Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

14 Juli 2010

JOGYA DI MATA (SEORANG) JAMBINESE


Bukan sekali saya ke Jogya namun kesempatan untuk berkunjung ke kota itu lagi selalu menimbulkan rasa antusias yang sulit digambarkan. Akankah Jogya masih sama seperti empat tahun lalu, atau bahkan dua tahun lalu ketika saya terakhir kali berkunjung ke sana?


Jogya adalah kota idaman karena ragam budayanya dan semua serba murah di sini; harga makanan, buku, kaos dagadu dan batik, perhiasan perak, tembaga atau kuningan, sewa penginapan, bahkan sewa becaknya. Perjalanan wisata ke keraton plus galery batik, perhiasan dan tempat menarik lainnya dengan mencarter becak, hanya dikenai tarif Rp. 50 ribu per hari. Alangkah murahnya.


Dibanding kota saya Jambi, maaf… Jogya masih di atasnya. Jalan-jalannya yang lebar dan bersih, keheningan di perkampungan yang mencirikan karakter orang Jawa yang kalem dan kulturis, banyaknya pilihan tempat kunjungan wisata baik itu wisata sejarah, alam dan belanja, semua itu merupakan daya tarik yang melimpah untuk pendatang, bahkan bagi saya yang hanya seorang PNS, yang duitnya tidak banyak dan beruntung dikirim ke sana karena tugas kantor.


Saya membayangkan betapa banyaknya orang yang diuntungkan dengan membanjirnya para wisatawan ke Kota Jogya. Di keraton Sultan Hamengkubuwono X, pada hari Sabtu (10/7/ 2010), ribuan orang datang untuk melihat salah satu kerajaan Jawa yang masih bertahan di abad modern ini. Walau tidak banyak yang dapat dilihat, karena sebagian besar kompleks kerajaan tertutup untuk umum namun rasa ingin tahu masyarakat masih besar. Alun-alun Jogya diramaikan oleh para pedagang kaki lima, guide amatir, dan tukang becak yang menawarkan jasa angkutan berkeliling kompleks keraton.


Menurut Jono dan Kasdi, penarik becak asal Gunung Kidul yang jasanya kami pakai untuk mengantar berkeliling kota pada hari itu, jumlah tukang becak yang beroperasi di kawasan keraton mencapai enam ribu orang. “Umumnya mereka berasal dari Gunung Kidul dan Klaten,” kata Jono, 43 tahun.


Persaingan di antara tukang becak ini sangat keras. Jangan coba-coba mangkal di sekitar keraton karena wilayah tersebut sudah dikuasai oleh kelompok penarik becak tertentu. “Kami yang beroperasi di wilayah luar keraton, hanya boleh mendrop penumpang dan kemudian pergi. Jangan coba-coba mencari penumpang di sana,” jelas Kasdi yang sudah menarik becak sejak 15 tahun lalu itu.


Persaingan terjadi juga di level guide atau pemandu wisata. Begitu membayar tiket masuk keraton yang Rp.3000 per orang dewasa, seorang pemandu yang juga tukang sobek karcis langsung mendekat, dengan tata krama yang lumayan memikat, menawarkan untuk membawa berkeliling lokasi di kompleks keraton yang diperbolehkan untuk pengunjung umum seperti balkon tempat tamu undangan duduk pada perayaan 1 Syuro, etalase kaca yang memperagakan pakaian para sultan, pangeran mahkota, putri sultan hingga para prajurit, lalu menaiki tangga menuju balkon tempat penobatan sultan (dan pelantikan Soekarno sebagai presiden RI I dulu) serta beberapa tempat lainnya. Akhirnya, pemandu mengarahkan saya dan teman-teman ke tempat kerajinan batik dan lukisan yang dikelola Abdi Dalem. Konon di sini, si pemandu akan mendapat komisi dari setiap barang yang dibeli oleh wisatawan yang dipandunya.


Persaingan di level pedagang lebih halus, namun bukan berarti tidak ketat. Para pedagang, pemilik galeri batik, perhiasan atau lukisan, menjanjikan komisi yang cukup menggiurkan untuk pemandu atau penarik becak yang membawa wisatawan berbelanja ke tempatnya. Dengan kualitas barang yang relatif sama, saya beranggapan tidak perlu harus berputar-putar mendapatkan baju batik atau Kaos Dagadu namun Kasdi dan Jono justru melakukan hal itu.. ”Di toko itu tidak bagus, Bu. Di sini barangnya bagus dan murah lagi,” kata Jono berpromosi menunjuk ke galeri langganannya.


Saya terpaksa menahan hati kecut. Urusan shopping yang bisa diselesaikan 1 jam menjadi berjam-jam gara-gara Jono dan Kasdi. Namun, itulah hidup yang harus dijalaninya untuk mendapatkan sedikit bonus dari pemilik toko-toko tersebut, dan pengorbanan waktu dari pihak kami.


Walaupun penarik bacak di Jogya tidak selugu dua tahun lalu ketika terakhir kali saya berkunjung ke kota sang sultan, meskipun lebel harga yang tertera di toko-toko mulai meroket dan harus pintar-pintar menawar, namun Jogya masihlah unik di mata saya yang Jambinese (orang Jambi). Dimana lagi saya akan menemukan keragaman yang begitu lengkap hanya di sebuah kota?


Sebagai Jambinese, saat ini saya hanya dapat berangan-angan, kapankah Jambi akan berderap menuju kota yang layak dikunjungi karena memiliki keunikan sendiri? Saya menjadi ingat pengalaman membawa beberapa teman dari Jakarta ke galeri batik di kawasan Kebun Jeruk Jambi. Sang teman hanya tertegun-tegun memandang koleksi batik yang ada di galeri tersebut tanpa berniat membelinya. Melihat lebel harganya yang di atas Rp 100 ribu per potong baju, si teman malah nyeletuk. “Batik Jambi mahal ya...?”.


Dibanding dengan batik Jawa yang diproduksi massal, motif yang makin kaya karena karya kreatif pengrajinnya dan dapat dijual dengan harga Rp30 ribu per potong baju, tentu saja batik Jambi akan sangat mahal di mata orang luar. Dengan kondisi begitu, bagaimana Jambi akan bersaing?


Sebagai tuan rumah, saya menjadi bingung, mau dibawa kemana lagi tamu-tamu ini untuk memperkenalkan Jambi. Mau dibawa makan siang, pilihan yang tersedia hanyalah rumah makan Padang, Jawa atau restoran menu Eropa. Rumah makan khas Jambi yang tersisa hanyalah dendeng batokok Kerinci. Saya belum tahu adakah rumah makan di Jambi yang menyediakan hidangan gulai laksa, gangan palapa/umbut dan bekasam, hidangan kesukaan Orang Seberang itu? Kalau di Jogya ada restoran durian yang menyediakan menu durian setiap harinya (padahal Jogya tidak dikenal sebagai penghasil durian), mengapa Jambi yang nota bene penghasil durian terlezat di Sumatra tidak memiliki restoran durian?


Dimata saya yang Jambinese, kota Jogya adalah kota yang inspiratif. Mungkin juga bagi orang-orang lain yang sempat berkunjung ke sana. (Asnelly Ridha Daulay).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar