Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

15 Juni 2011

Ada Apa Dengan Pelajaran Bahasa Indonesia?

PERTANYAAN ini pantas diajukan dan mendapat perhatian kita semua mengingat tingkat kegagalan siswa yang sangat tinggi pada ujian nasional (UN) yang baru saja diumumkan. Pelajaran Bahasa Indonesia (BI) telah menjadi batu sandungan di mana sekitar 1.786 siswa SLTA atau sekitar 38,43% dari siswa yang tidak lulus dikarenakan nilai BI mereka berada di bawah standar UN. Bahasa Indonesia telah menjadi momok menakutkan setelah pelajaran matematika semenjak UN diselenggarakan beberapa tahun lalu.

Ketidaksukaan terhadap pelajaran ini telah bermula sejak siswa berada pada tahun pertama jenjang pendidikan dasar. Bahkan disinyalir banyak siswa lebih menyukai pelajaran Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dibanding BI. Hal ini tentu mengherankan mengingat BI adalah bahasa nasional dan harian bangsa ini. Selain digunakan oleh lebih dari 250 Juta penduduk negeri ini, BI juga digunakan oleh penduduk di negara berbahasa melayu seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Fakta yang cukup membanggakan adalah sekitar 45 negara asing telah mengajarkan Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah mereka seperti Australia, Amerika Serikat, Kanada, Vietnam dan lain-lain. Bahkan hingga era 1990-an, BI adalah bahasa asing yang paling populer di Australia. 

Lalu mengapa pelajaran Bahasa Indonesia menjadi begitu menakutkan bagi generasi muda bangsanya sendiri?Apakah BI pelajaran yang sangat sulit? Di manakah kira-kira letak sulitnya? 

Pada hakekatnya sebuah bahasa telah memenuhi fungsinya bila dua orang yang menggunakannya telah dapat saling memahami dan berkomunikasi. Sebagai bahasa percakapan, BI termasuk yang paling gampang dipelajari. Tak heran bila seorang asing yang datang atau menetap sementara di Indonesia akan bisa bercakap Indonesia dalam kurun waktu singkat. Dengan berkembangnya alat komunikasi telepon serta jangkauan media elektronik dan cetak yang lebih luas, penduduk Indonesia yang tinggal di daerah pedesaan pun dapat memahami BI walau ketika diminta menuliskannya menjadi kurang benar atau belum tepat.

Agaknya Bahasa Indonesia menjadi sulit ketika masuk ke wilayah penulisan dan pemahaman bacaan. Jika ditelusuri ke sekolah-sekolah yang mengajarkan BI akan terlihat bagaimana pelajaran ini tidak disampaikan dengan cara yang inovatif dan menarik. Sangat sedikit sekali guru BI yang mau mengembangkan cara pengajaran menulis dan membangkitkan minat baca siswanya padahal mereka bisa meniru atau memodifikasi (sebagai contoh) cara pengajaran Bahasa Inggris yang dikenal sangat atraktif tersebut.

Dalam kondisi saat ini di mana para guru telah mendapat tunjangan profesi yang lebih baik dibanding masa-masa lalu, sudah sepatutnya korps guru BI mengintrospeksi diri tentang metode pengajaran mereka selama ini. Bukan hendak menyalahkan, namun Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal juga berpendapat bahwa peran guru sangat besar untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap pelajaran BI.

Menurut Fasli, ketidaktertarikan siswa terhadap pelajaran BI telah dimulai sejak pendiikan dasar karena banyak guru yang mengajarkan pelajaran ini belum berjenjang pendidikan strata 1. Hal ini menyebabkan gaya mengajar mereka tak berkembang. Faktor lain adalah para guru termasuk mereka yang mengajar di tingkat pendidikan SLTP dan SLTA malas membaca atau mengoreksi tulisan/karangan siswanya sehingga pelajar tersebut tidak memperoleh feedback dari tulisan/karangan yang ditugaskan kepada mereka.

Saya juga mencurigai bahwa minat rendah dari guru BI untuk mengembangkan cara mengajar yang menarik sudah dibawa dari bangku kuliah. “Kelesuan” ini berhubungan dengan rating fakultas pendidikan BI yang rendah dan tak naik-naik dari tahun ke tahun. Mahasiswa yang kuliah di Jurusan bahasa Indonesia sering karena “terpaksa”, hanya agar bisa diterima di perguruan tinggi negeri.

Indikasi tersebut diperkuat oleh data bahwa Fakultas Pendidikan BI tak termasuk 5 fakultas favorit di  Universitas Pendidikan Indonesia. Rektor Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan pada tahun 2011 ini jurusan yang paling diminati di institusi yang dipimpinnya adalah Pendidikan Ilmu Biologi, Bahasa Inggris, Pendidikan Ilmu Komputer, Pendidikan Manajemen dan terakhir Pendidikan Akuntansi.

Alhasil karena pendidikan BI kurang menarik maka rendah pula minat generasi muda terhadap profesi yang berhubungan dengan kemampuan mengolah Bahasa Indonesia (yang baik dan benar) seperti profesi wartawan dan penulis. Padahal kedua profesi ini termasuk profesi yang disukai dan dipandang intelek di negara maju.

Melihat kondisi ini, sudah sepatutnya semua pihak meningkatkan kepeduliannya, terutama para guru dan institusi negara yang mengurus masalah pendidikan. Terdengar klise namun ini benar adanya; jangan sampai Bahasa Indonesia menjadi asing di negeri sendiri.

(Penulis : Ir. Asnelly Ridha Daulay M. Nat Res Ecs, pemerhati masalah pendidikan dan peneliti pada Balitbangda Provinsi Jambi).

24 Mei 2011

IS THAT STILL ‘HARAAM’ TO ASK FOR A POSITION WHEN I HAVE FULFILLED ALL QUALIFICATIONS?


Dear Readers,
I am not sure of myself anymore. All doors seem to be closed and no prospect I can see ahead of me. No one is willing to help or at least to push and give me spirit to go on. I am in dilemma whether taking my current career as it is or fighting for a higher position. If I run for the second choice, I have to ask help to someone who has big power in order to make it true. Is it already the time to lower myself and ask such a help? 
My heart keeps saying that that step will be dangerous for my moral. Though I want a change in my life and I have promised to dedicate my work for my office, my country and my family, the consequences of that choice are huge.
According to my religion it is banned to ask for a government position especially if it aims to enrich you. Indeed it is allowed to do so for the sake of community interest but the challenges to maintain that good intension will be very hard. Islam pushes its followers to have clean heart and life, position or fortune is only a mean to reach it.
But I have my own reasons, these they are; I can’t stand life in indignity and just become an ordinary woman. I need to be acknowledged by the skill I have. Furthermore I want to contribute my fortune to relatives and neighbors who live in poor/difficulties. Since I was only a very young girl I had set in my mind about the life I would have in future. Until now I still fight for that…That is why I pursue my education, work hard to fulfill all qualifications needed and never forget to pray.
Now I am facing the situation where my boss doesn’t care of me and other researchers. She gets confused and panic. Two months in my office, she did nothing. She has no idea how to fix Balitbangda.  She already makes me sick. All critics about her as well as the demand to change my life, bring me to the dilemma I mentioned before; is that time for me to fight for a position?
Most of my productive time is spent in office; it’s a pity if that comes to nothing. Suppose I have other choices, I will not think of this too much. Frankly I hate to be ignored. I really hate to see a stupid person being my boss, and then give orders what to do and not to do while he just sits and enjoys a big income. 
Oh my Lord, why this life can’t be just simple?

19 Mei 2011

THE LICENSES ARE SOLD OUT


 Tomorrow there will be another rotation among the structural staffs in the Provincial Government of Jambi. Just a few months ago, the same rotation happened and now it comes again. Since I am not the part of it, I don’t need to be worried or on the contrary happy. Yet I need to be concerned with money politics behind that process as I heard quite soundly. I am one of provincial government staff who wants progress for this province. When will this region get up from its down position if the high level officials never give attention to this issue?
Money and connection becomes the important part of rotation in this “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah“ Province. I hear that someone is willing to pay around Rp30 million for the position of echelon IV while for position of echelon III the price hits the amount of Rp100 million. O my God! Of course no one will speak up voluntarily to confirm this issue. One friend just laughed at issue, he did not say either yes or deny.
Looking at to the quality of new promoted staffs (I watch some of them), frankly I am disappointed. How the Governor put a high expectation on him/her,  to bring the idea/ concept into actions etc if his capability in explaining the working plans, managing the subordinates or (this is very ashamed) typing is very low? Besides those weaknesses, they don’t have courage as well to learn quickly about the job. This is only a joking among my friends, i.e. they don’t need to catch up to acquire the job since they have bought that license (position) for a certain year. So, whether the work runs well or goes to hell, they don’t care!
Indeed it is very sad to see all happens in front of my eyes. I can do nothing to help. I even cannot fight for my own research project (My boss does not respond yet my proposal). I notice too that some colleagues in this office look at me in a suspicious way (perhaps it relates to some critics I ever revealed).
Now life is not easy for me. But as a fighter (cielah…hahaha), I will not give up. I just need take deep breath, try to think purely and then imply all ideas into this blog. Allah will back me, Insya Allah.

KOTORAN TERNAK PEMBAWA BERKAH


PETERNAK sapi dan kerbau di desa Kota Baru Kecamatan Geragaii Kabupaten Tanjab Timur maju selangkah. Sejak diujicobakannya pembuatan biogas di desa tersebut, para peternak semakin bergairah untuk meningkatkan skala usaha peternakannya karena ternyata kotoran ternak yang selama ini menumpuk tidak termanfaatkan dengan baik, bahkan menyebabkan lingkungan rumah mereka tidak bersih, sekarang memberikan nilai tambah yang lebih besar untuk peningkatan kualitas hidup dan perekonomian warga di desa eks trans tersebut . Menurut pengakuan Pak Deni (54 tahun), salah seorang anggota kelompok tani ternak Suka Maju, sejak sebulan lalu istrinya telah menggunakan biogas asal kotoran ternak untuk memasak, layaknya ibu-ibu di kota yang menggunakan gas LPG untuk memasak.
Peternak yang memiliki 7 ekor kerbau ini dapat menghemat uang keluar untuk membeli minyak tanah. ”Istri saya juga tidak perlu antri untuk mendapatkan minyak tanah,” katanya. Api yang dihasilkan oleh kotoran ternak tersebut tidak berbau dan berwarna biru, sama sekali tidak meninggalkan bekas di peralatan masak milik keluarga petani tersebut.
Keuntungan lebih besar dinikmati oleh Mugi (52 tahun), sang ketua kelompok yang selain beternak sapi juga memiliki usaha sampingan pembuatan tahu. Bio gas tersebut dipakai untuk mengolah sekitar 55 Kg kacang kedelai untuk menjadi tahu setiap harinya. Penghematan bahan bakar yang dilakukan cukup besar meski dia belum menghitung berapa rupiah yang dapat di hemat dari penggunaan kotoran gas tersebut. Keuntungan lain yang diperoleh Pak Mugi adalah tersedianya ampas tahu untuk pakan tambahan bagi ternak sapinya. Setiap pagi dan sore ternaknya memperoleh jatah 2 ember ampas tahu atau sekitar 30 Kg. Tidak heran, jika petani asal Jogja ini memiliki rumah permanen yang cukup besar di hamparan lahan seluas seperempat hektar.
Teknologi pembuatan bio gas dari kotoran ternak mulai diujicobakan di desa Kota Baru pada awal bulan Maret tahun 2007. Dari 14 unit yang diujicobakan, 13 unit diantaranya berhasil menghasilkan gas, sedangkan 1 unit yang dicoba pertama kali mengalami kebocoran. Untuk menghasilkan gas, peternak yang mendapatkan dana percontohan ini membangun kolam kotoran yang ditembok batu bata dengan ukuran sekitar 1,5 x 3 meter. Kolam ini kemudian ditutup rapat dengan plastik tebal agar gas yang dihasilkan tidak menguap ke udara. Sebuah alat pengatur gas digantung di atas kolam penampungan yang berfungsi mengatur pengeluaran gas ke alam bebas jika terdapat kelebihan gas. Alat pengatur ini sangat vital untuk menghindari terjadinya ledakan karena tekanan gas yang berlebihan. Dari kolam kotoran tersebut, gas dialirkan ke rumah dengan rumah, telah menunggu sebuah kantung plastik besar dan tebal berukuran sekitar 1 x 2 meter untuk menampung gas methane dari kolam tersebut. Gas tersebutlah yang kemudian dialirkan ke kompor gas.
Semua komponen pembuatan jaringan biogas yang tergolong cukup sederhana ini beserta kompornya dibeli dari sebuah perusahaan di Bandung, Jawa Barat, tempat dimana mereka melaksanakan magang sebelum pengerjaan proyek ini dimulai. Untuk menghasilkan gas pertama kali, diperlukan kotoran sebanyak 2 ton. Kotoran tersebut diaduk sedikit demi sedikit dengan air dengan komposisi setiap 50kg kotoran diaduk 50 liter air. Pengadukan dilakukan di dalam sebuah galon ukuran 100 liter. Setelah adukan rata, sedikit demi sedikit kotoran encer itu dialirkan melalui lobang yang dibuat di bagian bawah galon tersebut.”Kami menunggu selama 1 minggu sampai gas terkumpul cukup banyak dan dapat dialirkan ke rumah’ kata Syahmaliadi, PPL di desa tersebut yang menjadi pendamping kelompok dalam uji coba pembuatan bio gas tersebut.
Untuk mendapatkan gas secara berkala, pengadukan dan pengaliran kotoran ke kolam penampungan cukup dilakukan setiap 3 atau 4 hari sekali, dengan komposisi 50 kg kotoran dan 50 lieter air. Selain menghasilkan gas, kolam penampungan nantinya akan mengeluarkan kotoran yang tidak mengandung gas lagi. Kotoran ini merupakan pupuk kompos yang sangat baik untuk pemupukan tanaman. Mengingat kondisi tanah di Tanjab Timur yang memiliki kadar sulfat masam yang tinggi, keberadaan pupuk kompos dalam jumlah besar akan berguna untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk buatan dan lebih ramah lingkungan.
 Peternak di desa ini nampaknya perlu bersiap-siap untuk mendapatkan sumber pendapatan baru yaitu produksi pupuk kompos. Baik peternak maupun PPL yang melaksanakan kegiatan ujicoba pembuatan biogas ini mengaku puas dengan hasil yang diperoleh. Magang yang dilaksanakan di Lembang Jawa Barat sebelum proyek bernilai 75 juta ini diujicobakan di Tanjab Timur, terbukti memberikan manfaat yang besar bagi mereka. Banyak warga desa lain berniat mengikuti jejak mereka untuk beternak karena untuk menghasilkan bio gas, tidak perlu memiliki ternak banyak. Kotoran dari 3 sampai 4 ekor ternak sapi sudah cukup menghasilkan biogas bagi pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga. (Ir.Asnelly Ridha Daulay, M.Nat Res Ecs).