Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

30 September 2010

Terima Kasih and Good Bye ….

Beberapa hari lagi aku akan meninggalkan kantor yang menjadi sawahku sejak delapan tahun terakhir. Tak seorang pun yang dapat menahanku lebih lama. Aku siap memulai hariku di Balitbangda, di tempat aku akan menjadi seorang peneliti; peneliti apa saja, termasuk peneliti tingkah laku manusia.


Rumah lamaku ini menyimpan banyak kenangan. Ketika datang, aku masihlah seorang perempuan muda berputra dua dengan wajah polos dan jernih. Aku diabaikan. I am nothing, sampai terbukti bahwa diriku lebih dari sekedar nothing. Delapan tahun kemudian, inilah aku; perempuan matang, dengan kerutan halus di dahi serta banyak goresan di hati.


Bagi rekan-rekanku di sini mungkin juga aku tlah meninggalkan luka yang tak dapat diungkapkannya kepadaku. Aku merasa, banyak yang kecewa karena tidak ikut dalam ’perjalanananku’. Sebagian lagi kecewa karena aku tidak membawa mereka ke posisi yang lebih baik. Yang lain, tergores pedih karena kata-kataku. Tapi,… aku bisa membela diri kan…? Aku hanyalah pejabat dengan level rendah. Dayaku tidak sebesar harapan mereka walau bisik-bisik mengatakan, aku orang kedua di dinas ini. Bullshit, … sebutan itu membuatku menjadi bulan-bulanan dan tanpa sadar telah membulatkan tekadku untuk keluar dari sini.


Banyak hal manis yang aku teguk dari kantor ini. Cita-citaku untuk menjadi seorang yang dapat diandalkan tlah terwujud. Targetku untuk sekolah lagi dengan beasiswa terlaksana, bahkan sekolah ke luar negeri. Keinginanku untuk memiliki sedikit harta dari jerih payahku sendiri, terkabul. Niatku untuk bertamu ke Masjid Haram terlaksana. Sebagai seorang wanita di usia 40-an, aku bangga pada pencapaianku.


Semoga, hari-hariku di Balitbangda menjadi lebih baik. Di sana tidak perlu banyak bicara tentang diriku. Aku tidak mau menjadi orang munfik. Cukuplah Allah yang tahu rahasia hatiku. Jika pun aku populer nantinya, itu karena mereka membaca bukuku yang masuk list best seller, atau karena aku menjadi pembicara tamu yang keren.


Diriku harus berbeda dan menjadi lebih baik. Posisi apapun untukku, tidak boleh dari hasil minta-minta. Aku bercita-cita menjadi 100% diriku, karena jika tidak, aku tidak mungkin mukhlis 100% seperti diharapkanNYA.


Allah, mohon dengarlah aku?

Kantorku,.... terima kasih. Good bye!

26 September 2010

MY GARDEN

A conventional look, (still) I love my garden very much

AWAS, …BAHAYA OVERFISHING DI DANAU SIPIN!

Ingin ikan tawar segar dan murah? Silakan datang ke tepian Danau Sipin di Buluran, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Di sini, dari pukul tujuh pagi hingga pukul lima petang, deretan kios ikan yang umumnya ditunggui perempuan setengah baya siap menjajakan ikan yang anda cari; ikan lambak, bujuk, lele, nila, baung, patin, hingga ikan yang makin langka saat ini seperti toman dan lais.


Bagi Halimah, 52 tahun, Danau Sipin adalah berkah. Lebih dari 10 tahun dia berjualan ikan danau di kios kayu sederhana dan sempit, yang dibangun di pinggir jalan Buluran tersebut. Modal usahanya hanyalah uang ratusan ribu rupiah untuk menampung ikan yang ditangkap oleh nelayan setempat. Hasilnya digunakannya untuk menghidupi keluarganya hingga ke tujuh anaknya merangkak dewasa seperti saat ini.


“Tiap pagi mulai jam enam, saya sudah ada di sini, menunggu nelayan mengantarkan ikan,” jelas perempuan berkulit hitam manis ini. Ikan yang ditampung dan dijualnya tidak sama setiap hari, tergantung tangkapan hari itu. Kalau lagi musim ikan, hampir semua jenis ikan danau tersedia, namun pada saat banjir atau air danau dangkal, pernah dia tidak berjualan. “Ikannya tidak ada,” jelas Halimah yang bersuamikan seorang petani kebun karet ini.


Danau Sipin memiliki luas sekitar 42 ha dan saat ini merupakan lokasi pengembangan budidaya ikan keramba di Kota Jambi. Ikan yang dibudidayakan adalah ikan nila, ikan mas, dan patin Jambi. Tidak semua ikan yang dijual di Buluran merupakan ikan ‘asli’ danau tersebut, namun sebagian merupakan ikan yang ‘lolos’ dari keramba tersebut, lalu hidup liar di danau beberapa waktu dan kemudian ditangkap oleh nelayan setempat.


Dari sekian jenis ikan danau yang dijual Halimah, ikan yang tergolong mahal harganya adalah ikan lais, baung, toman dan jenggot. Harganya kadang melampai Rp30 ribuan per kilogram. Walaupun cukup mahal, pembelinya selalu ada karena ikan tersebut termasuk ikan kesukaan masyarakat Melayu Jambi. “Ikan jenis tersebut kadang tidak sempat lagi dijajakan karena sudah dipesan dan tinggal menunggu dijemput pembelinya,” terang Halimah yang mengaku penghasilannya tidak menentu dari jual beli ikan ini.


Ikan yang paling murah, tentu saja ikan lambak, icon ikan Danau Sipin. Begitu murahnya, harganya sekilonya hanya Rp.10 ribu, bahkan kadang diobral hanya Rp 7 ribu atau Rp5 ribu. Nampaknya nelayan setempat tidak mau melewatkan ikan lambak yang masuk ke jaring mereka, walaupun ikan yang terjaring tergolong anak ikan atau jumlah yang ditangkap sudah banyak.


Bicara mengenai untung yang diperoleh, Halimah pun menjawab diplomatis. “Semua kan tergantung musim. Kalau banyak ikan, yo banyak untungnyo. Kalau lagi sepi, yo itulah baru rezekinyo,” ucapnya sambil mengutarakan rasa syukurnya karena pelebaran jalan Buluran satu tahun terakhir telah membawa konsumen yang lebih banyak lagi.


Rata-rata pedagang ikan dan nelayan di kawasan tersebut tidak memiliki wawasan yang cukup tentang bagaimana menjaga kelestarian Danau Sipin. Belum terbersit di pikiran mereka bahwa ketidaklestarian alam dan prilaku overfishing (penangkapan ikan secara berlebihan), suatu saat nanti dapat memangkas habis rezeki mereka. Fenomena makin langkanya beberapa jenis ikan seperti ikan toman, dan ikan jenggot nampaknya belum menggugah hati mereka.


Sampai kapankah mereka dapat meraup rezki dari kemurahan alam tersebut? Jika penduduk sekitar Danau Sipin kurang peduli terhadap kelestarian sumber daya ikan di Danau Sipin, bisa-bisa beberapa tahun mendatang para penikmat ikan lambak atau baung,- jenis ikan yang saat ini relatif mudah didapat-, tak akan menemukan ikan itu lagi di kawasan tersebut, menyusul ikan toman yang kini sudah pergi entah kemana. (Asnelly Ridha Daulay)



21 September 2010

CANDI BAHAL PORTIBI


Here is The Temple of Bahal Portibi

A rare moment

We are happy to be here

With my sister n sons in Candi Portibi

Padang Bolak


In Oppung Sakti' s back yard


Fachri with his buffalo


With us, my brother Ucok



Smile of my father



With my family


My sons with their aunty

20 September 2010

ULAME PADANG BOLAK, NOT FOR SALE


Hampir semua daerah di nusantara memiliki makanan khas, baik itu berupa lauk pauk ataupun jenis makanan ringan (kue-kuean). Sumatera Barat dan Jawa Barat tercatat sebagai daerah yang paling banyak mempopulerkan makanan khas daerahnya. Wilayah lain yang tidak terlalu menonjol dalam membuat makanan pengisi perut ini, juga memiliki makanan khas tersendiri yang tidak terlalu beragam jumlahnya.


Demikian juga dengan Padang Bolak, salah satu kecamatan kaya hasil alam di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Di daerah yang dulunya merupakan sabana luas serta dihuni ratusan ribu ternak sapi dan kerbau ini, kini telah beralih landskap menjadi hamparan kebun karet dan sawit. Sebagaimana daerah lain dengan tradisi penggembala yang kental, masyarakat di sini menyukai makanan yang mudah diolah dan dapat disimpan lama.


Dalam menyambut lebaran, hampir setiap rumahtangga di kawasan ini membuat dodol khas Padang Bolak yang lebih dikenal dengan nama ulame. Bahan pembuat ulame sangat sederhana dan mudah diperoleh; gula merah, tepung ketan dan santan pekat. Ketiga bahan tersebut diaduk dengan api kecil hingga kental dan lengket. Ulame tersebut lalu dimasukkan ke kantong terbuat dari anyaman daun ibus (sejenis daun palem hutan) yang sudah dikeringkan.


Yang membedakan ulame dengan dodol buatan Jawa, salah satunya adalah kemasannya yang tidak berobah-robah sejak zaman dahulu kala. Berbeda dengan dodol Garut atau gelamai Payakumbuh yang kini dikemas dengan wadah plastik mungil atau kertas minyak warna-warni, ulame Padang Bolak dibungkus dengan kantong anyaman sederhana. Ukuran kantong tersebut menyamai plastik es dengan ukuran setengah kilogram.


“Dulu ulame dibungkus dengan kantong anyaman berukuran lebih besar lagi, seukuran kantong plastik 2 kilogram. Sejak beberapa tahun terakhir, kami memakai kantong anyaman yang lebih kecil dengan pertimbangan agar mudah dibagi-bagi ke anak atau kerabat yang merantau ke kota,” kata Bou Asnah, 45 tahun, seorang ibu rumah tangga di Desa Gunung Manaon II Kecamatan Padang Bolak Tapanuli Selatan, sambil menunjukkan puluhan kantong ulame yang digantung di sebuah ruangan di rumahnya.


Setiap kali lebaran mendekat, Bou Asnah membuat 30 hingga 40 kantong ulame yang sebagian besar dikirim ke Jakarta, kota dimana ketiga anaknya bekerja dan menuntut ilmu. Teman-teman anaknya menjadi pelahap setia ulame tersebut. Rasanya yang manis dan tidak terlalu berminyak membuat ulame ini disukai.


Sayangnya, ulame Padang Bolak belum dapat menjadi komoditi perdagangan karena penampilannya yang kuno tersebut. Selain itu, ulame Padang Bolak masih bertahan dengan resep aslinya, tanpa modifikasi rasa atau packaging sedangkan dodol lain sudah ditambah ingredient seperti nenas, durian atau sirsak dan diberi bentuk atau kotak yang menarik.


Nampaknya orang Padang Bolak tidak terlalu peduli pada nasib ulame mereka. Bagi mereka, ulame adalah buah tangan, tanda kasih sayang dan persahabatan. Ulame not for sale. Sebagaimana orang Batak lainnya yang tidak terlalu ‘berbakat’ untuk mengolah makanan atau menjadi pengusaha restoran, orang Padang Bolak percaya bahwa rezki mereka ada pada sektor pertanian, peternakan dan perkebunan.


Biarlah ulame Padang Bolak seperti apa adanya saat ini. Yang penting, ulame masih tetap bertahan dan dirindukan terutama setiap kali habis lebaran. (Asnelly Ridha Daulay)



In Padang


Semua Sudah Okay!!!














My sister n my sisters in law

19 September 2010

MAKAN ‘BELADASAN’ DI PANTAI PADANG



Siapa pun yang belum pernah ke pantai Padang Sumatera Barat, tentu tidak akan dapat merasakan suasana deburan ombak kencang yang menghantam bebatuan dan jerit kegirangan anak-anak yang tengah berkejar-kejaran dan bermain bola pantai. Ini hanyalah salah satu yang dapat diperoleh dengan berwisata ke Pantai Padang. Tentu masih ada yang lain.


Disamping ingin merasakan suasana pantai termasuk saat-saat matahari merunduk ke peraduannya, para pengunjung yang berdatangan dari luar daerah tidak akan melewatkan kesempatan untuk mencicipi hidangan seafood yang banyak di jual di kawasan pantai tersebut.


Pantai Padang saat ini menjadi daya tarik wisata utama bagi ibukota Provinsi Sumatera Barat. Melihat kondisi saat ini, sulit untuk mempercayai bahwa beberapa tahun lalu kondisi Pantai Padang sangat memprihatinkan. Rumah-rumah reot berdiri rapat, ribuan penduduk kawasan kumuh tak sudi untuk pindah walau dijanjikan kompensasi tanah dan uang yang layak, sampah berserakan, terkadang juga kotoran manusia di atas pasir pantai. Belum lagi para peminta-minta yang ngotot minta diberi sedekah serta para penjual makanan yang berlomba pasang harga tinggi padahal sarana yang disediakan hanya berupa meja tua atau kursi kayu reot.


Kemudian, gempa yang susul menyusul dan isu tsunami secara ajaib merubah wajah pantai Padang. Para penduduk dengan suka rela bersedia dipindahkan ke pemukiman lain yang lebih aman. Pemerintah Kota Padang di bawah managemen Walikota Padang Fauzi Bahar pun memulai proyek pembangunan dam dan pelebaran jalan. Sampah-sampah dibersihkan. Para penjual makanan membenahi diri mereka dengan menyediakan tempat berjualan yang lumayan rapi, payung pantai berwarna warni serta bangku dan kursi yang cukup nyaman untuk bersantai sambil mencicipi hidangan.


Di sini hampir semua jajanan khas pantai tersedia. Sebut saja sate, pisang bakar, jagung bakar, rujak dan hidangan seafood. Di pagi hari, para penjual tangkapan hasil laut ikut meramaikan kawasan ini. Beragam ikan segar, cumi-cumi dan kepiting dijajakan, tentu saja dengan harga yang cukup miring dan belum disiram dengan formalin. Dan dalam suasana lebaran, ketika perut banyak dijejali makanan berdaging dan bersantan, keinginan untuk makan dengan menu seafood adalah pilihan yang tepat dan perangsang selera makan yang luar biasa.


Jadilah kami siang itu, di hari ke-empat setelah lebaran makan ‘beladasan’ di Pantai Padang. Ditiup angin pantai yang sepoi-sepoi, kami berpacu melahap ikan kakap bakar, udang goreng, gulai ikan dan cumi-cumi bakar. Semua hidangan ladas dalam sekejab. Harga yang kami bayar untuk semua hidangan tersebut juga tidak terlalu mahal, belum menembus nilai dua ratus ribu rupiah.


Makan di pantai Padang dalam suasana lebaran menjelma menjadi reuni keluarga yang mengesankan.