Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

13 Oktober 2010

Every One will love Balitbangda

Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Jambi merupakan salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkup Pemerintah Provinsi Jambi yang masih eksis pasca penerapan PP No. 41 tahun 2007. Harapan tentu saja sangat besar, yaitu agar badan yang saat ini dipimpin oleh Fauzi Syam S.H., M.H. ini mampu melakukan penyusunan kebijakan dan melaksanakan kebijakan daerah di bidang penelitian dan pengembangan daerah, sesuai dengan tugas utamanya yang telah diatur dalam Peraturan Gubernur No. 31 tahun 2008.


Dua tahun telah berlalu sejak pemberlakukan PP No. 41 tahun 2007 tersebut. Sebagaimana SKPD lain yang masih berkutat untuk keluar dari problem besar mereka; rendahnya kualitas sumber daya pegawai, minimnya program kerja yang benar-benar menyentuh kepentingan masyarakat serta penyelesaian administrasi keuangan yang sering berujung pada temuan bahkan kasus korupsi dan lain-lain, Balitbangda pun menghadapi persoalan yang kurang lebih sama. Akan tetapi beban instansi ini bertambah berat dengan adanya pencitraan negatif tentang dirinya; banyak orang mengatakan bahwa Balitbangda Provinsi Jambi adalah instansi para pejabat dan pegawai buangan.


Citra negatif ini muncul dan pasti ada alasannya. Namun tulisan ini tidak akan membahas hal tersebut. Yang lebih penting adalah bagaimana membangkitkan Balitbangda dari keterpurukannya dan segera menjadi instansi Pemerintah Provinsi Jambi yang didengar hasil penelitian/kajiannya, menjadi faktor penentu apakah sebuah kebijakan perlu dilanjutkan atau tidak, atau apakah sebuah program pembangunan dapat mulai dilaksanakan atau perlu disempurnakan dulu sebelum diluncurkan oleh sebuah SKPD.


Guna meraih pencapaian tersebut, tentu saja perlu kerja keras. Sebenarnya kinerja Balitbangda selama ini tidaklah buruk-buruk amat. Beberapa hasil penelitiannya cukup mendapat respon seperti kajian tentang uji kelayakan program ikan patin, kajian tentang kinerja penyuluh atau kajian tentang pola penggaduhan sapi. Walau tidak diserap seratus persen, kajian tentang pola penggaduhan sapi, oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dijadikan bahan untuk menyusun pola gaduhan ternak pemerintah yang lebih menguntungkan masyarakat. Dan saat ini pola gaduhan tersebut telah disahkan dalam bentuk Peraturan Gubernur No 7 tahun 2010 tentang pola gaduhan ternak pemerintah daerah .


Jika Balitbangda ingin membenahi dirinya, ada beberapa hal yang mendesak untuk dilakukan dalam waktu dekat ini. Yang pertama adalah perlunya penyusunan database tentang judul dan hasil penelitian yang telah dilaksanakan sejak berdirinya Balitbangda atau setidaknya sejak lima tahun terakhir. Jika data utama ini tidak ada, orang-orang bisa jadi meragukan bahwa selama ini Balitbangda tidak mengerjakan apa-apa. Namun jika database ini dipunyai oleh Balitbangda, sangat banyak pihak yang tertolong; para mahasiswa, para peneliti, pejabat pemerintah ataupun warga masyarakat lainnya yang ingin mendapatkan informasi berkaitan dengan penelitian tersebut.


Walaupun hasil penelitian cukup banyak, itu bukan patokan bahwa nama Balitbangda akan berkibar. Perlu dibentuk sebuah tim untuk mengkaji kembali tentang hasil peneltian tersebut. Salah satu yang perlu dikaji adalah apakah penelitian/kajian tersebut mendapat respon SKPD dan masyarakat. Tidak usah takut bila respon tersebut bersifat negatif atau kecaman. Respon negatif dapat berfungsi sebagai vitamin yang dapat membangkitkan gairah para peneliti dan para pejabat yang kebijakannya diteliti atau dikaji. Sepanjang pimpinan Balitbangda dapat mengelola ‘konflik’ tersebut dengan baik, endingnya akan berbuah manis untuk kepentingan masyarakat Jambi.


Yang juga cukup penting diperhatikan, sudahkan Balitbangda atau para penelitinya mempublikasikan penelitian atau kajian mereka dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat? Jangan-jangan para peneliti Jambi hanya memfokuskan perhatiannya pada publikasi di jurnal ilmiah, padahal peran media massa sangat besar untuk menyampaikan pesan penelitian tersebut kepada pejabat pemerintah atau masyarakat. Perlu diketahui bahwa selama ini pihak media kesulitan mendapatkan narasumber yang tepat untuk menanggapi top news saat itu. Jika saja kebutuhan pihak media untuk mendapatkan narasumber yang kompeten dipertemukan dengan keinginan Balitbangda untuk mempublikasikan hasil penelitiannya dan didengar oleh decision makers di Provinsi Jambi atau masyarakat, ini akan menjadi blessing in disguise (berkah tersembunyi) bagi penguatan peran Balitbangda di masa datang.


Penguatan peran Balitbangda tidak akan terwujud jika kurang mendapat dukungan dari Gubernur, Kepala Bappeda atau pimpinan SKPD lainnya. Selama ini cukup kental penolakan atau kekhawatiran terhadap hasil kajian yang menyangkut kebijakan pembangunan daerah. Sesungguhnya tidak perlu khawatir jika semua sama-sama menyadari bahwa kajian tersebut bertujuan untuk mendukung kegiatan pemerintah agar lebih baik, efisien dan fokus untuk kepentingan masyarakat. Selama penelitian dilakukan dengan metode dan pengambilan kesimpulan yang benar, apalagi ditambah dengan penyampaian (komunikasi) yang tidak menghakimi, maka Insya Allah, everyone will love Balitbangda. (Ir. Asnelly Ridha Daulay, M. Nat Res Ecs/ Kandidat Peneliti pada Balitbangda Provinsi Jambi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar