Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Jambi, Indonesia
wonderful life starts from a wonderful heart

6 April 2011

Hutan di Tengah Kota. Kapan Jambi Punya?

Masyarakat Jambi boleh bangga karena bunga bangkai (Amorphophalus titanum) yang merupakan salah satu daya tarik utama Kebun Raya Bogor ternyata berasal dari Muara Emat, Kerinci. Selain itu, juga ada  pohon Bulian yang sudah sulit mendapatinya di hutan Jambi. 


Tidak dari Jambi saja, di Areal seluas 87 hektare itu memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan manca negara. Sebagian koleksi tumbuhan itu sudah sangat sulit ditemukan di daerah asalnya. Wajar bila Kebun Raya Bogor disebut sebagai suatu keajaiban; sebuah hutan di tengah kota. 


Beruntunglah Bogor yang memiliki sebuah ‘hutan’ di tengah kotanya. Puluhan tahun lalu, tak ada yang menyangka Bogor akan seramai ini; berpenduduk mencapai 949.066 jiwa yang terdiri dari warga lokal, mahasiwa dari seluruh penjuru nusantara dan kaum pekerja Jakarta yang memilih tinggal di sana, Bogor kini menjadi sebuah kota yang padat dan sembrawut. Syukurlah ada Kebun Raya Bogor sehingga masih ada tempat ‘lari’ dari kebisingan tersebut serta daun yang rimbun untuk menyerap emisi karbon. 


Setiap akhir pekan Kebun Raya Bogor ramai dikunjungi keluarga atau kelompok masyarakat yang ingin menikmati udara segar. Dengan tarif masuk yang hanya Rp9.500 per orang dewasa tersebut, para olahragawan atau  foto model pun ikut memanfaatkan kebun cantik bergaya Inggris klasik itu  sebagai tempat latihan atau pengambilan gambar. Hamparan rumput yang luas, kolam dengan air mancurnya, bunga yang tengah mekar hingga pepohonan tua dengan akar menyembul merupakan daya tarik utama kebun yang dilengkapi Herbarium Bogoriense, Museum Zoologi  dan perpustakaan tersebut.


Ide cerdas membangun hutan buatan tersebut ternyata tidak orisinal milik Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles seperti dipahami banyak orang selama ini. Kebun Raya Bogor telah ada pada pemerintahan Prabu Siliwangi (1474-1513) dari Kerajaan Sunda. Samida atau hutan buatan tersebut ditujukan untuk menjaga kelestarian lingkungan, tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Selain samida di Bogor, dibangun pula samida serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Namun Raffles-lah yang menata ulang kebun itu hingga bergaya kolonial dengan bantuan W. Kent, seorang ahli botani.


Sebagai wilayah yang dulu dikenal dengan hutan yang lebat, dan sekarang telah kehilangan jutaan hektar hutannya karena beralih fungsi menjadi perkebunan,  lahan pertanian dan pemukiman, Jambi patut memperjuangkan konsep ‘hutan untuk rakyat’ dalam bentuk yang lebih riil. Dengan jumlah penduduk berjumlah 3.088.618 jiwa (tahun 2010) serta pertambahan populasi pertahun sekitar 1,8%, Jambi membutuhkan hutan kota atau kebun raya tempat warganya menghirup oksigen, bercengkerama dengan keluarga atau sekedar berolahraga ringan.


Jika melihat kondisi Kota Jambi saat ini, nyaris tak ada areal terbuka yang memenuhi syarat sebagai pusat rekreasi warganya. Halaman kantor Gubernur Jambi, walaupun memiliki taman cantik namun terlalu sempit dan rumputnya nyaris gundul. Taman kota di Kota Baru tak terawat, demikian juga dengan arena eks MTQ di Palmerah. Kondisi taman kota di kabupaten lain di Provinsi Jambi kurang lebih sama, tak berkembang karena kurang pembinaan dan dukungan dana.


Sebenarnya keinginan untuk menjadikan hutan atau taman sebagai bagian esensial dari sebuah kota telah ada di Jambi. Hutan Kota yang berada di Jalan Baru Jambi sebagai contohnya, namun pengembangannya stagnan. Juga telah muncul inisiasi warga di 17 desa di Kabupaten Merangin Jambi, untuk menjadikan  49.514 hektare lahan di desa mereka sebagai hutan desa. Langkah-langkah serupa itu, menjadikan hutan sebagai bagian yang terintegrasi dengan masyarakat harus didukung pemerintah. Belum terlambat untuk memulainya sekarang. (Asnelly Ridha Daulay).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar