Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

16 Agustus 2010

THE SMELL OF ROSES


Ibuku pergi satu tahun lalu. Walau penyakit itu begitu dahsyat mendera tubuhnya, di atas peraduannya yang terakhir, di visi yang selalu lekat di ingatanku, bibirnya melukiskan sebuah senyum. Ibuku pergi dengan ikhlas dan tenang. Kami pun menangis diam-diam, memandangi keayuan di wajahnya yang tidak akan bisa kami lihat lagi.


Ibuku adalah inspirasi bagiku. Sebagai seorang istri, dia sabar dan cerdik. Ibu tidak pernah menyerah pada semua keputusan papa, dia berusaha mencari jalan lain agar papa membatalkan keputusan yang tidak disetujuinya. Tidak selamanya ibu bisa memenangkan pertarungan ”kebijakan” itu, namun aku menghitung...satu, dua, tiga... dan beberapa lagi ’kekalahan’ ibu itu, menjadi penyesalan bagi keluarga kami belakangan hari.


Ibu adalah teman terbaikku. Ibu marah ketika aku mengambil keputusan yang membuyarkan impian keluarga kami. Namun ibu adalah yang pertama memberikan dukungannya ketika aku terpuruk dan kalah. Dia memaafkan kekeraskepalaanku yang tidak mendengar nasehatnya.


Dia membanggakanku ke siapa saja karena aku, putrinya yang cantik dan pintar, berhasil keluar dari keterpurukan itu. Aku tahu diam-diam ibu sering memandangiku seperti memandangi seorang putri yang dipujanya. Beberapa minggu menjelang kepergiannya, tiba-tiba ibu mendaratkan ciuman di pipiku tanpa diringi kata sepatahpun. Ciuman ringan itu sangat kuat membekas di hatiku.


Ibu juga banyak menyimpan kepedihan. Aku adalah temannya, aku adalah satu-satunya tempat dia mencurahkan keluh kesah di tahun terakhir hidupnya. Maaf kan aku ibu, satu atau dua kali aku pernah mengatakan dirimu tidak tabah. Engkau telah menata hatimu dengan luar biasa tegar selama ini, mengapa aku tidak dapat menerima kerapuhanmu saat itu? Pada saat diam-diam penyakit itu telah bersemayam dan menghancurkan kekuatanmu!


Dalam kenanganku pada dirimu, aku melihat diriku. Engkau mengharapkan diriku untuk menjadi pengganti dirimu bagi adik-adikku, penjaga papa yang masih sangat berduka, penolong bagi kerabat kita yang kehilangan seorang saudara yang amat perhatian dan dermawan. Aku mungkin tidak bisa menjadi sesabar dirimu ibu,... melayani tamu-tamu yang datang, memasak makanan dan kue yang lezat untuk mereka, atau menemani mereka bercerita di ruang keluarga kita yang sederhana.


Namun aku akan memenuhi harapanmu untuk menjadi seorang yang dermawan, bahkan aku bertekad melebihi kemurah-hatianmu ibu, karena Allah memberiku rezki harta yang lebih lapang. Kudedikasikan semuanya untukmu. Semoga keshalehanku cukup menjadi penolongmu.


Ibu, aku berdoa di Tanah Haram, di akhir shalatku, di setiap aku mengenangmu, agar Allah memberi dirimu teman-teman malaikat yang baik hati, ramah, periang dan suka bercerita riuh di beranda rumahmu di sana yang dipenuhi bunga-bunga.


Di Ramadhan ini, aku mencium lagi wangi bunga mawar itu. Engkau kah yang datang ibu? Aku menyadari tak mungkin bertemu dirimu lagi di taman rumahku, yang bebungaannya adalah pemberianmu. Aku sudah sangat senang bila harum mawar itu adalah dirimu.


The smell of roses. I hope it’s yours, mom….

(15 Agustus 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar