Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

14 April 2011

CINTA SETAMAN (bag 1)


Kerudung berwarna off white dengan tumpukan kembang  kecil berkibar melawan angin yang berhembus kencang.  Sambil merunduk di belakang punggung  Kharis, Mandy meraih ujung kerudungnya dan menariknya ke depan agar rambutnya tak tersingkap. Hujan akan turun dengan lebatnya. Setelah beberapa minggu di dera kabut asap, akhirnya kotanya akan menikmati lagi tetesan air langit. Tetesan air yang akan menyapu asap ke daerah lain yang kering, atau kalau cukup deras akan bisa mematikan titik api di hutan yang gagal dikendalikan oleh pemerintah provinsi. 

Kharis memacu kendaraannya lebih kencang, seperti biasa Mandy menahan diri untuk tidak berteriak. Percuma saja, paling  Kharis akan bilang .... Tenang aja Yu! Untungnya sekarang mereka sudah berada di bengkolan yang menuju ke lorong kecil rumahnya.

” Terima kasih!”  ucapnya tersenyum yang disambut anggukan Kharis. Cowok yang baru menyelesaikan SMA nya beberapa bulan lalu itu berbalik dan  dalam hitungan detik menghilang dibalik tikungan.

Mandy mencari kunci yang terselip di salah satu kantong tas nya. Namun dari dalam, pintu mendadak di buka. Mama menyambutnya dengan wajah yang masih ber make-up.

”Assalamualaikum. Mama pulang lebih cepat ya?”

” Alaikum salam! Tadi dari kantor Mama dan teman-teman jenguk Pak Burhan yang sudah 4 hari di opname. Habis itu Mama gak ke kantor lagi, langsung belanja” jawabnya sambil melangkah menuju ruang tengah. Di meja terhampar beberapa potong kain batik motif lokal Jambi yang kelihatannya baru dibeli. 

Mandy tidak heran lagi dengan kebiasaan Mama mengoleksi kain batik. Dulu sebelum ada batik sutra, mama membeli batik katun biasa dan harganya lebih murah. Sekarang seleranya beralih ke batik sutra yang harganya jauh lebih mahal.

”Bagaimana?” tanyanya sambil mengangkat kain yang berwarna tanah merah muda.

” Bagus. Warnanya cerah!” tanpa menyebutkan warna itu terlalu muda untuk mama yang sudah beranjak usia kepala lima.

”Mama beli untuk kamu. Kita dapat undangan dari keluarga Pak Kemas, putri tertuanya menikah minggu depan. Kalo gak salah, kalian pernah satu SD kan?” kata mama sambil menyampirkan selendang batik  ke pundak  Mandy. Revina memang teman satu kelas selama beberapa tahun di SD tapi selepas itu tidak ada lagi komunikasi diantara mereka, apalagi setelah Papa meninggal secara mendadak. Mama mungkin masih kerap bertemu dengan teman-teman lamanya ketika Papa masih pejabat di pemerintahan tapi Mandy tidak. Hubungannya dengan masa lalu terampas begitu saja.

   ”Jangan lupa cari atasannya! Yang putih kayaknya cantik dipadu dengan warna kain itu” ucapnya sebelum Mandy masuk kamar. Mamaku yang cantik dan glamour... bisik Mandy. Untungnya mama tidak menikah lagi setelah papa meninggal. Sebenarnya cukup banyak yang  naksir dan berminat melamar. Walau mama keras dan suka memaksa, Mandy tidak mau membantah. Mama sudah berkorban dengan menolak lamaran-lamaran itu agar tidak ada orang ketiga diantara dirinya dan putrinya.

Kalau mama sampai repot mencari kain batik yang cocok untuknya, pasti pesta ini bukan pesta biasa. Pak Kemas adalah pejabat tinggi di Pemerintahan provinsi dengan lingkaran pergaulan yang sangat luas. Pestanya pasti di convention centre hotel terbesar yang ada di kota ini. Semua pejabat, orang kaya, tokoh politik dan golongan masyarakat terpandang hadir di sana. Mama tidak akan membawanya kalau bukan dengan misi khusus. Mudah-mudahan pestanya tidak menjemukan seperti pesta teman mama dua minggu lalu. Ketika itu dia hanya berdiri bengong sendirian sementara mama reuni dan ngobrol asyik dengan teman-temannya. Sampai sekarang pun Mandy masih berpendapat bahwa pesta kawin bukan untuk dihadiri gadis lajang seperti dirinya, kecuali kalau temannya sendiri yang menikah.   

Tidak ada lagi gadis seusia dia yang pergi ke pesta bersama mama. Hanya dia! Dan sampai kapan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar