Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

26 Desember 2011

PETANI CERDAS, KUNCI PENTING KEBERHASILAN PEMBANGUNAN KARET JAMBI



Tanaman karet merupakan penyumbang kemakmuran ekonomi masyarakat Jambi yang sangat penting. Selain sejarahnya lebih tua dari tanaman sawit yang beberapa tahun terakhir digadang-gadangkan sebagai pilar ekonomi wilayah ini, luas kebun dan jumlah petani/kepala keluarga pekebun karet juga lebih besar. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, sampai tahun 2010 luas kebun karet di Jambi 646.878 hektar dan petani terlibat 251.403 KK. Bandingkan dengan sawit yang luasnya baru mencapai 341.457 hektar dan petani terlibat baru sekitar 177.802 KK.
Karet ternyata juga berjasa dalam perkembangan pers di negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini. Cerita ini dimulai ketika pada tahun 1957, Gubernur Jambi Singedekadane memberi izin kepada Persatuan Pedagang Karet Jambi yang diketuai Raden Yasin (alm) untuk menjual langsung karet ke Singapura. Sebagian keuntungan penjualan karet disepakati akan digunakan untuk membeli  beberapa unit mesin percetakan.
Dibawah pengelolaan Perusahaan Daerah (PD) Dharma Karya, mesin cetak bermerek Handle Bergh  itu digunakan untuk mencetak dokumen dan buku-buku milik Pemerintah Provinsi Jambi serta beberapa harian lokal Jambi yang eksis waktu itu seperti Koran Mingguan Berita dan Ampera. Mesin bersistim intertip/linetip ini menggunakan material timah yang sangat banyak sebagai bahan baku penyusun huruf. Meski berteknologi sederhana, keberadaannya sangat membantu wartawan dalam mempercepat penyampaian informasi karena tidak perlu lagi  ke Padang, Palembang atau Jakarta untuk mencetak koran.
Dari cerita di atas terlihat, di awal berdirinya Provinsi Jambi petani karet pernah jaya. Mereka hidup makmur, bahkan dapat memberi sumbangan materi bernilai tinggi kepada pemerintah dan pers waktu itu.
********
 Berpuluh tahun kemudian, kehidupan petani karet Jambi makin sulit. Merekalah kini yang berada di pihak yang membutuhkan sumbangan. Saat ini terdapat 118.000 hektar kebun karet yang harus diremajakan dan petani menunggu bantuan pemerintah untuk memulainya.
Petani karet sepertinya tak berdaya mengatasi masalah yang ada. Harga karet yang tak stabil, kuatnya cengkraman tengkulak dan buruknya infrastruktur jalan, merupakan keluhan paling sering diungkapkan. Keluhan tersebut benar adanya dan sulit dibantah. Pemerintah juga telah berupaya keras untuk meminimalkan masalah tersebut.
Dukungan yang diberikan oleh pemerintah untuk program karet khususnya lima tahun terakhir sebenarnya cukup besar. Setiap tahun anggaran peremajaan karet tertuang dalam APBD Provinsi Jambi. Dana terkait juga dialokasikan di APBN Murni. Sebagai tambahan, untuk tahun 2012 Dirjen Sarana Prasarana Perkebunan Kementan RI juga menyediakan dana perluasan areal untuk membuka kebun karet baru.
Masalahnya sebenarnya bukan semata pada kurangnya dana pembangunan karet karena besaran  dana seringkali bersifat relatif. Sistim penganggaran pemerintah kita sangat terikat kepada peraturan keuangan yang ada. Kebijakan yang diambil di luar sistim, misalnya untuk memintas proses tender, akan menyeret pejabat negara kepada tuduhan penyalahgunaan wewenang atau tindakan korupsi. Praktis tak banyak yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan ini bila pemerintah pusat tidak lebih dulu merevisi peraturan keuangan tersebut.
Benturan ini sering terjadi di Jambi. Pada awal tahun para petani telah diinstruksikan untuk membersihkan lahan namun hingga pertengahan tahun bibit atau saprodi belum bisa didistribusikan disebabkan proses tender belum selesai. Ketika bahan tersebut datang, minat petani telah menguap melihat lahan mereka yang kembali dipenuhi ilalang. Inilah yang menyebabkan sebagian target peremajaan karet pada era kepemimpinan Gubernur Drs. H. Zulkifli Nurdin tak tercapai.
Sementara sebagian petani bergantung kepada bantuan pemerintah, sisanya tak dapat melepaskan diri dari tengkulak. Tengkulak atau pengijonlah yang mereka datangi ketika membutuhkan dana segar meski harga yang ditawarkan lebih rendah dari harga di pasar lelang atau pabrik.
Selalu menyalahkan faktor-faktor lain di luar diri sendiri bukanlah sikap yang bijak dan dewasa. Petani karet Jambi seharusnya bangga dan bangkit, mereka memiliki keunggulan komparatif yang besar. Dibandingkan dengan kehidupan petani tanaman pangan yang sangat tergantung pada kemurah-hatian musim dan  harga jual komoditi lebih rendah, kondisi petani karet jauh lebih baik karena harga jual lebih tinggi dan hasil panen bisa disimpan lama (non-perishable).
Sejatuh-jatuhnya harga, petani karet masih bisa bernafas. Tidak seperti petani lobak dan tomat di Kerinci yang sering membiarkan sayurnya tak dipanen karena nilainya jatuh di pasaran. Pada saat harga karet cukup tinggi seperti pada minggu ke-4 Desember 2011 dimana harga karet slab bersih 100 persen dijual Rp28.400/kg, slab bersih 70 persen Rp19.880/kg dan Rp14.200/kg untuk slab bersih 50 persen, petani bisa meraup keuntungan yang besar. Jika penghasilan tersebut dikelola dengan baik, tentu keadaan petani karet tidak semiris yang sering diungkap di media massa.
Namun kenyataanya masih banyak petani yang belum mengelola kekayaannya dengan baik. Menguapnya uang penjualan karet terkait dengan gaya hidup mereka yang konsumtif. Sudah jamak diketahui setiap kali harga karet melambung tinggi, show room mobil dan motor di Kota Jambi dan kota sekitarnya dibanjiri pembeli yang berasal dari kalangan petani karet. Demikian juga mal yang ada di kota, tak luput menjadi tempat petani menghamburkan uangnya. Meski tak semua begitu, kecendrungan demikian terlihat jelas di masyarakat Jambi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kunjungannya ke Jambi pada 22 September 2011 telah mengingatkan hal itu. Presiden mengharapkan keuntungan penjualan karet dapat dikelola dengan baik sehingga saat harga karet dunia anjlok, tidak membuat petani sulit.
Melihat kepada gambaran yang ada di masyarakat dan nasehat presiden di atas, penyuluhan petani sudah seharusnya menempatkan porsi lebih besar untuk materi manajemen usaha dan keuangan. Mendidik petani untuk lebih cerdas berwirausaha sangat penting dilakukan. Banyak petani kita yang belum merasa perlu menginvestasikan kembali sebagian keuntungan untuk membeli saprodi dan areal tanam baru.
Jika melihat kepada materi penyuluhan yang ada, baru sebatas hal-hal bersifat teknis budidaya karet. Jika petani Jambi cerdas dalam menanam dan merawat karet namun ceroboh dalam menggunakan uangnya, kesejahteraan sulit untuk diwujudkan.
Selain kurang bijak menggunakan uangnya, petani kita juga belum cerdas dalam memanfaatkan sumber-sumber pembiayaan ringan. Lembaga keuangan/ekonomi mikro (LKEM) di desa-desa belum dimanfaatkan secara optimal. Hampir semua desa telah memiliki koperasi atau kelompok simpan pinjam. Pemerintah lewat berbagai departemen pun telah menyalurkan modal awal untuk mendukung pertumbuhan LKEM.
Kini tinggal usaha pemerintah daerah mendorong petani untuk memanfaatkannya. Dana LKEM dapat digunakan sebagai talangan sehingga petani tak perlu mengemis kepada pengijon atau berharap bantuan bibit dari pemerintah yang berkisar Rp3 juta sampai Rp 5 juta per hektarnya. Jika LKEM  dapat dikembangkan dan diperkuat, petani memiliki tempat mengadu saat butuh modal. Pengijon dapat disingkirkan dari mata rantai pemasaran karet di Jambi.
 Kini sudah waktunya Pemerintah Provinsi Jambi  bersama-sama Pemerintah Kabupaten dan Kota menyusun program pembangunan karet yang lebih berorientasi mencerdaskan petani karet, dengan tidak meninggalkan kegiatan pembangunan sarana jalan, pasar lelang karet dan industri hilir yang telah lama diidamkan. Dengan program pembangunan yang menempatkan petani sebagai mitra sejajar, mudah-mudahan visi  membangun karet untuk kesejahteraan rakyat Jambi dapat segera diwujudkan. (Penulis : Asnelly Ridha Daulay)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar