Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

27 Mei 2012

Suku Anak Dalam; Sebuah Transformasi Peradaban yang Gagal?



PERJALANAN ke salah satu dusun yang dihuni Suku Anak Dalam (SAD) di Senami, Desa Jebak Kecamatan Muara Tembesi tak terlalu susah. Dari Kota Jambi, mobil APV yang membawa kami hanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk mencapai dusun yang berada di teritori Kabupaten Batanghari tersebut.
Yang membuat kami lelah, tak lain melihat kehidupan suku asli ini. Melewati jalan tanah dan barisan rumah mereka, kami seperti berjalan memasuki abad yang lalu.
Perasaan itu muncul begitu saja. Rumah SAD seharusnya dikelaskan sebagai rumah keluarga “bawah pra sejahtera”. Hanya berdinding kayu, berlantai tanah atau cor semen  kasar dan atap yang tak sepenuhnya bisa melindungi dari panas dan hujan.
“Rumah kami basah kalau hujan,” kata Saini, 74 tahun, tentang rumah yang katanya dibangun oleh Dinas Sosial Provinsi Jambi tahun 1999 lalu. Bersama istrinya, bekas kepala dusun ini melewati hari tuanya di rumah panggung tersebut. Tak ada kamar di rumah itu, seonggok kasur tua tampak ditumpuk di pojok ruangan.
Selain rumah yang sangat sederhana, kebersihan juga masih jauh dari kehidupan suku ini. Beberapa anak yang ditemui, belepotan ingus dan tanah, tak beralas kaki dan mengenakan baju kotor. Anjing menjadi teman bermain anak-anak tersebut, memegang dan menggendongnya dengan akrab. Hal yang tak biasa dilakukan oleh anak-anak dari keluarga muslim.
“Meskipun di KTP-nya muslim, tapi pengetahuan Islam mereka dangkal. Puasa dan shalat…belum bisa, “ucap Kepala Dusun Senami, Rosmiyati.  Bukannya tak ada usaha dirinya dan pemerintah untuk meningkatkan kehidupan religius suku asli ini, tapi diakui memang sangat sulit.
“Butuh kesabaran yang tanpa batas. Tak bisa mengharapkan hasil cepat,” ucap wanita keturunan Serang Banten ini. Bersama suaminya yang mengelola satu-satunya masjid di kawasan tersebut, Rosmiyati tak berhenti menyeru SAD untuk menjadi muslim yang baik. 
Agaknya sangat sulit untuk meningkatkan kualitas hidup suku rimba ini. Formula yang diterapkan oleh pemerintah masih jauh dari harapan. Upaya yang sukarela dilakukan kelompok masyarakat dan mahasiswa, juga belum berhasil menyentuh hati Orang Rimba.
SAD memang tak lagi tinggal di rimba. Mereka bahkan tak lagi hidup dengan mengandalkan hasil hutan seperti damar, jernang atau rotan. SAD sekarang tercabut dari akar kehidupan rimbanya, namun sebagai orang modern, mereka pun tidak bertransformasi dengan baik.
Indikasinya dapat dilihat dari tingkat pendidikan mereka. Anak-anak SAD di sini berpendidikan sebatas sekolah dasar. Bahkan banyak yang hanya bersekolah satu atau dua tahun saja.
“Sekolah jauh, anak saya capek,” jelas Musman. Ayah empat anak kelahiran 1970 itu tak merasa terganggu dengan keterbatasan pendidikan anak-anaknya. Tiga dari empat anaknya hanya tamat SD.
Sekolah dasar memang cukup jauh kalau ditempuh berjalan kaki. Namun dengan banyaknya SAD yang memiliki sepeda motor, alasan jauh tersebut kurang dapat diterima. Terkesan bahwa kebanyakan kepala keluarga SAD tak peduli dengan pendidikan anak-anaknya.
Contohnya saja Musman, satu dari sedikit keluarga SAD yang tergolong mampu di dusun tersebut. Dia yang memiliki kebun karet cukup luas dan berpenghasilan tambahan sebagai pengumpul madu di kawasan perkebunan akasia PT. WKS, belum menganggap pendidikan penting. Kemodrenan di rumahnya hanya ditandai dengan satu unit televisi plus decorder tivi digital.
Demikian juga dengan para perempuan muda SAD. Kebanyakan mereka belum termotivasi untuk meningkatkan keterampilan. Waktu mereka dihabiskan untuk duduk bercengkerama.  Kegiatan pengajian atau pelatihan untuk meningkatkan ekonomi keluarga, belum menarik hati mereka. Bahkan kebiasaan mengayam yang dulunya sangat akrab dengan kehidupan wanita SAD, telah ditinggalkan.
Melihat kondisi itu, akankah SAD bisa bertransformasi menjadi masyarakat modern sementara generasi mudanya tak berpendidikan dan berketerampilan cukup?(****)