dan Inovasi Pendidikan yang diselenggarakan di Denpasar Bali tanggal 20 sampai 22 September 2011 ditampilkan karya tulis insan pendidikan dan fungsional peneliti yang disarikan dari penelitian mereka. Para guru dan dosen yang diundang pada simposium itu melakukan penelitian walau tanpa dukungan dana sepeserpun dari pemerintah.
Kepala Pusat Penelitian dan kebijakan Kementrian Pendidikan, Ir. Hendarman M.Sc. Ph.D mengatakan bahwa pihaknya berusaha untuk mempromosikan kegiatan penelitian dan menjadikan hasil penelitian sebagai dasar pengambilan kebijakan. Tentu saja tidak semua hasil penelitian dapat dijadikan kebijakan karena dirinya mengakui pula bahwa banyak penelitian yang sifatnya resarch is just for research yaitu penelitian yang hanya untuk memenuhi hasrat meneliti tanpa terkait dengan kebutuhan lingkungan. Menurutnya penelitian yang dapat dijadikan kebijakan adalah penelitian yang menyangkut permasalahan di lingkungan sekolah terutama proses kegiatan belajar-mengajarnya. “Inilah yang bisa diangkat sebagai dasar pengambilan kebijakan,” ucapnya.
Ucapan Hendarman ini benar adanya. Banyak sekali hasil penelitian di Indonesia tak terpakai karena dibuat bukan berdasar kebutuhan tapi karena ‘keinginan’, apakah itu keinginan penelitian cepat selesai, penelitian pesanan atau keinginan untuk memperoleh uang dari proyek penelitian tersebut.
Tapi sesungguhnya ada juga penelitian yang bagus yang tidak ditindaklanjuti menjadi kebijakan. Pertimbangannya macam-macam. Ada hasil penelitian yang bertentangan dengan policy kepala daerah, implementasinya terlalu berat untuk dibiayai, hingga kekurangpedulian decision maker terhadap hasil penelitian itu sendiri. Padahal di negara maju hampir semua kebijakan dibuat berdasarkan penelitian. Hal itu pula yang membuat banyak peneliti jenius Indonesia yang akhirnya menerima tawaran untuk bekerja di negara lain seperti Malaysia. Singapura, Jepang bahkan Amerika Serikat dan negara Eropa. Sebab negara ini tak kunjung menghargai profesi peneliti.
Tak heran banyak kebijakan dan program pembangunan di negara kita muncul mendadak dan kemudian hilang tak berbekas. Padahal dana yang dikucurkan untuk program itu tak tanggung-tanggung, contoh program budidaya Ikan Patin Jambal yang pernah menjadi program unggulan Provinsi Jambi.
Berkaca pada pengalaman terdahulu, seharusnya Jambi tak lagi mengabaikan hasil penelitian. Apalagi Sekretaris Daerah Provinsi Jambi Ir. Syahrasadin pernah menjadi pejabat eselon III di Badan Litbang Daerah Provinsi Jambi. Artinya, orang nomor satu di jajaran birokrasi Pemprov Jambi yang juga seorang mantan dosen ini paham benar tentang sulitnya menjadi peneliti dan betapa berharganya hasil penelitian itu.
Dengan dukungan dan penghargaan sepatutnya terhadap peneliti dan hasil kerjanya, pasti banyak yang mau jadi peneliti.
(Ir. Asnelly Ridha Daulay, M. Nat Res Ecs/ Peneliti pada Badan Litbang Daerah Provinsi Jambi dan Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia Provinsi Jambi).

17 September 2011

Menceraikan Istri di Lubuk Larangan


JANGAN pernah berbuat curang di Lubuk Larangan! Itu adalah peringatan yang selalu akan diingat oleh warga desa di sepanjang aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Merangin Jambi. Mengapa? Karena denda dan hukuman yang diberikan kepada anggota masyarakat yang memancing ikan di Lubuk Larangan atau menyembunyikan hasil tangkapan saat panen ikan, sangatlah besar. Yakni denda satu ekor sapi untuk mereka yang memancing atau mencuri ikan dan hukuman harus menceraikan istri bila ketahuan tidak menyerahkan hasil panen ke desa.
Hal ini dibenarkan oleh  Juliana, 25 tahun, seorang warga Desa Bukit Batu Kecamatan Sungai Manau. “Denda atau hukumannya memang harus besar. Kalau tidak, pasti banyak yang mencoba-coba untuk mencuri ikan dari lubuk larangan milik desa,” katanya.
Hampir semua desa yang dilalui aliran sungai di kabupaten Merangin memiliki lubuk larangan sendiri. Keberadaan tambak ikan di sungai tersebut merupakan salah satu wujud kebersamaan warga desa. Mulai dari penyebaran bibit, menjaganya hingga panen raya tiba, sangat pekat dengan unsur gotong royong. Kegiatan membuka lubuk larangan selalu menjadi ajang yang ramai dikunjungi dan merupakan hiburan tersendiri bagi warga desa.
Menurut penjelasan Joni, 32 tahun,  warga Desa Bunga Tanjung Kecamatan Pangkalan Jambu, bibit ikan yang ditebar di lubuk larangan dikumpul dari sumbangan penduduk desa. “Masing-masing kepala keluarga menyumbang Rp20 ribu” .
Selama satu tahun tak seorang pun diperkenankan untuk mengambil ikan. Setelah dianggap cukup besar, desa akan membentuk panitia untuk memanen ikan-ikan tersebut. Jumlah tenaga yang diturunkan ke lubuk sekitar 40 orang dan semuanya telah bersumpah untuk tidak akan menyembunyikan hasil tangkapan. “Kalau berani melanggar, sumpah berlaku. Cerai dengan istri,” ucapnya sambil tertawa. Sumpah yang sangat efektif karena sejauh ini belum ada yang nekad melanggarnya.
Karena benih ikan yang ditabur beragam jenisnya, ikan yang dipanen pun tak berasal dari satu jenis. Ada ikan baung, semah, tilan, palau dan Nila. Hasil panen dapat mencapai 250 kg yang kemudian dibagi tiga bagian; sepertiga untuk kas desa, sepertiga untuk karang taruna dan sepertiga lainnya dibagi adil untuk seluruh warga yang ikut menyumbang pembelian benih ikan. Bagian ikan untuk kas desa dan karang taruna selanjutnya dilelang dengan harga Rp80 ribu per kilonya dan uangnya masuk ke kas masing-masing.
Melihat kepatuhan warga desa terhadap aturan yang mereka buat sendiri, maka tidak heran bila penduduk desa di tiga kecamatan paling ujung Kabupaten Merangin ini; Sungai Manau, Bukit Jambu dan Perentak menjadi negeri yang cukup makmur. Meski infrastruktur jalan ke desa mereka tak bagus, namun kebutuhan sandang dan pangan hingga pembiayaan pendidikan anak-anak mereka tercukupi dengan baik. Kerelaan mereka bekerjasama untuk mengisi kas desa serta mencari uang untuk mendanai kegiatan pemuda-pemudi mereka patut diacungi jempol.
Walaupun Merangin dikelompokkan sebagai salah satu Kabupaten terisolir di Indonesia, daerah ini sesungguhnya merupakan negeri yang kaya potensi  sumber daya alam dan kearifan lokal warganya. Tinggal menunggu sentuhan tangan pemerintah agar semua potensi tersebut berkembang optimal. 

The Beauty of Sungai Manau






GULAI KUYUNG

pakis + siput sungai + santan, sungguh lezat dan pedas

TAK TAKUT GAGAL TANAM

28 Juli 2011

Jambi Minim Cendera Mata?

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2012 yang akan dipusatkan di Provinsi Jambi akan menjadi kesempatan emas untuk mengenalkan budaya dan kerajinan unggulan daerah ini.  Ratusan tamu dan pengunjung dari seluruh Indonesia dan luar negeri akan tumpah ruah ke Jambi, memadati hotel dan ruang pertemuan serta pusat-pusat perbelanjaan. 
Layaknya orang yang berkunjung ke suatu daerah, pastilah mereka ingin mengetahui alam, budaya dan makanan setempat. Sekembalinya nanti, mereka tentu ingin membawa souvenir yang ringan dan menarik sebagai tanda mata yang mengingatkan akan kunjungannya ke tanah Jambi.
Bagi provinsi lain yang telah berpengalaman menangani even nasional seperti Sumbar dan Sumsel, ajang sekelas HPN pasti akan dimanfaatkan untuk meningkatkan jual beli di kalangan pengrajin dan pedagang di daerahnya. Bagaimana dengan Jambi? Apakah momen berharga ini juga dapat dimanfaatkan oleh para pengrajin dan pedagangnya mengingat selama ini cukup sulit mencari souvenir khas Jambi yang handy, terjangkau harganya dan menarik?
Sebenarnya cukup banyak kerajinan daerah Jambi yang dapat ditawarkan kepada tamu HPN nantinya. Salah satunya adalah batik Jambi. Motif batik Jambi sangat khas dan banyak ragamnya seperti Kepak Lepas, Cendawan, Batang Hari, Gong, Ayam, Matohari, Anggur, Duren Pecah, Kaco Piring, Kupu-Kupu, Pauh, Kembang Duren, Keladi, Angsoduo, Bayam Ginseng, Kapal Sanggat dan Atlas.  
Sayangnya harga batik Jambi relatif mahal. Batik yang ditawarkan kebanyakan dalam bentuk lembaran kain atau baju. Padahal kalau dibuat menjadi dompet, tas kecil atau kipas, souvenir berbahan dasar batik Jambi itu bisa lebih handy dan terjangkau harganya.
Demikian juga dengan ukiran kayu betung yang cukup terkenal ke luar daerah Jambi, para pengrajinnya telah lama kehilangan gairah. Kios kerajinan kayu betung di sepanjang jalan Desa Pemayung kini terlihat sepi dengan barisan kayu ukir yang kusam dan berdebu. Desain ukiran itu ke itu saja dan harganya semakin mahal, konon karena bahan mentahnya semakin sulit diperoleh.
Selain kerajinan kayu dan batik, terdapat juga kerajinan perhiasan batu alam (sejenis akik). Diantaranya yang khas dan hanya terdapat di Jambi adalah batu Sarang Tawon. Namun karena kurangnya promosi dan masih rendahnya produksi, perhiasan buatan Jambi ini pun mahal harganya.
Syukurlah makanan khas Jambi seperti empek-empek, kerupuk kemplang, lempok dan dodol nenas telah dikemas menarik di banyak gerai di Kota Jambi dan toko di bandara Sulthan Thaha sehingga dapat menjadi oleh-oleh mereka. Walaupun jenis dan variasinya belum menyamai provinsi lain, cukuplah untuk dijadikan oleh-oleh.
Bila Jambi ingin menjadi tuan rumah yang menyenangkan serta memanfaatkan seoptimal mungkin momen berharga HPN, ketersediaan cendera mata khas Jambi harus diperhatikan dari sekarang. Masih ada waktu kurang lebih 7 bulan ke depan. Siapa yang mau memanfaatkan peluang usaha ini? Haloo Dekranasda Jambi...siapkah menjawab tantangan ini?(ARD)

25 Juli 2011

JANGAN SAMPAI AYAM MATI DI LUMBUNG PADI




ADA PERTANYAAN yang cukup menggelitik dari Dewan Riset Daerah Provinsi Jawa Timur ketika berkunjung ke Jambi 14-16 Juli lalu. Sebagai daerah yang agribisnis perkebunan dan pertambangannya sedang berkembang, apakah Jambi telah memiliki sekolah atau jurusan pendidikan yang mendukung bidang usaha tersebut?
Pertanyaan tersebut dilontarkan para pakar dari berbagai disiplin ilmu tersebut dilatarbelakangi kondisi sekarang dimana semua provinsi di Indonesia tengah berpacu untuk mengurangi angka kemiskinan. Namun sebagian besar program pembangunan yang dilaksanakan lebih bersifat menangani kemiskinan yang ada saat ini dan mengabaikan potensi terciptanya kemiskinan baru karena kurang tersedianya lapangan pekerjaan dan kurangnya kompetensi tenaga kerja.
Provinsi Jambi mungkin termasuk yang abai dalam hal penyediaan pendidikan yang relevan dengan bidang usaha yang tengah berkembang di daerahnya. Sampai saat ini belum terdengar adanya perguruan tinggi yang memiliki jurusan perkebunan atau pertambangan, dua bidang usaha yang booming saat ini. Di jajaran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jambi memiliki jurusan pertanian yang jumlahnya terbatas. SMK yang menyediakan bidang keahlian agribisnis/agroindustri hanya berjumlah 28 SMK sedangkan jurusan pertambangan belum  ada.
Merujuk kepada data Jambi Dalam Angka tahun 2005-2009, jumlah tenaga kerja yang ditempatkan masih lebih rendah dari lowongan yang tersedia. Artinya pekerjaannya tersedia tapi pekerjanya tak memenuhi syarat untuk mengisi lowongan tersebut. Contohnya pada tahun 2009, tersedia 5.332 lowongan pekerjaan tapi penempatan hanya 4.349. Berarti ada selisih 983 lowongan pekerjaan yang tak terjamah oleh para pencari kerja di daerah ini.
Jika kecendrungan ini dibiarkan terus meningkat, ini alamat pengangguran makin tinggi di Provinsi Jambi. Penyediaan tenaga kerja yang memenuhi kompetensi yang disyaratkan oleh lapangan usaha adalah mutlak, sulit untuk ditawar. Terdapat beberapa alasan mengapa kita harus khawatir dengan menjamurnya Orang Miskin Baru (OMB) akibat meningkatnya jumlah pengangguran di Jambi.
Alasan pertama adalah kurang tersedianya sekolah atau jurusan yang link dengan kebutuhan dunia usaha. Di tingkat sekolah menengah, jumlah SMK jauh lebih rendah dari jumlah SMA yang ada. Tahun 2009 terdapat 228 SMA  sedangkan SMK kurang dari separuhnya yaitu berjumlah 107. Kita semua tahu bahwa tamatan SMA dibekali dengan ilmu umum sehingga kompetensinya untuk memasuki dunia kerja cukup rendah. Hanya sekitar 10% dari tamatan SMA yang meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, berarti sekitar 90% sisanya menjadi tenaga kerja tak siap pakai.
Jika mengamati dunia pendidikan di Jambi, terkesan perkembangannya monoton. Jurusan baru yang dibuka di Universitas Jambi misalnya adalah jurusan “pasaran”, sudah banyak disediakan oleh universitas lain dan tidak link dengan kebutuhan industri berkembang saat ini. Nampaknya kebijakan untuk menyerap lebih banyak mahasiswa-lah yang menjadi prioritas, bukannya melahirkan lulusan yang siap dan mampu memenuhi permintaan bursa kerja.
Pemahaman masyarakat tentang pemilihan jurusan pendidikan yang siap pakai pun belum berkembang dengan baik. Banyak yang mendaftar ke universitas memilih jurusan berdasarkan pertimbangan “asal bisa diterima” atau memilih fakultas/jurusan yang akrab di telinga. Wajar jika fakultas tertentu masih banyak peminatnya walaupun pengangguran bertitel tersebut bertebaran di mana-mana. Demikian juga masih banyak siswa yang memilih masuk SMA karena lebih keren dibanding SMK, walau dirinya menyadari tak mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi nantinya.
Bila Jambi tak mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja terlatih, dunia usahanya tentu tak akan menunggu lama. Mau tak mau mereka akan mendatangkan tenaga kerja dari luar Provinsi bahkan luar negeri. Ini akan menjadi kerugian ganda bagi daerah ini; lulusan sekolah dan perguruan tinggi bertambah, pengangguran pun meningkat dan orang luar menikmati hasil lebih besar di negeri ini. Orang Jambi akan seperti ayam yang mati di lumbung padi.
Melihat  kondisi ini sudah sepatutnya pemerintah daerah membuat kebijakan yang memastikan institusi pendidikan untuk membangun link dengan dunia kerja. Sebenarnya Gubernur Jambi dalam beberapa kesempatan telah mengungkapkan tergetnya tentang komposisi SMK: SMA di tanah Jambi menjadi 60 : 40. Namun jika tidak ada kebijakan untuk menumbuhkan SMK baru dan meningkatkan minat masyarakat kepada SMK itu sendiri, target tersebut sulit tercapai.
Universitas besar yang ada di Jambi seharusnya tak lagi berorientasi menjaring mahasiswa baru sebanyak-banyaknya demi meningkatkan pendapatan sendiri. Melahirkan lulusan yang dapat bersaing harus menjadi prioritas lebih penting.
(Ir. Asnelly Ridha Daulay, M. Nat Res. Ecs/ Peneliti Balitbangda Provinsi Jambi).

15 Juni 2011

Ada Apa Dengan Pelajaran Bahasa Indonesia?

PERTANYAAN ini pantas diajukan dan mendapat perhatian kita semua mengingat tingkat kegagalan siswa yang sangat tinggi pada ujian nasional (UN) yang baru saja diumumkan. Pelajaran Bahasa Indonesia (BI) telah menjadi batu sandungan di mana sekitar 1.786 siswa SLTA atau sekitar 38,43% dari siswa yang tidak lulus dikarenakan nilai BI mereka berada di bawah standar UN. Bahasa Indonesia telah menjadi momok menakutkan setelah pelajaran matematika semenjak UN diselenggarakan beberapa tahun lalu.

Ketidaksukaan terhadap pelajaran ini telah bermula sejak siswa berada pada tahun pertama jenjang pendidikan dasar. Bahkan disinyalir banyak siswa lebih menyukai pelajaran Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dibanding BI. Hal ini tentu mengherankan mengingat BI adalah bahasa nasional dan harian bangsa ini. Selain digunakan oleh lebih dari 250 Juta penduduk negeri ini, BI juga digunakan oleh penduduk di negara berbahasa melayu seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Fakta yang cukup membanggakan adalah sekitar 45 negara asing telah mengajarkan Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah mereka seperti Australia, Amerika Serikat, Kanada, Vietnam dan lain-lain. Bahkan hingga era 1990-an, BI adalah bahasa asing yang paling populer di Australia. 

Lalu mengapa pelajaran Bahasa Indonesia menjadi begitu menakutkan bagi generasi muda bangsanya sendiri?Apakah BI pelajaran yang sangat sulit? Di manakah kira-kira letak sulitnya? 

Pada hakekatnya sebuah bahasa telah memenuhi fungsinya bila dua orang yang menggunakannya telah dapat saling memahami dan berkomunikasi. Sebagai bahasa percakapan, BI termasuk yang paling gampang dipelajari. Tak heran bila seorang asing yang datang atau menetap sementara di Indonesia akan bisa bercakap Indonesia dalam kurun waktu singkat. Dengan berkembangnya alat komunikasi telepon serta jangkauan media elektronik dan cetak yang lebih luas, penduduk Indonesia yang tinggal di daerah pedesaan pun dapat memahami BI walau ketika diminta menuliskannya menjadi kurang benar atau belum tepat.

Agaknya Bahasa Indonesia menjadi sulit ketika masuk ke wilayah penulisan dan pemahaman bacaan. Jika ditelusuri ke sekolah-sekolah yang mengajarkan BI akan terlihat bagaimana pelajaran ini tidak disampaikan dengan cara yang inovatif dan menarik. Sangat sedikit sekali guru BI yang mau mengembangkan cara pengajaran menulis dan membangkitkan minat baca siswanya padahal mereka bisa meniru atau memodifikasi (sebagai contoh) cara pengajaran Bahasa Inggris yang dikenal sangat atraktif tersebut.

Dalam kondisi saat ini di mana para guru telah mendapat tunjangan profesi yang lebih baik dibanding masa-masa lalu, sudah sepatutnya korps guru BI mengintrospeksi diri tentang metode pengajaran mereka selama ini. Bukan hendak menyalahkan, namun Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal juga berpendapat bahwa peran guru sangat besar untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap pelajaran BI.

Menurut Fasli, ketidaktertarikan siswa terhadap pelajaran BI telah dimulai sejak pendiikan dasar karena banyak guru yang mengajarkan pelajaran ini belum berjenjang pendidikan strata 1. Hal ini menyebabkan gaya mengajar mereka tak berkembang. Faktor lain adalah para guru termasuk mereka yang mengajar di tingkat pendidikan SLTP dan SLTA malas membaca atau mengoreksi tulisan/karangan siswanya sehingga pelajar tersebut tidak memperoleh feedback dari tulisan/karangan yang ditugaskan kepada mereka.

Saya juga mencurigai bahwa minat rendah dari guru BI untuk mengembangkan cara mengajar yang menarik sudah dibawa dari bangku kuliah. “Kelesuan” ini berhubungan dengan rating fakultas pendidikan BI yang rendah dan tak naik-naik dari tahun ke tahun. Mahasiswa yang kuliah di Jurusan bahasa Indonesia sering karena “terpaksa”, hanya agar bisa diterima di perguruan tinggi negeri.

Indikasi tersebut diperkuat oleh data bahwa Fakultas Pendidikan BI tak termasuk 5 fakultas favorit di  Universitas Pendidikan Indonesia. Rektor Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan pada tahun 2011 ini jurusan yang paling diminati di institusi yang dipimpinnya adalah Pendidikan Ilmu Biologi, Bahasa Inggris, Pendidikan Ilmu Komputer, Pendidikan Manajemen dan terakhir Pendidikan Akuntansi.

Alhasil karena pendidikan BI kurang menarik maka rendah pula minat generasi muda terhadap profesi yang berhubungan dengan kemampuan mengolah Bahasa Indonesia (yang baik dan benar) seperti profesi wartawan dan penulis. Padahal kedua profesi ini termasuk profesi yang disukai dan dipandang intelek di negara maju.

Melihat kondisi ini, sudah sepatutnya semua pihak meningkatkan kepeduliannya, terutama para guru dan institusi negara yang mengurus masalah pendidikan. Terdengar klise namun ini benar adanya; jangan sampai Bahasa Indonesia menjadi asing di negeri sendiri.

(Penulis : Ir. Asnelly Ridha Daulay M. Nat Res Ecs, pemerhati masalah pendidikan dan peneliti pada Balitbangda Provinsi Jambi).

24 Mei 2011

IS THAT STILL ‘HARAAM’ TO ASK FOR A POSITION WHEN I HAVE FULFILLED ALL QUALIFICATIONS?


Dear Readers,
I am not sure of myself anymore. All doors seem to be closed and no prospect I can see ahead of me. No one is willing to help or at least to push and give me spirit to go on. I am in dilemma whether taking my current career as it is or fighting for a higher position. If I run for the second choice, I have to ask help to someone who has big power in order to make it true. Is it already the time to lower myself and ask such a help? 
My heart keeps saying that that step will be dangerous for my moral. Though I want a change in my life and I have promised to dedicate my work for my office, my country and my family, the consequences of that choice are huge.
According to my religion it is banned to ask for a government position especially if it aims to enrich you. Indeed it is allowed to do so for the sake of community interest but the challenges to maintain that good intension will be very hard. Islam pushes its followers to have clean heart and life, position or fortune is only a mean to reach it.
But I have my own reasons, these they are; I can’t stand life in indignity and just become an ordinary woman. I need to be acknowledged by the skill I have. Furthermore I want to contribute my fortune to relatives and neighbors who live in poor/difficulties. Since I was only a very young girl I had set in my mind about the life I would have in future. Until now I still fight for that…That is why I pursue my education, work hard to fulfill all qualifications needed and never forget to pray.
Now I am facing the situation where my boss doesn’t care of me and other researchers. She gets confused and panic. Two months in my office, she did nothing. She has no idea how to fix Balitbangda.  She already makes me sick. All critics about her as well as the demand to change my life, bring me to the dilemma I mentioned before; is that time for me to fight for a position?
Most of my productive time is spent in office; it’s a pity if that comes to nothing. Suppose I have other choices, I will not think of this too much. Frankly I hate to be ignored. I really hate to see a stupid person being my boss, and then give orders what to do and not to do while he just sits and enjoys a big income. 
Oh my Lord, why this life can’t be just simple?