Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

6 Oktober 2014

Yang terlihat di luar, tidak sama dengan yang di dalam

SEORANG teman dekat menasehatiku, "Jangan cepat menilai dari penampilan luar seseorang. Belum tentu ia seburuk itu ..." katanya dengan setengah menggoda dan sedikit nada menghakimi. Sebelumnya ia berkata aku  terlalu cepat memutuskan ketika melihat sikap negatif seseorang.

Dia mungkin benar ..., tapi bisa juga salah. Apalagi yang kami perbincangkan saat itu tentang situasi politik akhir-akhir ini, tentang pergulatan di parlemen, arena yang tersisa untuk diperebutkan oleh partai politik di negeri kami.


Seperti kalian tahu, negara kami kembali bergolak. Tahun 1990-an paska jatuhnya Soeharto situasi seperti ini pernah terjadi. Mereka yang mengaku dari golongan reformis mengangkat Gus Dur menjadi presiden, lalu sepakat menjatuhkannya dua tahun kemudian. Amin Rais cs lalu bersekutu menaikkan Megawati, sosok yang mati-matian mereka hindari untuk jadi presiden pada 2 tahun sebelumnya meski partainya memenangkan pemilu. Pelarian pilihan itu pun tak bertahan lama, Mega selalu dicerca sehingga ia menjadi presiden yang di cap gagal karena (dengan izin DPR kala itu) menjual aset negara penting.


Kini hal yang mirip terjadi. Rakyat memilih Jokowi sebagai presiden, unggul tipis (dan mungkin karena itu menjadi sangat menyakitkan) atas Prabowo, seorang mantan jenderal dan anak bangsa yang hidupnya selalu dinaungi keberhasilan. Jokowi tidak disukai oleh kelompok yang tak memilihnya dan pertarungan balas dendam pun berlanjut.


Maka keluarlah komentar saling tuding dan saling bela. Arena berbalas pantun yang membuat masyarakat bingung. Namun tidak bagiku yang dianugerahi Tuhan pikiran kritis dan hati yang istiqamah (Alhamdulillah...). Aku menilai seseorang dari ucapan dan perbuatannya, karena aku tak bisa membaca hati orang lain, apalagi mereka yang bicara rumit dan berputar-putar itu ada di Jakarta.


Dan inilah kesimpulanku. Aku percaya kepada sebagian dari mereka dan menolak menaruh kepercayaan kepada sisanya. Mereka yang tak kupercayai itu terlihat baik, namun ucapannya tak sesuai dengan perbuatannya. Dan itu tidak sekali terjadi, sudah berulang-ulang.


Maka jangan salahkan rakyat bila mengambil keputusan sama denganku. Karena sudah seharusnya apa yang terlihat di luar, sama dengan yang bermukim di dalam hati. Politik memiliki komitmen yang harus dijaga, bukan bermain dengan bola-bola liar yang menyuburkan prasangka dan akhirnya kebencian.


Politik bisa jadi tidak menyebalkan jika dikelola dengan elegan. Itulah hakekat yang sebagian anggota parlemen tidak tahu atau lupa mengkajinya. Atau mungkin sebagian dari mereka tidak layak untuk duduk di sana?


Yah ....mereka harus dipulangkan ke daerahnya kalau begitu. Karena kami tak berkuasa atas hal itu, biar Allah yang mengatur pemulangan mereka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar