Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

30 September 2011

SIAPA MAU JADI PENELITI?

PROFESI peneliti masih kalah pamor dibanding profesi lainnya di Indonesia. Alasannya cukup benderang; tantangan pekerjaan yang tak ringan, memerlukan pemikiran yang luas dan objektif, seringkali menuntut perjalanan ke lapangan yang cukup berat sedangkan penghasilannya tak sebesar profesi lain yang berbasiskan intelegensi. Hal lain yang membuat citranya turun adalah fakta hasil penelitian sering diabaikan alias tak digunakan atau tersimpan menjadi seonggok dokumen lapuk dan tak up to date lagi.
Meski kurang populer, segelintir orang masih menekuni kegiatan kepenelitian dengan dedikasi yang patut dipuji. Mereka adalah para guru, dosen dan fungsional peneliti yang bekerja di lembaga litbang milik daerah.
Pada Simposium Nasional Hasil Penelitian dan Inovasi Pendidikan yang diselenggarakan di Denpasar Bali tanggal 20 sampai 22 September 2011 ditampilkan karya tulis insan pendidikan dan fungsional peneliti yang disarikan dari penelitian mereka. Para guru dan dosen yang diundang pada simposium itu melakukan penelitian walau tanpa dukungan dana sepeserpun dari pemerintah.
Kepala Pusat Penelitian dan kebijakan Kementrian Pendidikan, Ir. Hendarman M.Sc. Ph.D mengatakan bahwa pihaknya berusaha untuk mempromosikan kegiatan penelitian dan menjadikan hasil penelitian sebagai dasar pengambilan kebijakan. Tentu saja tidak semua hasil penelitian dapat dijadikan kebijakan karena dirinya mengakui pula bahwa banyak penelitian yang sifatnya resarch is just for research yaitu penelitian yang hanya untuk memenuhi hasrat meneliti tanpa terkait dengan kebutuhan lingkungan. Menurutnya penelitian yang dapat dijadikan kebijakan adalah penelitian yang menyangkut permasalahan di lingkungan sekolah terutama proses kegiatan belajar-mengajarnya. “Inilah yang bisa diangkat sebagai dasar pengambilan kebijakan,” ucapnya.
Ucapan Hendarman ini benar adanya. Banyak sekali hasil penelitian di Indonesia tak terpakai karena dibuat bukan berdasar kebutuhan tapi karena ‘keinginan’, apakah itu keinginan penelitian cepat selesai, penelitian pesanan atau keinginan untuk memperoleh uang dari proyek penelitian tersebut.
Tapi sesungguhnya ada juga penelitian yang bagus yang tidak ditindaklanjuti menjadi kebijakan. Pertimbangannya macam-macam. Ada hasil penelitian yang bertentangan dengan policy kepala daerah, implementasinya terlalu berat untuk dibiayai, hingga kekurangpedulian decision maker terhadap hasil penelitian itu sendiri. Padahal di negara maju hampir semua kebijakan dibuat berdasarkan penelitian. Hal itu pula yang membuat banyak peneliti jenius Indonesia yang akhirnya menerima tawaran untuk bekerja di negara lain seperti Malaysia. Singapura, Jepang bahkan Amerika Serikat dan negara Eropa. Sebab negara ini tak kunjung menghargai profesi peneliti.
Tak heran banyak kebijakan dan program pembangunan di negara kita muncul mendadak dan kemudian hilang tak berbekas. Padahal dana yang dikucurkan untuk program itu tak tanggung-tanggung, contoh program budidaya Ikan Patin Jambal yang pernah menjadi program unggulan Provinsi Jambi.
Berkaca pada pengalaman terdahulu, seharusnya Jambi tak lagi mengabaikan hasil penelitian. Apalagi Sekretaris Daerah Provinsi Jambi Ir. Syahrasadin pernah menjadi pejabat eselon III di Badan Litbang Daerah Provinsi Jambi. Artinya, orang nomor satu di jajaran birokrasi Pemprov Jambi yang juga seorang mantan dosen ini paham benar tentang sulitnya menjadi peneliti dan betapa berharganya hasil penelitian itu.
Dengan dukungan dan penghargaan sepatutnya terhadap peneliti dan hasil kerjanya, pasti banyak yang mau jadi peneliti.
(Ir. Asnelly Ridha Daulay, M. Nat Res Ecs/ Peneliti pada Badan Litbang Daerah Provinsi Jambi dan Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia Provinsi Jambi).

17 September 2011

Menceraikan Istri di Lubuk Larangan


JANGAN pernah berbuat curang di Lubuk Larangan! Itu adalah peringatan yang selalu akan diingat oleh warga desa di sepanjang aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Merangin Jambi. Mengapa? Karena denda dan hukuman yang diberikan kepada anggota masyarakat yang memancing ikan di Lubuk Larangan atau menyembunyikan hasil tangkapan saat panen ikan, sangatlah besar. Yakni denda satu ekor sapi untuk mereka yang memancing atau mencuri ikan dan hukuman harus menceraikan istri bila ketahuan tidak menyerahkan hasil panen ke desa.
Hal ini dibenarkan oleh  Juliana, 25 tahun, seorang warga Desa Bukit Batu Kecamatan Sungai Manau. “Denda atau hukumannya memang harus besar. Kalau tidak, pasti banyak yang mencoba-coba untuk mencuri ikan dari lubuk larangan milik desa,” katanya.
Hampir semua desa yang dilalui aliran sungai di kabupaten Merangin memiliki lubuk larangan sendiri. Keberadaan tambak ikan di sungai tersebut merupakan salah satu wujud kebersamaan warga desa. Mulai dari penyebaran bibit, menjaganya hingga panen raya tiba, sangat pekat dengan unsur gotong royong. Kegiatan membuka lubuk larangan selalu menjadi ajang yang ramai dikunjungi dan merupakan hiburan tersendiri bagi warga desa.
Menurut penjelasan Joni, 32 tahun,  warga Desa Bunga Tanjung Kecamatan Pangkalan Jambu, bibit ikan yang ditebar di lubuk larangan dikumpul dari sumbangan penduduk desa. “Masing-masing kepala keluarga menyumbang Rp20 ribu” .
Selama satu tahun tak seorang pun diperkenankan untuk mengambil ikan. Setelah dianggap cukup besar, desa akan membentuk panitia untuk memanen ikan-ikan tersebut. Jumlah tenaga yang diturunkan ke lubuk sekitar 40 orang dan semuanya telah bersumpah untuk tidak akan menyembunyikan hasil tangkapan. “Kalau berani melanggar, sumpah berlaku. Cerai dengan istri,” ucapnya sambil tertawa. Sumpah yang sangat efektif karena sejauh ini belum ada yang nekad melanggarnya.
Karena benih ikan yang ditabur beragam jenisnya, ikan yang dipanen pun tak berasal dari satu jenis. Ada ikan baung, semah, tilan, palau dan Nila. Hasil panen dapat mencapai 250 kg yang kemudian dibagi tiga bagian; sepertiga untuk kas desa, sepertiga untuk karang taruna dan sepertiga lainnya dibagi adil untuk seluruh warga yang ikut menyumbang pembelian benih ikan. Bagian ikan untuk kas desa dan karang taruna selanjutnya dilelang dengan harga Rp80 ribu per kilonya dan uangnya masuk ke kas masing-masing.
Melihat kepatuhan warga desa terhadap aturan yang mereka buat sendiri, maka tidak heran bila penduduk desa di tiga kecamatan paling ujung Kabupaten Merangin ini; Sungai Manau, Bukit Jambu dan Perentak menjadi negeri yang cukup makmur. Meski infrastruktur jalan ke desa mereka tak bagus, namun kebutuhan sandang dan pangan hingga pembiayaan pendidikan anak-anak mereka tercukupi dengan baik. Kerelaan mereka bekerjasama untuk mengisi kas desa serta mencari uang untuk mendanai kegiatan pemuda-pemudi mereka patut diacungi jempol.
Walaupun Merangin dikelompokkan sebagai salah satu Kabupaten terisolir di Indonesia, daerah ini sesungguhnya merupakan negeri yang kaya potensi  sumber daya alam dan kearifan lokal warganya. Tinggal menunggu sentuhan tangan pemerintah agar semua potensi tersebut berkembang optimal. 

The Beauty of Sungai Manau






GULAI KUYUNG

pakis + siput sungai + santan, sungguh lezat dan pedas

TAK TAKUT GAGAL TANAM

12 September 2011

UKM EXIST UNJA

Not in my best performance, i hope they're not disappointed

Time was over, questions hung!

Took a photo before leaving

10 September 2011

Be A Jury


Prepare myself to be a jury in the competition of scientific writing held by Balitbangda of Jambi Province

The vice governoor of Jambi saw the props made by the contestant of scientific writing


they are smart and confident

5 September 2011

Not A Nice Reunion

I have to admit that the journey to Padang during the celebration of Idul Fitri 1432 H left something unpleasant in my heart. Indeed I wore a nice dress, was surrounded by my children and relatives, but their presence could not touch my heart.

My brothers are the source of my unhappiness. For such a long time I keep fear of their chaotic lives. I often pray they would be nicer and more religious by the time passes, but one week in Padang already convince me that they don’t make any progress. 

The oldest one doesn’t do praying, the second one is even worst since he practices heretical religious sect and the youngest one doesn’t do either praying and fasting.

When I sit in the living room of my home in Purus, I failed to see my mom’s trace there. She was not there anymore. Mama would not be happy to see her sons like that, she would fight and argue with them but Papa has let his sons doing whatever they like. He has no energy anymore to fight.

The disappointment has killed all happiness that I should feel during Idul Fitri. I indeed cannot steer their lives. But… how can I keep silent to see them fall down into the steep ravine?