Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

2 Desember 2010

MERAYU GURU DAN MURID BERWISATA KE ANCOL


Dulu, berwisata bukanlah sesuatu yang teramat saya sukai. Sebagai kutu buku, saya lebih senang mendekam di kamar, membaca tumpukan komik atau majalah kumpulan cerpen sebelum kembali membuka buku pelajaran dan menghafal istilah-istilah Latin Biologi, pelajaran favorit saya kala duduk di bangku SMA.

Saya mulai menyukai acara jalan-jalan ketika berkesempatan menetap di Queensland, salah satu negara bagian di Australia tempat saya menyelesaikan program pendidikan S2. Mungkin karena ini adalah kunjungan pertama ke negara asing, saya menghabiskan akhir pekan menjelajahi ibukotanya dengan berjalan kaki atau naik bus, menyusuri taman kota yang rapi dengan deretan pohon elegan serta kursi yang merayu untuk diduduki.

Sering juga saya sekedar berjalan-jalan ke pusat kota, cuci mata dengan melihat bule-bule yang tinggi besar bersileweran, mengamati orang aborigin ngamen dan membuat lukisan. Tak lupa saya memotreti rumah ala western, museum, gedung pemerintahan hingga area kampus.  Pergi ke kawasan China Town bagi saya juga bermakna wisata, sambil mencari bahan makanan Indonesia, beli buku dan pernak-pernik di pasar rombeng, mengintip para peramal di tendanya hingga bermain pasir di Gold Coast yang berombak biru dan bersiih sekali.

Ternyata saya telah keranjingan berjalan-jalan.

Kebiasaan berkeliling setiap akhir pekan itu lalu saya bawa ke Indonesia. Bersama suami dan anak-anak, saya mulai dapat menikmati wisata ke pantai Padang yang sebelumnya saya anggap biasa saja karena saya lahir serta tumbuh di Padang atau shopping kerajinan lokal di Bukittinggi setiap kali keluarga kami mudik lebaran.  

Pada kesempatan lain, saya dan keluarga menikmati hamparan padang rumput dengan ratusan sapi yang digembalakan di Padang Bolak Sumatera Utara. Kami juga mengunjungi kota kecil Muaro Bungo, Kuala Tungkal atau menginap di sebuah villa di kaki perkebunan teh Kayu Aro Kerinci.  

Sudut-sudut Kota Jambi juga tak luput dari penjelajahan. Sebut saja Danau Sipin, dengan luas sekitar 42 hektar di tengah Kota Jambi dimana terdapat sebuah restoran ala rumah panggung yang berandanya menghadap ke danau, hang-out bersama teman seraya bersantap siang dengan menu khas Jambi. Kadang kami mendekati para penjual ikan danau dan membeli ikan Toman, Lambak, atau Baung untuk dibawa pulang.  

Detil dan kekhasan objek wisata tanah air meninggalkan kesan unik, memperkaya sekaligus meringankan (beban) hati saya. Penghargaan terhadap area wisata negeri sendiri ternyata muncul dari pengalaman menetap sebentar di luar negeri. Negeri saya ternyata memiliki keunikan yang mengesankan.

Di Aussie area wisata dan paket yang disediakan ditata demi kemudahan pewisatanya. Brosur berisi arah dan biaya berwisata ke Goaldcost dengan menggunakan kereta api atau bus mudah ditemukan. Brosur dan leaflet wisata ada di mana-mana, di kampus, stasiun kereta atau losmen. Di tanah air brosur wisata sejenis secara eksklusif hanya tersedia di travel biro, itu pun didominasi tawaran paket wisata ke luar negeri atau umroh/haji. Bahkan di Bandara Sultan Thaha Jambi pun, saya jarang melihat brosur wisata tanah air.

Tidak heran jika di provinsi saya ini, paket wisata ke tiga negara Malaysia, Singapore, dan Thailand lebih populer dibanding paket wisata ke Bali atau Ancol. Yang cukup mengherankan, peminat untuk wisata tersebut ternyata tidak selalu dari kalangan atas. Pekerja swasta kelas menengah, pegawai negeri hingga guru adalah deretan profesional yang berwisata ke negeri tetangga tersebut.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Apakah orang Indonesia lebih suka memperkaya bangsa lain lewat kunjungan wisata tersebut? Ternyata jawabannya sederhana saja. ”Mereka (agen perjalanan) menawarkan paket wisata singkat, terjangkau dan mengurusi semua keperluan perjalanan kami, “jelas Juslina tentang liburan ke luar negeri yang dia ikuti bersama kolega gurunya. “Kami kan tidak memiliki keluarga di sana, jadi harus ada yang mengelola perjalanan kami,” ucap guru berusia 42 tahun ini, yang sebelumnya hanya berwisata ke kota dimana dia memiliki sanak famili.

Paket wisata ke luar negeri tersebut diakuinya sebagai ‘tidak terlalu istimewa’. “Pemandangannya biasa saja. Beli oleh-oleh tidak bisa banyak karena tidak sesuai selera dan mahal! Hanya saja ada perasaan bangga karena kami sudah sampai ke luar negeri,” ucapnya diikuti tawa, mengenang perjalanan wisata selama 5 hari tersebut.

Seandainya ada travel biro yang menyediakan paket wisata dalam negeri dengan pelayanannya senyaman paket ke luar negeri tersebut, apakah ada yang tertarik? Yuni, wakil kepala sekolah di sebuah SMA di Kota Jambi ternyata menyukai ide tersebut.  “Setiap akhir tahun ajaran, sekolah membawa anak-anak berlibur. Selama ini saya dan guru-guru lain yang mengawal kegiatan tersebut dan repotnya minta ampun. Maklum mengurusi abege (Anak Baru Gede),” katanya.

Jika dihitung jarak tempuh Jambi-Jakarta yang hanya 55 menit dengan pesawat udara, paket kunjungan ke Ancol sebagai salah satu contoh, bisa dikemas lebih murah, praktis dan menarik. Misalnya paket wisata 3 hari dengan biaya Rp2 juta,- sudah termasuk biaya hotel, makan, transport pesawat dan bus dari/ ke Ancol-, lalu ditawarkan ke sekolah-sekolah atau kantor pemerintah dan perusahaan swasta, paket wisata tersebut akan lebih menarik dan terjangkau. Peminatnya mungkin akan membludak lagi bila ada diskon pada bulan-bulan tertentu, atau jika pesertanya melebihi 10 orang, atau harga miring pada off-peak season. Dengan biaya yang lebih murah, lebih banyak kalangan guru, murid dan profesinal kelas menengah yang mampu menikmati keragaman area wisata milik bangsanya sendiri.

Tentu saja, untuk mengemas paket wisata singkat, hemat dan informasinya sampai ke sekolah dan kantor-kantor, butuh kerjasama yang baik antara biro perjalanan dan pengelola area wisata. Jika paket mungil ini dapat dikemas dengan memikat, tentu pewisata di provinsi lain di luar Jakarta terutama dari kalangan sekolahan dan pekerja berpenghasilan menengah akan bergegas menyambutnya.  (Penulis: Asnelly Ridha Daulay).

2 komentar:

  1. Pasti asyik banget tuh kita sebagai murid jika kita diajak para guru kita berwisata ke ancol dengan murid2 yang lain...Semangat bu kita happy2....

    BalasHapus